#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
“You Really Fight for Your Flag”
24 Desember 2016 04:09 WIB
460
0

Waktu itu, pukul 21.30 waktu Bangkok. Atau sekitar itulah. Sulit untuk mengingat waktu di malam itu. Andaikan jam tangan ini dilengkapi mesin waktu, mungkin akan segera kuputar ke dua jam sebelumnya untuk bisa mencegah dua gol Sirod Chattong  ke gawang Kurnia Meiga. Khayalan mesin waktu biasanya muncul kalau realitas sudah mentok tak tertolong lagi sehingga hanya mengulang peristiwa jadi satu-satunya solusi.

Kami berjajar di mixed zone, menantikan tim nasional Indonesia keluar dari ruang ganti. Sebagian besar jurnalis Indonesia berwajah lesu. Tentu saja selain harus memberikan berita yang komprehensif, mereka sejatinya juga suporter setia tim Garuda. Beberapa jurnalis dari negara lain mendatangi kami untuk sekedar menghibur, atau berdiskusi akan jalannya pertandingan. Rupanya mereka paham juga suasana hati kami.

Seorang officer dari AFF mendatangi sambil mengucapkan dukungannya kepada Boaz dan kawan-kawan. Baginya, bila indonesia memenangkan pertandingan malam itu akan bagus bagi sepak bola karena sebuah kisah Cinderella akan menghiasi seluruh headline di kawasan ini. Sebuah kisah yang akan membuat sepak bola terlihat lebih manusiawi. Bahkan, jadi sebuah epik bagaimana perjuangan sebuah timnas yang notabene kurang segala tapi bisa berprestasi.

Kudengarkan saja celotehannya, kupikir dia hanya sedang berbagi basa-basi saja. Tapi, dia tampak semakin serius saat bertanya,”how could your team play with all that passion? Look at my country. We have everything but we were so crap and your team, you really fight for your Flag !”
Artinya,”bagaimana mungkin tim Anda berjuang dengan segala hasrat? Lihat negara saya. Kami punya semuanya tapi bermain begitu buruk. Sedangkan tim Anda, sungguh-sungguh berjuang untuk bendera Anda.

Bela Negara
Tertegun mendengar kata-kata itu, tergelitik untuk menerawang jauh ke belakang saat tim ini dibentuk. Saat pesimisme mengiringi akibat tak kunjung redanya peperangan politik di kalangan elite sepak bola nasional. Seolah mereka tak peduli para pemain ini telah meninggalkan semua yang dicintai untuk berada di pelatnas yang melelahkan.

Teringat ketika KLB PSSI mundur cuma karena lokasi penyelenggaraan, mungkin tak banyak yang tahu saat itu potensi konflik nyaris membesar dan bisa menggagalkan rencana tampilnya Andik dan kawan-kawan di Piala AFF 2016. Tapi, mereka tetap datang ke Pelatnas untuk mengikuti semua program dari pelatih Alfred Riedl.
 
Tak bisa lupa juga saat muncul pernyataan bahwa tim ini tak akan mendapat bantuan operasional. Sungguh sangat tak bijaksana karena itu diucapkan kala pasukan Garuda memasuki saat-saat akhir sebelum berangkat ke Filipina.
Tim ini bermain jauh dari rumahnya dengan sebuah pesimisme yang mengiringi, tapi faktanya Boaz, Rizky Pora, Lerby, Andik ataupun Kurnia Meiga menjawab semua cibiran. Mereka tunjukkan bagaimana membela Merah Putih tanpa banyak cingcong.

Jika melihat aksi para peserta di Piala AFF kali ini, sesungguhnya memang ada beberapa negara yang terlihat benar-benar bermain untuk benderanya. Thailand, Vietnam, dan Myanmar adalah sedikit dari tim yang selalu bermain dengan semangat dan daya juang tinggi. 

Indonesia yang baru keluar dari jeratan pengasingan FIFA, berhasil menyamai kinerja ketiga negara itu dengan baik. Fakta menyebutkan bahwa pasukan Garuda menjadi satu-satunya negara yang menggoyang pertahanan thailand, menunjukkan potensi besar yang dimiliki. Andaikan kesiapan teknis kita menyamai 50 persen saja dari kesiapan Thailand, bukan tak mungkin gelar juara perdana bisa direbut.

Mission Possible
Tapi sangat tak adil bila hanya berharap jiwa pantang menyerah itu dimiliki oleh para pemain dan tim pelatih saja. Semangat “Fight for your Flag” juga harus dimiliki oleh seluruh stakeholder mulai dari pengurus, pemerintah hingga fans.

Thailand dan Vietnam salah satu contoh bagus untuk hal tersebut. Federasi sepak bola dan pemerintah kedua negara itu, membuat semua orang bisa menikmati sepak bola sebagai olah raga bangsa. Fasilitas yang berimbang antara kualitas dan kuantitas. Sumber daya manusia yang terus dikembangkan membuat tim sepak bola mereka terus mencatat prestasi yang stabil.

Di akhir 2014, Liga Indonesia dan J-League mencatat sebuah kerjasama antarliga tapi nyatanya belum banyak yang memanfaatkannya karena tak pernah ada sinergi yang baik. Andaikan kerjasama itu dinaikkan ke level antarpemerintah, bukan tak mungkin ada sesuatu yang menyegarkan dalam dua tahun ini.

Masyarakat pun bisa menunjukkan partisipasinya di misi ini dengan cara yang sederhana, misalkan dengan tidak menyalakan flare (suar) atau merusak fasilitas umum saat emosi. Jika semua pihak mampu dan mau saling berpegangan tangan dan sama-sama menyelami filosofi “Fight for your Flag”, maka menguasai Asia Tenggara atau bahkan benua Asia menjadi Mission Possible. Misi yang mungkin. 

Bukan sekadar bicara, tapi jika kita sama-sama berhitung kemungkinannya, bangsa ini punya potensi yang luar biasa hebat. Ya, di sepak bola. Mewujudkan sebuah tim nasional yang mampu berbicara di level Asia sejatinya bukan isapan jempol. 

Dan, di ujung tulisan ini, aku berharap Boaz Solossa dan Benny Wahyudi tetap bersama tim nasional untuk beberapa tahun lagi. Karena, mereka telah menunjukkan bagaimana seharusnya bermain untuk Merah Putih. Mereka contoh nyata bagaimana cara yang benar untuk membela martabat bangsa ini.*Bagus Priambodo


 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA