#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Semangat Juang, Keseimbangan, dan Konsentrasi = Juara!
17 Desember 2016 04:33 WIB
524
0

Stadion Pakansari bertuah dan kembali mencatat sejarah. Dua kali laga timnas Garuda dalam leg pertama, baik partai semifinal maupun final Piala AFF 2016, sama-sama mengantar timnas memenangi duel. Vietnam dan Thailand, tim besar Asia Tenggara yang merasakan tuah tersebut. Apakah timnas akan mengulang sejarah menyingkirkan Thailand di kandangnya dalam leg kedua nanti? Seperti timnas juga menyingkirkan Vietnam? Saya optimistis, timnas dapat menjawab tantangan. 

Siapa yang awalnya memprediksi timnas akan sampai pada puncak partai dan selangkah lagi merebut trofi Piala AFF 2016? Sejak awal timnas diproses dan dibentuk, saya sudah menulis artikel khusus mengenai timnas. Artikel-artikel  tersebut setelah saya baca ulang ternyata mirip cerita bersambung. Mulai dari judul Menggantung Harap pada Timnas (26/8), Piala AFF 2016: Menunggu Keajaiban Timnas (19/11), Pengaruh TSC dan Menanti  Sejarah Timnas (29/11), hingga Peluang Timnas: Antara Matematis dan Objektif (6/12). 

Kini, di pengujung akhir kisah timnas yang akan segera berakhir pada Sabtu, 17 Desember 2016 di Stadion Rajamangala Bangkok Thailand, saya tulis artikel dengan judul Semangat Juang, Keseimbangan, dan Konsentrasi=Juara. Judul ini saya tentukan berdasarkan fakta-fakta yang mengiringi langkah timnas dari awal hingga partai leg pertama final.

Sejak awal, saya tidak pernah pesimistis. Nyatanya memang benar, timnas menembus final dan selangkah lagi jadi juara. Bila gagal di leg kedua, Indonesia akan mencatatakan diri sebagai satu-satunya negara yang meraih prestasi runner-up Piala AFF selama lima kali. Itu seandainya leg kedua gagal. Tapi saya yakin, di edisi 2016, Piala AFF adalah milik Garuda.

Peran  Kompetisi
Saya akhirnya mengingatkan kepada semua pihak bahwa membentuk timnas tidak bisa instan. Terbentuknya timnas hingga kini dekat di tangga juara, juga bukan karena kehebatan Alfred Riedl semata. Tapi, andil dari adanya kompetisi yang bernama TSC. TSC memang telah menjadi bidan timnas Garuda untuk Piala AFF 2016. Meski hanya dua pemain dari setiap klub lalu diracik menjadi timnas oleh Riedl, maka sampailah timnas premature ini di final.
Semua lawan di grup A dan Grup B tersentak. Awalnya meremehkan, namun mereka tidak paham kalau di Indonesia juga sedang ada kompetisi klub selevel ISL yang sedang dalam tensi pertandingan akhir dan superpanas. Maka, jadilah sekumpulan pemain timnas, adalah jiwa-jiwa yang siap tempur. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Maka, Indonesia masuk partai puncak dan minimal sejarah telah tercipta. Bila kalah, catatannya adalah lima kali runner-up Piala AFF.

Di luar dari catatan-catatan yang saya buat, saya sebetulnya gerah atas pandangan rasa dan jiwa pesimistis yang terus digaungkan oleh penggemar sepak bola nasional. Mereka hanya dapat beropini, namun apa yang diopinikan tidak berdasarkan fakta. Saat Indonesia lolos dari lubang jarum fase grup. Orang-orang di pasar, di mal, di jalan-jalan, di tempat-tempat umum, di media sosial, di kantor-kantor, di sawah-sawah, di pantai, pokoknya di seluruh penjuru negeri, mengatakan bahwa timnas Indonesia melaju ke partai semifinal karena Dewi Fortuna, faktor keberuntungan, kemujuran, dan lain-lain. Apakah mereka tidak bisa melihat fakta bahwa seluruh gol yang berhasil disarangkan pemain timnas adalah hasil dari proses menyerang. Hasil dari proses strategi pelatih, hasil dari intelegensi pemain, hasil dari personalitas, dan kecepatan pemain. Keberadaan dan kehebatan tim sekelas Singapura, Filipina, Vietnam, dan Thailand, sejauh ini, semuanya dapat dilawan lalu dikalahkan.

Jangan jadi bumerang
Bila dianalisis dan dikaji secara mendalam, rengkuhan timnas dari fase penyisihan grup hingga memenangkan final leg pertama, benar-benar bahwa kemampuan teknik secara individu timnas Garuda memang jauh di bawah rata-rata penguasaan teknik pemain lawan. Terlebih bila dibandingan dengan pemain Vietnam dan Thailand. Dari segi intelegensi, pemain kita juga terus menggunakan otaknya, terus berkonsentrasi mengikuti arahan pelatih, terus meladeni lawan meski sadar kalah dari segi teknik, namun terus menunjukkan semangat juang. 

Ya, semangat juang adalah hal yang paling menonjol dan mencolok dipertunjukkan oleh penggawa Garuda sepanjang gelaran Piala AFF 2016. Sadar akan tim yang premature, sadar akan kelemahan, maka personalitas/mental baja menjadi jalan terakhir dalam rangka mendongkrak prestasi tim. Inilah kunci sukses timnas kali ini. Semangat juang adalah resep jitu timnas menuju partai puncak. Kita tidak khawatir dengan kondisi kecepatan pemain kita, semua lawan sudah dihadapi. Kini, separuh napas menjejak juara sudah dilampaui. Tinggal separuh napas lagi.

Apapun yang akan diracik Kiatisuk Senamuang bersama The War Elephants di leg kedua, pun dengan dukungan publik tuan rumah, timnas sudah tahan banting dan cukup teruji mental. Untuk menggapai juara, minimal Riedl harus berani menggunakan strategi yang sama seperti saat meladeni Vietnam di leg kedua partai semifinal, dengan memasang pemain yang tepat sesuai kebutuhan permainan serta strategi parkir bus. Lalu mengandalakan serangan balik dengan modal semangat juang, namun tetap menjaga keseimbangan dalam bertahan dan menyerang dengan konsentrasi penuh sejak kick-off hingga akhir laga. Untuk mendukung keseimbangan antara semangat juang menyerang dan bertahan, dibutuhkan stamina/kecepatan prima, fisik prima agar tetap memompa oksigen yang mengalir ke otak tetap lancar, hingga setiap pemain terus dapat berpikir cerdas serta berkonsentrasi selama laga. Lengah sepersekian detik saja, maka fatal akibatnya.

Kini tidak perlu lagi berpikir tentaang keajaiban, Dewi Fortuna, keberuntungan, perhitungan matematis, dan perhitungan objektif. Ini Final Bung! Leg kedua! Selamat berjuang penggawa timnas! Menyadari akan kelemahan diri, itu akan menjadi kekuatan sejati. Jaga semangat juang, keseimbangan, dan konsentrasi, maka kamu juara! Jangan jemawa karena akan menjadi bumerang, senjata makan tuan! Ayo, kamu bisa! Akhiri kisah manismu, meski di negeri orang, optimistis juara! Aamiin.*

Drs.Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional


 

BERITA TERKAIT

Komentar
ARTIKEL SEBELUMNYA