#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Ke Mana Olahraga Indonesia Melangkah
04 Januari 2017 05:09 WIB
0

Pada setiap akhir atau awal tahun, sangat lazim bagi kita untuk mempertanyakan ke arah mana dunia olahraga kita akan melangkah. Seperti sebuah proyeksi tentang perencanaan pencapaian prestasi.

Pertanyaan ini bisa menyangkut jangka panjang, jangka menengah, atau hanya pada tahun yang mulai berjalan. Sebut saja jangka pendek. Ini juga pertanyaan yang mestinya menjadi topik bahasan di setiap induk organisasi dan klub-klub anggotanya, yang sejatinya merupakan sentra utama pembinaan atlet kita.

Tapi, negeri ini sudah cukup lama melawan arus besar. Kelangkaan infrastruktur dan minimnya dukungan dana membuat sentra pembinaan berkutat di seputar pusat pemerintahan. Pelatnas, dan kini Satlak Prima, hampir tidak pernah beranjak dari Jakarta dan sekitarnya.

Kini, dengan kepala dan ekor Satlak Prima dipegang erat-erat oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga, masyarakat olahraga ibarat hanya menumpang hidup. Kebijakan membentuk kontingen pun seolah-olah sudah menjadi hak sepenuhnya pemerintah.

Hal itu terbaca jelas dari pemberitaan TopSkor edisi Sabtu-Minggu, 31 Desember 2016. Judulnya pun sangat terang dan menancing, “Masih Beda Pendapat”. Intinya adalah perbedaan pendapat tajam antara Menpora Imam Nahrawi dan Achmad Soetjipto, Ketua Satlak Prima.

Di masa lalu, sebelum Adhyaksa Dault menjadi Menpora (2004-2009), pemerintah tidak pernah ikut campur urusan pembinaan olahraga di luar membuat kebijakan nasional, penyediaan dana, dan infrastruktur. Tapi sekarang, Menpora Imam terlalu intervensi, dan keliru.

Dalam berita itu disebut Menpora hanya ingin sekitar 250 atlet yang akan menjadi kontingen Indonesia ke SEA Gmes 2017 di Kuala Lumpur. Sedangkan Soetjipto, laksamana berbintang empat, mantan KSAL, dan juga Ketua organisasi dayung PODSI, menginginkan jumlah hampir dua kali lipat, 450 atlet.

Target yang ingin dicapai pun tidak sama. Menpora menganggap SEA Games hanya sekadar arena untuk mempererat hubungan antarnegara pesertanya. Sedangkan Soetjipto menargetkan peringkat ketiga atau keempat, yang penting lebih baik dari posisi kelima dalam SEA Games 2015 di Singapura. Sebuah perbedaan prinsip yang sangat besar di antara dua petinggi olahraga Indonesia.

Asian Games 2018
Saya termasuk penganjur diadakannya “revitalisasi” terhadap SEA Games. Biayanya besar, terutama bagi negara tuan rumah. Karena itu mereka cenderung melakukan apa saja, terutama penentuan cabang olahraga yang dipertandingkan, agar biaya besar itu terbayar dengan diraihnya medali emas sebanyak mungkin. Tak peduli itu persaingan tidak sehat dan semu.

Karena itu, sudah beberapa kali saya anjurkan, baiknya peruntukan SEA Games diubah. Jangan lagi menjadi arena persaingan bagi para atlet senior, melainkan diremajakan menjadi pematangan para  junior atau U-23. Tapi, stelah sekian lama, hanya sepak bola dan bola basket yang melaksanakannya.

Itu berarti mayoritas masih menghendaki SEA Games sebagai arena laga yang terbuka bagi semua usia, dan menganggapnya sebagai sasaran antara menuju forum persaingan internasional di atasnya, terutama Asian Games dan Olimpiade. Dengan demikian, atlet yang diterjunkan di SEA Games adalah mereka yang terbaik. Levelnya internasional dan punya pengalaman segudang.

Jika demikian kesepakatannya maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menempatkan SEA Games sebagai peluang terbaik untuk menguji seberapa jauh, tinggi dan kuat para atlet  yang disiapkan ke level kompetisi lebih tinggi. Apalagi Asian Games 2018 akan diselenggarakan di negeri kita sendiri. Bukankah sukses prestasi adalah salah satu target tiap kita menggelar pesta olahraga antarbangsa.

Karena itu, justru seharusnya kontingen kita ke SEA Games 2017 bisa menjadi bayangan seperti apa kira-kira kekuatan atlet Indonesia di Asian Games 2018. Menduduki peringkat ala kadarnya pada SEA Games 2017 akan menjadi indikasi kontingen Merah Putih bakal menempati peringkat abal-abal pada Asian Games 2018. Semisal, di SEA Games 2017 kita tetap di peringkat lima atau lebih buruk, bisa dipastikan Indonesia selaku tuan rumah Asian Games 2018 sudah malu duluan sebelum event digelar.

Tadinya saya bayangkan di SEA Games 2017 para atlet Indonesia sudah akan mengenakan jaket dengan logo megah “AG 2018”, atau jargon penuh percaya diri, “The Team to Beat”.  Tentunya juga dengan jumlah atlet yang besar dan sekaligus dengan prestasi yang tidak sekadar numpang lewat. Kekuatan kontingen besar seakan sepasukan tentara yang ingin menginvasi sebuah negara. Percaya diri atlet pun membuncah.

Momennya juga sangat tepat. SEA Games 2017 adalah 40 tahun setelah di Kuala Lumpur pula kontingen Indonesia mengawali keikutsertaan dalam pesta olahraga bagi negara-negara Asia Tenggara itu. Pada SEA Games 1977 itu para atlet kita pun tampil dengan penuh gaya,“datang, bertanding, juara!”.

Sejarah kemudian juga mencatat, selama 20 tahun hingga 1997, kontingen Indonesia terus menerus menjadi juara umum, kecuali pada 1985 dan 1995, ketika Thailand menjadi tuan rumah. Sayang, sejak 1999 sejarah indah berubah menjadi karut marut akibat regenerasi yang terlambat.

Maka, sepertinya, langkah keliru pemerintah, dengan menganggap SEA Games tidak penting, akan membawa olahraga kita ke ruang yang rumit dan tidak jelas. Sejatinya, masih ada sedikit waktu untuk mengubah cara pandang. Masalahnya, sejauh mana kepentingan nasional berdiri di atas ego, akan terlihat di SEA Games 2017 ini.***

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 
 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA