#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
INFOGRAFIS: Michel Platini Masuk Bui
19 June 2019 07:58 WIB
PARIS - Mantan Presiden UEFA Michel Platini kembali berurusan dengan hukum. Legenda sepak bola Prancis ini ditangkap oleh Badan Anti-Korupsi Kepolisian Yudisial Prancis (OCLCIFF) di Nanterre, Selasa (18/6), pagi waktu setempat. Penangkapan ini dilakukan atas dugaan keterlibatan pria 53 tahun itu dalam praktik jual-beli suara pada pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2022 yang dimenangi Qatar.

Pada hari yang sama, OCLCIFF juga menahan Sophie Dion, mantan penasihat olah raga Nicolas Sarkozy saat dia menjabat sebagai Presiden Prancis. Claude Gueant, mantan Sekretaris Jenderal Istana Kepresidenan Prancis di era Sarkozy, juga diperiksa oleh pihak penyelidik dalam kapasitasnya sebagai saksi. Tapi, dia tidak ditahan.

Platini yang pernah berkibar sebagai gelandang serang Juventus FC pada era 1980-an, terpilih sebagai Presiden UEFA pada Januari 2007. Dia sempat menduduki jabatan tersebut selama lebih dari delapan tahun sebelum dilengserkan pada Oktober 2015 karena kasus korupsi.


Baca Juga :
- Kualifikasi Piala Dunia 2022, Ini Harga TIket Indonesia Lawan Malaysia dan Thailand
- Lolos dari Sanksi, Man-City Terjerat Denda Rp 5,4 Miliar

Platini terbukti menerima suap 1,35 juta paun dari mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, sehingga dijatuhi sanksi empat tahun oleh Komite Etik Independen FIFA. Dia telah menjalani sanksi tersebut selama tiga setengah tahun dan hukumannya akan berakhir Oktober mendatang.

Tapi kini, Platini terancam hukuman yang jauh lebih berat karena dicurigai terlibat dalam praktik jual-beli suara pada pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2022. Pemilihan yang dilakukan pada Desember 2010 itu dimenangi oleh Qatar. Meski begitu, ada sejumlah kontroversi di balik kemenangan negara Timur Tengah tersebut.

Blatter, yang masih menjabat sebagai Presiden FIFA saat pemilihan itu dilakukan pada 2010, menuding Platini telah mengkhianati kesepakatan rahasia di antara mereka. Saat itu keduanya sepakat untuk memilih Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Platini sendiri pernah mengisyaratkan bahwa dirinya mungkin pernah berjanji kepada pihak AS untuk memilih negara itu. Tapi, dia berubah pikiran setelah mengikuti sebuah pertemuan di hotel Elysee pada November 2010. Pertemuan yang dibungkus sebagai acara makan siang bersama tersebut digagas oleh Sarkozy yang saat itu menjabat Presiden Prancis.

Pertemuan itu juga dihadiri oleh putra mahkota Qatar saat itu, Tamim bin Hamad al-Thani, yang kini menjabat sebagai Emir. Dia didampingi oleh Sheikh Hamad Bin Jassem yang ketika itu merupakan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar.

Menurut majalah France Football, pertemuan itu membahas sejumlah topik penting. Di antaranya rencana pembelian klub Ligue 1, Paris Saint-Germain (PSG), oleh investor Qatar yang akan dilaksanakan pada Juni 2011, serta penambahan saham pihak Qatar di perusahaan media Prancis, Lagardere Group. Mereka juga membahas rencana pendirian saluran olahraga BeIN Sports untuk menyaingi stasiun televisi Canal+

Agar semua rencana itu bisa terlaksana, dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2022, Platini harus berjanji untuk tidak memberikan suaranya kepada AS melainkan Qatar. Tapi, Platini membantah tudingan tersebut.

“Saya sudah memutuskan untuk memilih Qatar sebelum acara makan siang tersebut dan saya menemui Nicolas Sarkozy untuk menyampaikan keputusan itu. Saya tidak tahu bahwa perwakilan dari Qatar juga akan hadir di sana,” katanya.

Platini juga tidak menampik bahwa dirinya sempat berniat memilih AS sebelum diyakinkan oleh proposal yang diajukan pihak Qatar. Tapi, mantan Wakil Presiden FIFA di era Blatter, Jack Warner, pernah mengungkapkan adanya surat elektronik (e-mail) yang membeberkan bahwa Qatar diduga telah “membeli” Piala Dunia 2022.


Baca Juga :
- PSSI Kena Semprit FIFA, Kongres Pemilihan Tetap Harus Januari 2020
- Voting Pemain Terbaik Dunia FIFA, Indonesia Pilih Virgil van Dijk

Upaya yang dilakukan Qatar untuk membawa Piala Dunia ke Timur Tengah untuk kali pertama memang menuai banyak kecurigaan. Seorang jaksa asal AS, Michael Garcia, pernah mengungkapkan bahwa sejumlah faktor di Qatar kemungkinan tidak memenuhi standar yang dituntut oleh FIFA. Tapi, dia juga mengakui tidak menemukan pelanggaran  yang dilakukan tim bidding Qatar.***RIJAL ALFURQON DARI BERBAGAI SUMBER

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA