#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Ramainya Renovasi untuk Asian Games 2018
26 Oktober 2016 05:10 WIB
713
0

Menjelang penyelenggaraan Asian Games XVIII/2018 di Jakarta dan Palembang, suasana olahraga nasional terasa ramai. Bukan pada persiapan atlet-atletnya, melainkan  pada proses renovasi infrastrukturnya, terutama yang berada di seputar Jakarta.
Untuk menggelar pekan olahraga empat tahunan bagi bangsa-bangsa Asia ini kebutuhan sarana dan prasarnanya memang menuntut persyaratan yang terus meningkat, baik dalam kuantitas maupun kualitas. “Mendekati standar Olimpiade,” kata Rita Subowo, mantan ketua KOI dan KONI yang kini menjadi salah satu Wakil Presiden OCA (Dewan Olimpiade Asia).

Karena itulah sejumlah arena pertandingan di seputar Jakarta harus direnovasi. Terutama stadion utama dan arena-arena lain di sekitar kawasan  GBK (Gelora Bung Karno) Senayan yang memang sudah cukup tua, warisan pemerintah era Presiden Soekarno untuk penyelenggaraan Asian Games IV/1962.

Di samping itu velodrom (stadion balap sepeda) di Rawamangun dan arena olahraga berkuda di Pulo Mas, Jakarta Timur, juga harus dibangun ulang. Perombakan velodrom hanya “sedikit heboh” dari segi konstruksi dan arsitektur karena adanya perubahan kemiringan dan panjang lintasan balap demi memungkinkan tribun penonton bisa menampung lebih banyak penonton.
Perombakan arena olahraga berkuda  untuk menjadi gelanggang khusus “equestrian”  (ketangkasan dan tunggang serasi) agak lebih heboh.  Komuniitas  olahraga pacuan kuda menolak. “Renovasi jangan sampai menghilangkan nilai sejarahnya,” kata Alex Asmasubrata, Ketua Umum Pordasi (Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia) DKI Jakarta.

Kehebohan yang lebih terasa muncul di Senayan. Dana  Rp 500 milyar yang sudah disiapkan pemerintah  melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga ternyata batal. Kemudian diketahui Preisden Joko Widodo menyeteujui dana renovasi  GBK diambil dari anggaran Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat). Kabarnya itu bagian dari anggaran pembuatan MRT (Kereta Bawah Tanah) yang salah satu stasiunnya berada di dekat Istora Senayan.

Tenis vs sofbol
Belakangan muncul kehebohan baru menyangkut nasib arena tenis di kawasan GBK karena sampai masuk ke wilayah hukum formal.  Pengurus Pusat Pelti (Persatuan Tenis Lapangan Indonesia) menggugat sejumlah pihak, termasuk Presiden, Sekretaris Negara, dan pengelola GBK, melalui Pengandilan Negeri Jakarta Pusat (TopSkor , 19 Oktober).

Dasar gugatan, arena tenis di luar stadion terbuka dan tertutupnya, akan digusur dan digantikan dengan lapangan sofbol  (yang merupakan cabang olahraga baru Asian Games). “Kerugian yang dimbulkan akibat alih fungsi  ini sangat besar,” kata Maman Wirjawan, ketua umum PP Pelti, dalam jumpa pers.

Ia benar. Seperti dikatakan juga oleh pemain nomor satu Indonesia saat ini, Christopher Rungkat, dengan hanya terdapat stadion, tanpa lapangan-lapangan pendukung, tidak akan bisa digelar turnamen internasional, seperti Piala Davis dan Piala Fed.  Anak-anak muda dan usia dini yang selama ini belajar, berlatih dan bertanding di sana juga akan kehilangan arenanya.

Kehilangan besar yang akan terjadi adalah pada nilai sejarahnya. Kawasan tenis tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari kompleks GBK yang dibangun pemeritah era Presiden Soekarno untuk membuktikan kebesaran dan kehebatan bangsa Indonesia melalui AG IV/1962. Kalau digusur, berarti digusur pula sejarah indah olahraga Indonesia.

Para pemain tenis terbaik Indonesia pada  waktu itu memang hanya menyumbnangkan satu medali perak dan satu perunggu, tapi itulah yang melengkapi hasil perolehan kontingen Indonesia sehingga merebut peringkat kedua, hanya di bawah juara umum Jepang.

Lebih dari itu, empat tahun kemudian, dari Senayan lahir bintang-bintang tenis sepeeti Lany Kaligis, Lita Sugiarto, Atet Wiyono, Yustedjo Tarik, Tintus Arianto, Yayuk Basuki, Suzanna Anggakusuma, Angelique Widjaja, yang prestasinya luar biasa. Mereka tak hanya bersinar di level Asian Games, tapi juga Piala Davis, Piala Fed, bahkan Wimbledon dan Perancis Terbuka.

Pertanyaan yang segera bisa dibalikkan, prestasi apa yang sudah dibuat sofbol Indonesia sampai saat ini? Medali atau prestasi apa pula yang bisa diharapkan dari tim sofbol kita pada AG 2018 nanti?

Karena itu sebaiknya pemerintah mempertimbangkan kembali keputusan alih fungsi tenis Senayan ini. Jangan hanya berpikir praktis dan pragmatis karena pertandingan tenis AG 2018 akan digelar di Palembang. Berpikirlah lebih panjang dan idealis. Ingatlah pula fatwa Presiden pertama kita, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.*


Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 
 

BERITA TERKAIT

Komentar
ARTIKEL SEBELUMNYA