#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Senja di Kota Hanoi
13 Desember 2016 04:09 WIB
0

Senja...
Seberapa sering kita benar-benar menyaksikan senja ?
Berapa kali dalam setahun kita menarik napas sejenak saat matahari terbenam, ketika cahaya kuning sang matahari membiarkan gelap malam mengambil sorot panggung pertunjukan.

Hidup di kota besar nan sibuk seperti Jakarta, bisa bikin lupa untuk menikmati senja. Biasanya ketika momen itu terjadi kebanyakan dari kita masih sibuk di balik meja, berusaha segera menyelesaikan pekerjaan agar pulang tak terlalu malam. Atau, bila bisa pulang lebih cepat, maka seringkali senja akan dihabiskan dengan adrenalin tinggi untuk bisa melewati macetnya lalu lintas.

Tapi, walau mungkin jarang bisa menikmati sunset, semua tentu setuju bahwa senja merupakan salah satu momen alam tercantik yang pernah diciptakan sang Penguasa Alam. Sebuah gerbang perjalanan waktu yang tak bisa dijabarkan dengan rumus Einstein dan Stephen Hawking sekalipun.

Menariknya, kata senja seringkali dikaitkan dengan sebuah akhir atau ujung sebuah perjalanan. Usia senja, karier senja dan masih banyak senja lain yang mewakili sebuah kelambanan, keredupan, dan ketertinggalan akan tren atau  bahkan kesedihan.

My Dinh Sunset
Kepala tersandar di jendela pesawat, saya menyaksikan keindahan senja di langit. Bila melihat matahari terbenam dari daratan saja susah, apalagi di ribuan meter di atas tanah. Saya alihkan pandangan ke kursi belakang, nampak sejumlah pemain nasional sedang berbincang. Ada juga yang sedang sibuk dengan earphone atau terlelap. Mereka memanfaatkan waktu untuk beristirahat di tengah turnamen Piala AFF 2016 yang padat.

Tidak sedikit yang menganggap mereka ini merupakan tim nasional senja. Bukan karena usia mereka tapi lebih karena harapan yang disematkan. Sejak pertama di bentuk, kalimat pesimistis selalu mengalir bersama mereka. Tak ideal karena pemanggilan pemain dibatasi, karena perhatian PSSI terpecah dengan suksesi, karena baru terlepas dari sanksi dan karena dilatih oleh pelatih yang dua tahun lalu dianggap gagal total, Alfred Riedl.

Semua alasan yang kemudian seolah menjadi pengesahan bahwa keikutsertaan Indonesia ini hanyalah formalitas belaka, tak ada yang bisa diharapkan dari 23 pemain yang dibawa.

Tapi lihatlah, Boaz Solossa tak mungkin bisa dicap senja. Mana mungkin seorang dikatakn sudah senja tapi bisa membuat tiga gol dengan berbagai cara (sundulan dan kaki) ditambah sejumlah assist dan menjadi aktor intelektual di hampir semua gol Indonesia. Untuk seorang Boaz, dia tidak temaram seperti senja, tapi terang benderang laksana sinar surya di pagi hari. Cerah dan penuh harapan.

Bagaimana mungkin kita sematkan kata senja kepada Benny Wahyudi yang dengan menyandang kapten mampu menahan gempuran Vietnam di Stadion My Dinh, Benny mungkin tak secepat Dani Alves tapi mungkin karena dia memang bukan Alves. Namun, kinerja Benny mirip Alves. Total menjaga wilayahnya dengan semua kemampuan yang dia punya. Mental Benny melampaui apapun di ajang ini.

Bagaimana bisa kita menyebut Alfred Riedl ini senja. Sebut saja senja jika frase ketinggalan zaman dianggap terlalu kasar. Nyatanya Indonesia selalu menyusul saat tertinggal dan merupakan salah satu tim paling produktif di Piala AFF 2016. Tim Merah Putih mencetak 10 gol dari 5 pertandingan, hanya kalah dari Thailand yang mencetak 12 gol.

Sama seperti pemainnya, Riedl pun digempur kritik. Sebelum perhelatan Piala AFF 2016 dimulau, Riedl seperti sedang menjalani proses aklamatisasi kritik. Sehingga, saat event berlangsung, kritik sudah tak terasa lagi baginya. Faktanya, Riedl si kepala batu itu mampu mengantarkan timnas kebanggaan kita ada di final. 

Hari Baru
Jangan-jangan, kitalah yang salah mengambil definisi senja. Saya baru teringat bahwa ada budaya di Indonesia yang menyebutkan bahwa senja bukanlah akhir dari sebuah hari, melainkan masuknya kita ke hari yang baru. Itu ada di budaya Jawa.

Demikian pula di perhitungan kalender Hijriah. Tiap tahun jelang Ramadan, adzan Maghrib jadi penanda kita memasuki bulan suci itu.
 
Saat senja datang, sesungguhnya kita sudah berada di hari berikutnya.  Malam setelah senja merupakan awal dari hari baru, di mana kita diminta untuk melakukan persiapan serta perencanaan (baca: bersantai dan tidur)  agar aktivitas kala matahari kembali terbit bisa berjalan baik bahkan lebik baik dari hari sebelumnya.

Maka senja bukanlah akhir dari perjalanan atau matinya harapan, melainkan lahirnya asa baru. Bila definisi ini yang diambil, maka tak mengapa bila Tim Nasional yang dihuni Boas dan kawan-kawan disebut Senja. Karena nyatanya, mereka telah menawarkan warna baru, sebuah benchmark (batasan) baru yang harus dilalui para penerus mereka nantinya. 

Pasukan Garuda telah menunjukkan bahwa sikap, semangat, persiapan, dan taktik yang tepat akan membawa kita melangkah jauh melewati segala sangkaan dan prediksi. Jadi, jangan kecil hati saat disebut senja karena esensinya itulah hari baru yang penuh harapan.

Tariklah napas yang dalam, arahkan mata ke ufuk barat, saksikan terang dan gelap saling  bermesraan , maka sesungguhnya semua akan berjalan baik-baik saja
Terima kasih Hanoi untuk Senjamu…*BAGUS PRIAMBODO


 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA