#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Final Kelima, Gelar Pertama?
10 Desember 2016 04:28 WIB
474
0

Sepatah kata apakah yang paling tepat untukk melukisakan perasaan kita terhadap pertarungan sepak bola Vietnam versus Indonesia di Stadion My Dinh, Hanoi, Rabu (7 Desember) malam lalu? Berdasarkan selera atau keindahan teknik, kita bisa berbeda. Tapi, dari sisi hasil akhir maupun  prosesnya, saya harus mengatakan luar biasa! 

Kalau itu pun belum cukup, maka partai semifinal kedua dalam turnamen perebutan Piala AFF Suzuki 2016 itu bisa kita sebut dahsyat, hebat, istimewa. Dalam pengalaman saya 40 tahun lebih meliput sepak bola Indonesia, inilah pertandingan yang sejak menit pertama hingga menit ke-120 sangat mencekam. 

Ketika Indonesia berhadapan dengan Korea Utara dalam final Pra-Olimpiade 1976 di depan sekitar 120.000 penonton di Stadion Stama Senayan pun ketegangannya tidak sampai seperti itu. Sama-sama dramatis dan berlangsung 120 menit karena skor tetap imbang sampai waktu normal dan perpanjangan habis,  partai Indonesia-Korut itu berakhir antiklimaks. Iswadi Idris dan kawan-kawan kalah tipis 4-5 dalam adu tendangan penalti.

Kita pasti juga masih sangat ingat partai final kedua antara Indonesia dan Malaysia di Senayan juga pada perebutan Piala AFF 2010. Tim nasional Merah Putih menang 2-1, tapi tak ada kegembiraan yang muncul karena pada partai final pertama di kandangnya, Malaysia telah memetik kemenangan yang sangat sulit dikejar, 3-0. 
 
Pertarungan semifinal di Hanoi yang berakhir 2-2 untuk keunggulan agregat 3-2 bagi timnas Garuda,   sangat berarti karena telah mengantar Boaz Salossa dam kawan-kawan ke dwi partai final, 14 dan 17 Desember. Inilah partai final kelima bagi Indonesia  sejak turnamen ini mulai diputar pada 1996. 

Kini, setelah empat kali gagal di partai pemuncak, berlebihankah kalau kita berharap, bahkan optimistis, kemenangan akan kita raih atas Thailand yang menjadi lawan kita setelah mereka menundukkan Myanmar dengan 2-0 dan 4-0 pada dwi partai semifinal grup sebelah?

Saat sudah berada di final, maka tak ada lagi target bermain imbang. Hanya ada target kemenangan baik itu di laga kandang atau tandang. Itu yang harus jadi fokus pelatih dan pemain. Pasalnya, Thailand pun akan berpikir demikian.

Semangat juang
Apa yang membuat kita optimistis partai final kelima akan menjadi gelar pertama? Saya melihat dalam partai semifinal di kandang Vietnam itu para pemain kita sama sekali tidak grogi, gugup, atau salah tingkah. Gedoran kompak, cepat, dan bervariasi dari tim tuan rumah dapat mereka halau dan hanya menghasilkan lima tendangan penjuru di babak pertama.

Semangat juang timnas Merah Putih juga tidak hanya sangat berharga dalam merapikan pertahanan, meski kecolongan pada gol kedua Vietnam. Mereka juga membuat setidaknya Boaz, Stefano Lilipaly, Ricky Pora dan Manahati Lestaluhu, berani melakukan penetrasi ke kotak penalti Vietnam.

Itulah memang kunci keberhasilan permaian sepak bola. Anda harus bisa, berani, dan sering menyerbu ke jantung pertahanan lawan. Untuk itu pemain tak cukup hanya piawai menggiring bola, tapi juga menguasai gerak tipu untuk menaklukkan lawan dengan sangat santai.

Wiel Coerver, pelatih asal Belanda yang menangani timnas pada Pra-Olimpiade 1976, mengajarkan ratusan gerak tipu (feinting) kepada Iswadi, Anjas Asmara, Risdianto, dan lain-lain. “Kuasai gerak tipu sebanyak mungkin, meski hanya satu atau dua yang kalian akan pakai,” kata Coerver.

Dalam strategi secara umum, tentunya pelatih Alfred Riedl akan menerapkan pola serangan produktif yang terkendali dalam partai kandang 14 Desember di Stadion Pakansari atau di mana pun. Targetnya adalah mencetak gol “sebanyak mungkin” supaya perjuangan dalam partai tandang tiga hari kemudian lebih ringan.

Ingat, Thailand bukanlah “superteam”.  Dalam pertandingan di fase grup di Filipina, terbukti pasukan Riedl mampu menciptakan skor imbang 2-2, dan karena setelah itu para pemain kita tetap bermain terbuka, terjadilah dua gol tambahan mereka yang menyesakkan itu.

Singapura, dengan strategi bermain efisien dan memanfaatkan serangan balik sebagai celah untuk menganggu irama permainan lawan, hanya kalah satu gol dari Thailand pada pengujung pertandingan. Tuan rumah Filipina, lawan terakhirnya, dihadapi Thailand dengan santai karena tiket ke semifinal sudah dikantungi.
 
Dukungan penonton yang sangat fanatik kepada tim tuan rumah, seperti di kandang Vietnam dan Thailand, harus kita ikuti jejaknya. Jadikan para suporter itu sebagai “pemain ke-12”. Tentunya, tidak anarkis dan brutal. Nyanyikanlah lagu-lagu yang bisa membakar semangat juang pemain di lapangan. Bukan membakar properti stadion. Laga kandang luar biasa menentukan nasib timnas kebanggaan kita di ajang ini. Bermainlah dengan segenap kemampuan terbaik demi kebanggaan nasional.*

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 


 

BERITA TERKAIT

Komentar
ARTIKEL SEBELUMNYA