#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Begini Kisah Pahit Sodikin yang Berujung Manis Lewat Angkat Besi
28 Oktober 2016 23:18 WIB
0

CIBINONG - Sodikin tak kuasa menahan air mata. Dia sedih ketika menceritakan perjalanan hidupnya yang pahit. Legenda atlet angkat besi ini tak pernah menikmati masa kecilnya seperti kebanyakan orang.

Solihin mengaku masa kecilnya penuh lika-liku. Getir dan cadas. Dia harus banting tulang untuk bisa bertahan hidup. Kedua orang tuanya hanya petani miskin di Bekasi.

"Bapak saya hanya petani yang menggarap sawah milik orang. Penghasilannya kecil, tidak mencukupi membiayai 12 anaknya. Makanya, saya bekerja menjadi pencetak batako sejak usia 7 tahun untuk membantu mencari biaya makan sehari-hari," kata Sodikin di sela-sela Kejuaraan Nasional Angkat Besi Terbuka Satria Remaja II di Gelanggang Kesenian dan Olahraga Cibinong, Bogor, Jumat (28/10/2016).

Hidup serba kekurangan memaksa Sodikin terus bekerja dan tidak sempat mengenyam sekolah. "Saya masih ingat untuk mencetak batako itu kan dibutuhkan tenaga yang kuat. Karena, usia saya masih kecil, saya harus melompat dari atas menekan besi yang menekan batako biar padat," katanya.

Tapi, ia berhasil dan lulus. Lewat angkat besi seutas prestasi diraih. Ia menyabet lima medali emas SEA Games beruntun sejak 1989-1997. Sodikin kini menangani klub angkat angkat besi Patriot Kota Bekasi.

Sodikin benar-benar tak sempat menikmati masa kecilnya seperti anak seusianya. Pada usia 12 tahun, dia yang hobi bermain bola harus bekerja sebagai buruh pabrik.

"Dari bekerja sebagai pencetak batako, saya terus bekerja di pabrik. Dan, saya main bola hanya saat hari libur untuk mencari tambahan uang. Lumayan kan, saya mengantongi uang Rp 1500 untuk sekali bertanding," ceritanya.

Nasib seseorang tidak ada yang tahu. Saat berlari di Stadion Patriot Bekasi, Sodikin yang bertubuh kecil tak sengaja bertemu pelatih angkat besi, Irwan Siregar.

Saat itu, kata Sodikin, Irwan memanggilnya dan mengatakan dirinya lebih cocok menjadi atlet angkat besi dari pada jadi pemain bola dengan alasan bertubuh kecil.

"Saat itu, saya sempat menanyakan angkat besi itu olahraga apa? Lalu pak Iwan menunjukkan kepada saya anak didiknya yang sedang latihan. Dan, dia sempat mengatakan saya bahwa melalui olahraga angkat besi itu saya bisa bersekolah dan mengubah kehidupan," kenangnya.

Sejak itu, Sodikin mulai menjalani latihan angkat besi secara serius. Hasilnya, Sodikin mampu mengukir prestasi di tingkat nasional. "Dari hasil kerja keras itu saya terus mengirimkan uang hadiah maupun saku selama menjalani pelatnas kepada kedia orang tua. Dari situlah kehidupan keluarga saya mulai berubah. Ayah bisa membeli rumah dan sawah," ujarnya.

Sodikin bukan hanya sukses meraih medali emas di SEA Games dan beberapa event internasional. Tetapi, dia menyelesaikan kuliahnya di Unisma dan meraih gelar Sarjana Olahraga tahun 2011. "Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan kuliah dan menjadi pegawai di Telkom. Hidup saya dan keluarga sudah berkecukupan. Dan, saya, istri dan kedua orang tua juga telah menunaikan ibadah haji. Semua ini berkat olahraga angkat besi dan perjuangan saya yang tidak pernah menyerah dalam menjalani latihan saat menjadi atlet," kata Sodikin yang memperistri mantan lifter Ni Made Widiani.

Ternyata Sodikin yang memegang teguh dan menjalankan ajaran islam bukan hanya sukses sebagai lifter. Dia juga berhasil mendidik ketiga anaknya menjadi lifter. "Saya selalu berpesan kepada anak-anak agar berjalan di sesuai ajaran agama Islam. Itu merupakan kunci untuk selamat di dunia dan akhirat," katanya.

Putri pertama Sodikin, Sonia Febriani (23 tahun) bukan hanya sukses meraih gelar juara pada Kejuaraan Angkat Besi Remaja Asia di Uzbekistan 2011 tetapi berhasil meraih gelar Manajemen Informatika di Universitas Gunadarma.

Putri keduanya, Dewi Mayassa (19) juga lifter dan tercatat sebagai mahasiswi di Unisma jurusan Komunikasi. Dan terakhir, Nyomar Art Isamil (15) yang menjadi pelajar SMAN 8 Bekasi juga seorang lifter kelas +78kg pada Kejurnas Angkat Besi Satria Remaja II di Cubinong Bogor.

Sodikin yang dipercaya sebagai pelatih Tim Angkat Besi Olimpiade London 2012, Asian Games Incheon 2014 terus mengabdikan diri terhadap olahraga angkat besi. Begitu juga istrinya yang tercatat sebagai pegawai PLN Bekasi.

"Kami adalah keluarga angkat besi. Jadi, saya dan istri akan terus melatih untuk menciptakan lifter berprestasi di tingkat internasional," ujar Sodikin.

Di klub Patriot Bekasi, Sodikin menampung 30 lifter yang didominasi dari keluarga kurang mampu. Dia bukan hanya berhasil menjadikan putrinya juara tetapi juga telah mencetak anak didiknya meraih prestasi. Di antaranya, Dewi Syahfitri yang meraih juara Youth Olympic Games Singapura 2011.

"Melatih angkat besi itu kami anggap sebagai ibadah. Dan, kami akan terus mendidik anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu agar bisa mengubah kehidupan keluarganya melalui olahraga angkat besi," katanya.

BERITA TERKAIT

Penulis
news
Ada istilah 'Umroh' atau Haji' dalam wartawan olahraga. Parameternya ini: Piala Eropa dan Piala Dunia. Alhamdulillah, saya termasuk beruntung. Saya pernah menjadi saksi kedua event akbar itu. Indahnya bisa berada di antara para jurnalis dunia.
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA