#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Lampu Kuning untuk Asian Games 2018
17 November 2016 05:00 WIB

Suasana gembira dan optimistis sangat terasa mencuat pada hari penutupan Asian Games XVII/2014 di Incheon, Korea Selatan, dua tahun lalu. Di sana hadir tak hanya pihak tuan rumah tapi juga para tokoh dan pejabat Indonesia, tuan rumah berikutnya,  dan juga petinggi OCA (Dewan Olimpiade Asia). Jadi tampaklah di sana Rita Subowo, Ketua KOI (Komite Olimpiade Indonesia), Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin.

Dalam sambutan singkat setelah serah terima bendera OCA sebagai pertanda Jakarta dan Palembang akan menjadi lokasi penyelenggaraan  AG 2018, Sheikh Ahmad al Fahd al Sabah, Ketua OCA, sambil tersenyum  mengatakan, “AG 18 pada tahun 2018, angka yang baik”.

Masuk akal bagi mereka yang senang pada hitung-hitungan tanggal dan hubungannya dengan keberuntungan.  Apalagi  pekan olahraga bagi bangsa-bangsa Asia yang akan kali kedua kali berlangsung di Indonesia setelah edisi keempat pada 1962 itu menurut rencana akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 8-8-2018.

Tapi, apa yang terjadi setelah Sang Waktu berjalan cepat selama dua tahun? Sangat berbeda dengan Olimpiade 2008 di Beijing yang pembukaannya digelar pada tanggal 8-8 dan ditutup dengan menuai sukses besar, persiapan AG 2018 di Indonesia sangat mengkhawatirkan.
Dari sisi keuangan, OCA menganggap pemerintah Indonesia, yang mendanai seluruh biaya perhelatan ini, dianggap sangat lamban dalam memenuhi  rangkaian kewajiban yang sudah diatur dan disepakati ketika sama-sama menandatangani  Host City Contract  atau Perjanjian sebagai Tuan Rumah.
 
Seperti yang sudah tersiar luas di media, baru dana jaminan 2 juta USD dan dana Pemasaran 15 juta USD ditransfer, tapi dana 30 juta USD untuk Penyiaran terkatung-katung, bahkan minta dinego lagi. Bahkan kabarnya, karena INASGOC (Panitia Penyelenggara AG 2018) kesulitan dana, OCA justru berbaik hati memberi pinjaman.

OCA juga sangat cemas dengan penyiapan  infrastruktur, terutama  yang berada di Jakarta. Proses renovasi sarana di Gelora Bung Karno menjadi makin lambat karena ada gugatan dari PP Pelti terkait rencana alih fungsi lapangan tenis menjadi arena sofbol.  Demikian pula dengan perombakan stadion untuk balap sepeda di Rawamangun  dan olahraga berkuda di Pulomas.

Kasus Sosialisasi
Rendahnya kemajuan persiapan Indonesia sebagai tuan rumah AG 2018 karena itu sudah layak ditempatkan dalam zona lampu kuning. Belakangan komunitas olahraga nasional merasa gerah setelah mengetahui  manajemen KOI tengah bermasalah.

Komite yang seharusnya menjadi jantung kehidupan INASGOC dan mediator antara pemerintah, OCA, dan komunitas internasional Asia itu harus berhadapan dengan hukum terkait program Sosialisasi AG 2018.

Kegiatan dengan biaya sekitar Rp 68 milyar pada pengujung tahun 2015 itu tidak bisa diselesaikan dengan baik. Sekitar Rp 35 milyar terpaksa dikembalikan kepada Kemenpora, dan dari yang sudah terpakai, sekitar Rp 8,6 milyar belum bisa dipertanggungjawabkan.

Akibatnya, sebagian pengurus KOI dan sejumlah staf Kemenpora dikabarkan masih harus berjuang keras untuk mempertangungjawabkan, dan ini agaknya menjadi bagian dari kinerja Kementerian pimpinan Imam Nahrawi sepanjang 2015 mendapat vonis disclaimer  dari BPK. 

Masalah ini telah menjadi perhatian khusus para anggota Komisi X DPR RI. Yayuk Basuki, mantan bintang tenis Indonesia yang pernah merebut tiket perempat final Wimbledon dan kini menjadi anggota Komisi itu,  beberapa kali menyatakan keraguannya tentang kualitas, efektivitas, dan efisiensi pelaksanaan program Sosialisasi AG 2018 tersebut.

Kondisi yang tidak nyaman ini sudah tentu membuat kinerja KOI dalam memperkuat dan mempercepat persiapan Indonesia sebagai tuan rumah AG 2018 tidak bisa maksimal. Bahkan dikhawatirkan sepak terjang INASGOC  akan semakin mengendur karena sekretaris jenderalnya, Sylviana Murni, mengundurkan diri karena ikut bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta.

Untuk alasan  yang sama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga tidak lagi aktif sebagai Gubernur DKI Jakarta. Padahal, perannya dalam ikut menyiapkan Jakarta sebagai tuan rumah AG 2018 jelas sangat besar. Meski, semua media mencatat, Ahok pernah mengeluh dan mendorong agar lebih baik seluruh perhelatan AG 2018 diadakan di Palembang.

Semua ini mau tidak mau ikut memengaruhi suasana batin para atlet yang disiapkan untuk beprestasi maksimal dalam pesta olahraga internasional yang melibatkan 45 negara Asia itu. Apalagi mereka sudah dipusingkan dengan ketersediaan sarana dan prasarana untuk berlatih yang menjadi sangat minim akibat proses renovasi yang terlambat dan dukungan dana yang seret.  

Masa depan AG 2018 makin tidak menentu dan bisa saja OCA tiba-tiba memutuskan untuk memindahkannya ke negara lain, bisa menjadi kenyataan. Hanya saja, dalam sisa waktu yang tidak sampai dua tahun, adakah negara yang siap menggantikan posisi Indonesia?
“Cina siap,” kata Hifni Hasan, mantan Wakil Sekjen KOI pada era kepemimpinan Rita Subowo. Dengan semua infrastruktur kelas dunia yang dimilikinya, dengan SDM yang sudah berpengalaman menggelar Olimpiade 2008 serta AG 1990 dan 2010, ditambah sumber dana melimpah, Cina memang sangat siap untuk menggantikan posisi Indonesia.

Disinilah seharusnya semangat kebangsaan kita tergugah. Ayo ikut peduli, ikut mengawasi, dan ikut  membantu agar AG 2018 tetap berada di bumi Indonesia. Tentu bukan hanya AG yang terselenggara ala kadarnya, melainkan AG yang baik, seperti harapan Sheik Ahmad.*


Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 
  


 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA