#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Peluang Timnas: Antara Matematis dan Objektif
06 Desember 2016 05:00 WIB
800
0

Timnas Indonesia seperti lolos dari lubang jarum saat melakoni fase penyisihan grup. Separuh napas menuju final sudah digenggaman timnas Garuda. Hadir dalam Piala AFF 2016 sebagai tim tidak diperhitungkan, namun faktanya penggawa Garuda dapat membalikkan keadaan dan memberikan harapan kepada publik sepak bola nasional. Stadion Pakansari Cibinong Bogor menjadi saksi dari kemilaunya timnas yang dilatih Alfred Riedl dengan melumat Vietnam 2-1, Sabtu (3/12). Bagaimana dengan impian timnas menuju final dan menggenggam juara Piala AFF 2016?

Berdasarkan statistik pertandingan antara Indonesia dan Vietnam di partai semifinal kedua pada Rabu, 7 Desember 2016, kendati dilakukan di kandang lawan,  akan kembali menjadi milik Indonesia. Catatan tersebut berdasarkan pertimbangan matematis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata matematis mempunyai arti bersangkutan dengan matematika; bersifat matematika; sangat pasti dan tepat.
 
Pertama, sebelum berlangsungnya partai semifinal pertama Sabtu lalu, dalam pertandingan persiapan menuju Piala AFF 2016, Indonesia sudah bersua Vietnam dua kali dalam uji coba. Saat uji coba pertama di Stadion Maguwoharjo, timnas ditahan imbang 2-2. Sebaliknya saat Vietnam bertindak sebagai tuan rumah, Vietnam mengungguli Indonesia 3-2. Ternyata saat Vietnam kembali ke Indonesia, timnas Garuda sudah meningkat pesat, hingga akhirnya meyudahi perlawanan Vietnam 2-1. 

Artinya, uji coba pertama di Indonesia kedudukan skor imbang/seri, kemudian saat Vietnam kembali ke Indonesia, hasil berbeda yaitu, Indonesia menang. Kesimpulannya, statistik untuk timnas ketika bermain di Indonesia sama dengan seri kemudian menang. Dengan demikian, statistik yang seharusnya terjadi, dengan catatan saat bertanding di Vietnam pertama adalah kalah, kemudian seharusnya bertanding kedua 7/12 adalah meningkat  menjadi minimal seri. Kedua, perhitungan matematis ini juga didukung oleh semangat tempur anak-anak Garuda yang dari ke hari penampilannya terus meningkat.

Terlepas dari catatan matematis yang berpihak kepada timnas, ada catatan objektif berdasarkan penampilan di lapangan ketika pertandingan semifinal leg pertama. Objektif berarti mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi. Bila catatan matematis cenderung menguntungkan timnas Garuda, maka bagaimana dengan catatan objektif?

Bila kita melihat penampilan pemain timnas Vietnam secara individu, maka dapat kita berikan penilaian bahwa seluruh pemain Vietnam adalah pemain yang memenuhi standar. Teknik, intelegensi, personalitas, dan kecepatan mereka semua, di atas rata-rata pemain timnas Garuda. Semua pemain mumpuni dalam teknik, semua pemain terlihat cerdas saat menguasai bola, dan saat tanpa bola. Kecerdasannya pun dipakai dalam memecah emosi timnas Garuda, yaitu dengan melakukan permainan keras menjurus kasar, seolah mereka tidak memiliki personalitas yang baik, padahal itu adalah bagian dari taktik dan strategi mempengaruhi emosi lawan. Artinya, mereka begitu lihai mempermainkan personalitas mereka dan terus konsisten sepanjang 2 x 45 menit, padahal mereka bermain di kandang lawan dengan dukungan pemain ke-12 (suporter).

Keunggulan dari Vietnam adalah kemampuan determinasinya setiap detik dan menit sejak pertandingan dimulai hingga wasit meniup peluit pertandingan usai.
  
Detak jantung penonton berdegup kencang dari setiap ancaman pemain Vietnam ketika menguasai bola. Mereka dapat melakukan hal tersebut karena kecepatan dan kekuatan stamina mereka sangat mumpuni. Ketika fisik prima, maka kerja otak pun akan selalu terkontrol. Hasilnya seperti yang sudah kita lihat bersama, betapa digdayanya timnas Vietnam meski bermain di Pakansari. Persis setelah Indonesia mengubah kedudukan menjadi 2-1, timnas menjadi bulan-bulanan kecerdikan teknik, intelegensi, personalitas, dan kecepatan pemain Vietnam. Vietnam bermain lepas seolah mereka bermain di depan publik sendiri dan terus mengancam gawang Indonesia. Beruntung waktu pertandingan dibatasi hanya 45 menit di babak kedua, maka Indonesia selamat dari kebobolan dari gencarnya serangan Vietnam saat fisik pemain timnas sudah terkuras. Vietnam menguasai bola hingga 65 persen. 
Pertandingan leg kedua akan terlaksana dalam hitungan jam. Di Hanoi, 7 Desember besok akan menjadi saksi Vietnam atau Indonesai yang meraih tiket final. Meski Indonesia hanya butuh hasil imbang.

Evaluasi dan Nasionalisme
Nasi sudah menjadi bubur. Mengapa dalam ajang yang mengharubirukan perasaan nasionalisme kita, timnas harus dibatasi dua pemain setiap klub? Hingga seluruh pemain terbaik tidak dapat dijadikan satu dalam timnas yang bernama tim Garuda? Mengapa PSSI, TSC, dan klub tega membuat regulasi yang tidak menguntungkan timnas? Tengok betapa pemain-pemain kita hanya mengandalkan semangat juang di lapangan, bukan mengandalkan teknik, intelegensi, personalitas, dan kecepatan yang seharusnya ada di setiap individu pemain timnas. Betapa Vietnam menguasai seluruh lapangan dengan penguasaan bola hingga 65 persen. Saya yakin pembuat regulasi itu berjiwa nasionalis yang sangat tinggi, namun mengapa di ajang Piala AFF 2016, mereka melakukan blunder regulasi?
Sesungguhnya, siapapun yang ditanya tentang kans timnas menuju final, jawabnya akan sama, rasanya sulit menahan imbang Vietnam di kandangnya, terlebih mengalahkannya. Ini merujuk catatan objektif di lapangan saat pertandingan leg pertama, karena modal pemain timnas kita memang terbatas. Apakah semangat juang akan kembali mengubah keajaiban dalam rangka merengkuh impian? Pepatah bola itu bundar semoga masih berlaku dalam hal ini, dengan mengesampingkan faktor objektif dan mengedepankan faktor catatan matematis.

Banyak yang bertanya, mengapa saat seluruh napas dan jantung pencinta sepak bola nasional fokus mendukung laga timnas baik di stadion maupun di layar kaca, di saat bersamaan ada pertandingan TSC 2016 di saluran televisi yang berbeda. Apapun alasannya, sungguh tidak etis hal ini bisa terjadi. Mungkin kita dapat menerima andai siaran langsung yang bersamaan dengan perjuangan timnas bukan pertandingan olahraga yang sama, tapi ini sama-sama sepak bola! Jangan terulang peristiwa ini!

Sebagai pencinta sepak bola nasional, saya yakin, setelah lolos dengan ajaib dari fase grup, menang di leg pertama partai semifinal, maka dengan pertimbangan catatan matematis, timnas Garuda akan dapat melangkah ke partai puncak, dan akhirnya meraih gelar juara Piala AFF 2016. Namun, andai catatan objektif yang akhirnya meloloskan Vietnam ke partai puncak, kita semua tetap wajib legawa dan berbesar hati karena pembentukan timnas tidak semulus lawan-lawan Indonesia di Piala AFF 2016. Perjuangan timnas mencapai semifinal, sudah diluar ekspektasi kita. Sepak bola Indonesia kembali dipandang oleh dunia. Bravo timnas Garuda, pegang catatan matematis plus daya juang. Kalian kan pulang membawa kemenangan. Aamiin.*

Drs Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional

BERITA TERKAIT

Komentar
ARTIKEL SEBELUMNYA