#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Lupakan Kekalahan di Bangkok, Tatap Masa Depan
23 Desember 2016 05:00 WIB

Siapa pun yang mengaku sebagai penggemar, pecinta, apalagi penggila sepak bola Indonesia, pasti sedikit atau banyak merasa kecewa terhadap hasil akhir penampilan tim nasional Merah Putih dalam turnamen Piala AFF Suzuki 2016. Final laga kedua seperti antiklimaks. Ekspektasi publik yang sangat langsung rontok.

Kemenangan 2-1 atas Thailand pada partai final kandang di stadion Pakansari, Bogor, 14 Desember lalu, ternyata tidak cukup ampuh. Dalam partai tandang di stadion Rajamanggala, Bangkok, tiga hari kemudian, kemenangan tipis itu telah dibalas oleh sang juara bertahan dengan skor lebih baik, 2-0.

Thailand dengan demikian mencatat rekor, untuk kelima kalinya menjuarai turnamen berlevel Asia Tenggara ini. Lebih baik dibanding Singapura yang sudah empat kali merebut gelar.  Sementara timnas Garuda untuk kelima kalinya gagal dalam lima partai final.  

Di antara berbagai rasa kecewa itu sebagian di antara kita mungkin memiliki kesan yang sama, bahwa di Bangkok, Boaz Salossa dan kawan-kawan tidak tampil sebaik pada partai final di Pakansari. Bahkan dibanding ketika timnas kita menahan seri 2-2 Vietnam pada partai semifinal kedua di Hanoi.

Meski pelatih Alfred Riedl tampak di layar televisi memberi aba-aba agar para pemain bergerak maju, tapi mereka  cenderung bergerak lebih hati-hati dan lamban sehingga pergerakan hanya melingkar di kawasan permainan sendiri. Cerita timnas di Bangkok mungkin akan berbeda jika pemain patuh dengan instruksi Riedl.

Sayangnya lagi, mungkin karena kondisi mental mereka tidak sekuat dalam partai kandang, gerakan individual maupun kerjasama mereka tidak cukup untuk menciptakan skema“possession football” yang dibutuhkan. Bola mudah sekali hilang dari penguasaan para pemain kita, baik karena diserobot lawan atau karena pengumpanan yang tidak akurat.

Maka tampaknya keinginan Riedl untuk bermain ofensif sebagai cara bertahan yang efektif dan elegan, tidak bisa berjalan. Apalagi pemain sayap Andik Virmansyah absen sehingga serangan balik yang cepat tidak bisa dibangun. Tak heran, praktis di sepanjang  pertandingan yang dibakar dukungan semangat sekitar 60.000 penonton itu, tim tuan rumah menguasai penuh permainan.

Gol pembuka melalui serbuan jarak dekat ke gawang Kurnia Meiga pada menit ke-35 menciptakan suasana psikologis sangat  nyaman yang dicari Thailand. Mereka menjadi makin percaya diri, makin bebas menyerang dengan berbagai variasi, sehingga gol berikutnya seperti hanya soal waktu.

Ada komentar masuk akal dari Prof Ir Djohar Arifin Husin, ketua umum PSSI 2011-2015 di Radio Protiga RRI, bahwa setelah ketinggalan 0-1 seharusnya timnas kita bermain lebih terbuka, ofensif. Tapi, hal itu tidak terjadi tampaknya karena Boaz dan kawan-kawan sudah terus terdesak dan terkunci dalam posisi superdefensif.

Apresiasi tinggi
Kekalahan ini sebaiknya cepat kita lupakan, tapi tetap dicatat sebagai pelajaran. Kekecewaan kita pun tentunya dibarengi sikap positif dan obyektif bahwa semua proses hingga mencapai peringkat kedua Piala AFF-Suzuki 2016 ini berada dalam situasi dan suasana yang “tidak normal”. 

Seperti dikatakan Indra Sjafri, pelatih yang berhasil membawa timnas U-19 ke putaran final Piala Asia 2014 dengan antara lain mengalahkan Korea Selatan, sudah sangat hebat timnas senior asuhan Riedl kali ini bisa mencapai final.

Pembekuan oleh Menpora Imam Nahrawi yang berakibat skorsing setahun penuh oleh FIFA, telah menciptakan masa sangat pahit dan sekaligus sangat tidak produktif bagi semua upaya pembinaan oleh PSSI. Sehingga memang cukup ajaib dalam waktu relatif singkat pengurus baru PSSI di bawah ketua umum Edy Rachmayadi mampu membentuk timnas yang lumayan tangguh. Bahkan bisa mengimbangi skuat timnas Thailand yang secara konsisten dibina jauh lebih lama. 

Bagus juga kemudian pemerintah “menebus dosa” dengan memberikan apresiasi yang lumayan tinggi. Bukan saja berupa audiensi kehormatan dengan Presiden Joko Widodo di Istana, tapi juga dengan pemberian bonus yang disetarakan dengan juara SEA Games, Rp 200 juta per orang.  

Pemerintah, sesuai bunyi dan semangat UU SKN (Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional) Nomer 3/2005 memang berkewajiban memberikan dukungan dana bagi pembinaan olahraga nasional. Di samping itu, yang tidak kalah penting, membangun infrastruktur bagi kepentingan dunia olahraga kita.

Sejauh ini kita pahami pertumbunhan sarana dan prasarana olahraga negeri ini sangat lamban. Rencana pembangunan Stadion BMW di kawasan Sunter, Jakarta Utara, setelah sekian tahun tetap hanya rencana.
 
Pembangunan kawasan olahraga Hambalang yang sangat mahal itu malah terbengkalai akibat digerus kasus korupsi. 
PSSI sendiri, dengan sumber dana yang belum bisa digali secara maksimal seiring dengan prestasinya yang tidak pernah stabil, tidak mungkin bisa menatap masa depan dengan kondisi yang jauh dari nyaman untuk “take off”. Sehingga, semua bagian atau bidang di PSSI harus bergerak bersama, serentak, dan tentunya sinergis.

Kini, sementara konsentrasi beralih kepada timnas U-23 yang disiapkan untuk SEA Games 2017, organisasi PSSI harus dibuat benar-benar solid agar mampu menata kompetisi utama maupun semua kelompok umur dengan baik dan benar, sesuai aturan AFC dan FIFA.*

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA