#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Giampaolo Melek Teknologi
18 June 2019 13:37 WIB
MILAN – Jalinan kerja sama antara Marco Giampaolo dan AC Milan tinggal menunggu waktu. Kontraknya bersama UC Sampdoria telah resmi berakhir, sekarang sang pelatih siap membuka lembar baru di San Siro. Giampaolo diharapkan bisa membawa kembali sukses dan kejayaan bagi I Rossoneri. Bila Gennaro Gattuso mampu menyuntikkan mental dan identitas, Giampaolo akan mengangkat Milan ke level berikutnya lewat kecakapan taktik.

Bukan rahasia bila kelemahan terbesar Gattuso adalah ketidakmampuan menemukan sistem yang tepat di lapangan. Pola 4-3-3 andalannya tak begitu cemerlang dalam style maupun hasil. Sedangkan saat berganti skema, permainan tim justru anjlok. Kedatangan Giampaolo diharapkan bisa mengobati kekurangan tersebut. Rekam jejak pria 51 tahun itu terbilang impresif: membawa Empoli FC finis sepuluh besar pada musim 2015/16 lewat sepak bola menyerang, kemudian menjadikan Sampdoria salah satu kuda hitam Seri A dalam tiga tahun terakhir.

Giampaolo juga sosok pelatih modern. Dia menyukai bantuan teknologi saat menjalani sesi latihan, mulai dari pantauan drone sampai analisis video. Beberapa kali dalam sepekan, Giampaolo akan mengumpulkan suluruh pemain dan stafnya untuk mengevaluasi perkembangan berdasarkan hasil rekaman. “Metode ini sama pentingnya dengan latihan di lapangan,” ujarnya.


Baca Juga :
- Insigne: Saya Ingin di Napoli Seumur Hidup
- Giampaolo Ingin Piatek seperti Quagliarella

Keahlian lain yang dimiliki Giampaolo adalah manajemen hubungan dengan skuat. Misalnya saat jeda pertandingan, dia takkan memberi banyak komentar yang bisa membebani para pemain, hanya sedikit saran saat laga berakhir. Evaluasi menyeluruh baru dilakukan dalam sesi latihan berikutnya dengan kepala dingin. Lalu, Giampaolo juga sangat menghargai para staf, terutama tim medis dan fisioterapis yang vital dalam menjaga kebugaran pemain.


Baca Juga :
- Ramsey Datang untuk Melayani Ronaldo
- Blueprint Permainan Inter Sudah Tergambar

Giampaolo memang tidak setenar Antonio Conte, Carlo Ancelotti, atau Maurizio Sarri, namun kemampuannya tak pelu diragukan. Mendapatkan komposisi skuat yang lebih berkualitas di Milan, Giampaolo bisa menerapkan skema 4-3-1-2 secara maksimal. Krzysztof Piatek dan Patrick Cutrone akhirnya bisa main bersama di lini depan, sementara Lucas Paqueta menemukan posisi naturalnya sebagai trequartista. Jika Suso tak meninggalkan San Siro, dia bisa jadi seorang mezzala (setengah sayap) seperti halnya Dennis Praet di Sampdoria asuhan Giampaolo.

Juru taktik kelahiran Swiss itu lebih menekankan aspek teknik daripada fisik. Dia punya konsep bernama “11 versus 0”, yang artinya para pemain harus mampu mengembangkan aksi sampai ke gawang lawan tanpa terganggu. Jika lawan kesulitan merebut bola dari timnya, maka kontak fisik bisa diminimalisir.*** Dari Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA