#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Aroma Optimistis dari Arena Bulu Tangkis
25 November 2016 04:10 WIB
287
0

Turnamen bulu tangkis Cina Terbuka 2016 di Fuzhou yang berakir Minggu (20 November) sudah pasti membuat publik dan otoroitas olahraga di Negeri Tirai Bambu itu bermuram durja. Sungguh momen yang sangat langka ketika tidak satu pun gelar bisa direbut para pemain Cina. Padahal, turnamen berlabel Super Series Premier itu digelar di kandang sendiri. Mereka merebut tiga tiket fnal, tapi tidak satu pun menghasilkan gelar, termasuk dari pemain tunggal nomer duanya, Chen Long.

Kita tidak perlu tahu hukuman apa dalam kebiasaan mereka yang akan diberikan kepada “duta-duta bangsa yang memalukan negara” karena urusan yang lebih utama adalah mengungkapkan rasa gembira atas diraihnya dua gelar oleh para pemain Merah Putih. Pasangan ganda campuran juara Olimpiade 2016, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir, meraih gelar pertamanya sepulang dari Rio de Janeiro, dengan di final menundukkan pasangan tuan rumah, Zhang Nan/Li Yun Hiu, dalam tiga gim yang menegangkan, 21-13, 22-24, 21-16.

Lebih menggembirakan lagi, pasangan ganda putra Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya, setelah menggulung pasangan tuan rumah di semifinal, berhasil pula mengukir kemenangan di final dengan mengalahkan pasangan Denmark, Mathias Boe/Carslten Magunusen dalam dua gim yang tak kalah seru, 21-18, 22-20. Memang sayang para pemain Indonesia yang lain belum bisa meraup hasil optimal dalam tiga sektor lain, terutama dari dua nomor tunggal. Akan tetapi, dua gelar dari turnamen kelas tertinggi di negeri yang harus disebut gudang kekuatan dunia itu, sudah sangat patut disyukuri.

Keberhasilan duet Marcus/Kevin juga menebarkan aroma optimisme yang lumayan kuat bahwa dominasi Indonesia di sektor ganda putra yang terhenti pada Olimpiade 2012 dan belum bisa disambung lagi pada Olimpiade 2016, menunjukkan tanda-tanda positif untuk mencuat lagi. Penjelasan dari PP PBSI tentang pasangan Marcus/Kevin yang tidak panik, bahkan lebih gigih ketika ketinggalan poin, menjadi keunggulan tersendri dibanding kebanyakan rekan-rekannya. 

Begitulah dulu hebatnya pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan sampai bisa merebut medali emas Olimpiade 2008. Sebelumnya, seperti itu pula ketangguhan fisik, teknik dan mental duet Ricly Subagja/Rexy Mainaky maupun Camdra Wijaya/Tony Gunawan sehingga mereka bergantian menjuarai Olimpiade 1996 dan 2000. Sayang, justru dua pasangan lebih solid, Tjun Tjun/Johan Wahyudi dan Christian Hadinata/Ade Chamdra, mendominasi dunia ketika  bulu tangkis belum menjadi bagian dari Olimpiade.  

Obsesi Wiranto
Setidaknya hasil di Fuzhou itu cukup untuk membuat kita, dan tentunya juga jajaran PBSI, tetap berdiri tegak  menghadapi begitu banyak tantangan di depan. Terutama Asian Games 2018 di kandang sendiri, Olimpiade 2020 di Tokyo, dan dua kali perebutan Piala Thomas sebelumnya. 

Tapi, kalau kita bertanya kepada Jenderal TNI (Purn) Wiranto, yang kini menggantikan Gita Wirjawan sebagai orang nomor satu di PBSI, apakah dua gelar dari Cina Terbuka itu membuatnya lega dan optimistis, jawabannya kelihatannya “No!”, atau setidaknya “Not yet!”.

Kita pun bisa mengerti karena dari penuturannya kepada media beberapa hari sebelum Musyawarah Nasional PBSI 2016 di Surabaya, Wiranto sangat terobsesi oleh kehadiran pemain hebat di sektor tunggal. Maklum, dia sendiri jagoan bulu tangkis di masa mudanya, dan katanya hanya kalah ketika berhadapan dengan Rudy Hartono.

Terbaca pada wajahnya rasa kurang puasnya atas hasil perjuangan para pemain di Olimpiade 2016 yang pulang hanya dengan sebuah gelar dari ganda campuran. Sektor tunggal putra tetap tanpa jagoan sejak Taufik Hidayat menjuarai Olimpiade 2004. Sektor tunggal putri malah lebih tak berdaya sejak Susy Susanti merebut emas Olimpiade 1992.

Tapi, kita semua tentu sependapat dengan Wiranto bahwa ketangguhan di sektor tunggal bisa menjadi tulang punggung untuk memikul atau setidaknya memicu makin tumbuhnya kekuatan di sektor-sektor lain. Sebab seperti itulah dulu kita melihat kehebatan bulu tangkis Indonesia yang mulai melejit lewat kejagoan Tano Joe Hok, Ferry Sonneville, disambung Rudy Hartono dan Liem Swie King.

Jadi, bisa dimengerti kalau dalam kabinet PBSI yang sedang disusun Wiranto, bidang pembinaan prestasi kabarnya akan dipercayakan kepada Taufik dan Susy.  Mengapa tidak? Pengalaman mereka pasti akan sangat bermanfaat jika ditularkan kepada para juniornya, dan mereka pasti sudah cukup matang untuk bisa menyusun program yang ilmiah, aplikatif, dan efektif.

Jangan lupa, bulu tangkis identik dengan kesuksesan di Piala Thomas, Piala Uber, Asian Games, dan Olimpiade. Bahkan pada Asian Games 1962 seluruh lima medali emas diborong Indonesia. Tentu seperti itulah harapannya untuk Asian Games 2018.*

    
Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 
 

BERITA TERKAIT

Komentar
ARTIKEL SEBELUMNYA