#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Mengapa Harus Pelatih Asing (untuk Timnas)?
11 Januari 2017 05:00 WIB
593
0

Terus terang, ketika yang terpilih sebagai ketua umum PSSI pada kogres 10 November 2016 adalah Letjen Edy Rachmayadi, bukan Jenderal (Purn) Moeldoko, saya bertanya-tanya. Padahal, Moeldoko yang sudah purnabakti itu bisa lebih fokus dan punya banyak waktu mengurusi PSSI dengan segala permasalahannya.

Apakah Pak Edy, dengan jabatan sepenting dan sesibuk Panglima Kostrad, akan punya waktu untuk menjalankan tugas rangkapnya di PSSI dengan baik? Tanpa sedikit-sedikit dia menelepon wakilnya,“tolong ditangani dulu ya?” Soalnya, mengambil keputusan penting tidak bisa instan, sehingga memberikan disposisi kepada subordinat jadi salah satu jalan keluar.

Pertanyaan itu terjawab dalam dua fase pertarungan timnas kita melawan Thailand pada final Piala AFF 2016. Dia ada di Stadion Pakansari, Bogor, untuk menyemangati dan merayakan kemenangan timnas Merah Putih. Tiga hari kemudian ia juga ada di Stadion Rajamanggala, Bangkok, untuk tetap mendampingi Boaz Salossa dan kawan-kawan.
 
Jawaban berikutnya adalah kongres tahuan perdana PSSI periode 2016-2020 itu di Bandung, Minggu 8 Januari lalu. Pertemuan setengah hari itu bukan hanya dihadiri lengkap semua anggota dan pemangku kepentingan sepak bola nasional, tapi juga dibuka oleh Menpora Imam Nahrawi yang selama ini absen dan cenderung konfrontatif. Tokoh terpenting di persepakbolaan nasional hadir di Hotel Aryaduta. 

Lebih penting dari itu, seperti dilaporkan semua media, ada 13 agenda kongres telah mencapai keputusan dengan lancar. Dibahas dan diputuskan di bawah tepuk tangan gemuruh. Tak heran berita utama TopSkor di halaman sepak bola nasionalnya diberi judul “Semulus Jalan Tol”. Menggambarkan tak ada rintangan saat PSSI di bawah Edy berkongres untuk kali pertama.

Sebuah koran lain menyebut kesuksesan itu berkat  gaya kepemimpinan Edy yang layaknya “demokrasi terpimpin” di masa lalu. Malah ditambah kutipan kata-kata humor,“kalau tidak setuju kita selesaikan di luar”. Inilah mungkin gaya kepemimpinan khas sepak bola, praktis, mudah, dan terbuka. Lain kali setiap kongres PSSI mungkin juga akan berlangsung pada Hari Minggu, sehingga tak perlu cuti. Peserta kongres pun bisa memanfaatkan sisa hari untuk berwisata.

Soal pelatih
Keputusan kongres yang paling disambut masyarakat luas tentu saja pemulihan keanggotaan Persebaya Surabaya dan enam klub lain yang selama ini dikucilkan. Begitu pula dengan  rehabilitiasi terhadap tujuh mantan pengurus yang dianggap bermasalah, termasuk Ketua Umum PSSI 2011-2015, Djohar Airifin Husin.

Menggalang kekuatan nasional dengan mengajak sebanyak mungkin tokoh ikut terlibat tentu lebih baik.  Sayang, di tengah eforia kembalinya Persebaya mencuat pula berita tewasnya tujuh oknum Bonek akibat menenggak minuman keras oplosan. Jelas kini menjadi kewajiban Persebaya untuk juga menjadikan armada suporternya sebagai juara di luar lapangan. Dengan kata lain, membina suporternya agar lebih terdidik saat hadir dengan identitas Boneknya.

Diputuskannya Liga Super Indonesia (ISL) dengan 18 klub peserta akan diputar lagi mulai 26 Maret, juga melegakan. Artinya PSSI kembali kepada kompetisi yang benar. Tapi jumlah pemain asing sebaiknya jangan hanya dibatasi 2+1 (dua Non-Asia dan satu Asia).  Jumlah pemain asing yang diturunkan dalam setiap pertandingan juga jangan sampai mengorbankan porsi pemain lokal.

Kompetisi yang hebat, akan menjadi puncak gunung es dari industri sepak bola yang sukses. Salah satu dampaknya, pemain asing tergiur bermain di Indonesia dan meraup gaji besar. Namun yang paling penting adalah kompetisi harus menjadi kawah Candradimuka untuk lahirnya pemain-pemain timnas yang tangguh.  
 
Pertanyaan lain dari masyarakat menyangkut keputusan tentang pelatih timnas (senior dan U-23) yang hanya bertumpu pada dua kandidat asing. Kebetulan, semuanya dari Spanyol, Luis Fernadez dan Luis Mila. 

Pasti PSSI sudah mempertimbangkan para pelatih lokal, dan mereka, termasuk Rahmad Darmawan yang membawa timnas ke final SEA Games 2011, dianggap tidak lagi memenuhi syarat. Sebab, sesuai pernyataan Wakil Ketua Umum Djoko Driyono, Indonesia harus mampu mengulangi kesuksesan pada SEA Gmes 1987 dan 1991 dengan  menjadi juara di SEA Games 2017.

Dengan demikian, kalau persyaratan itu juga yang diajukan kepada Fernandez dan Mila, kita patut yakin mereka pun tidak akan bisa memberi jaminan. Bahkan pelatih sehebat Joachim Loew, misalnya, yang sudah  mengantar Jerman menjadi juara Piala Dunia 2014, tak akan mau membuat jaminan seperti itu. 

Artinya, kehadiran pelatih asing tidak otomatis membuat kita meraih emas di SEA Games 2017. Mengusung pelatih asing demi mendongkrak preastasi sah-sah saja, tapi menggaransi emas SEA Games, tidak tepat rasanya. Apalagi, kalau juga diminta membawa timnas ke final Asian Games 2018.

Kita pernah menikmati manfaat pelatih asing ketika Tony Pogacnik, asal Yugoslavia, menangani timnas selama enam tahun sehingga mampu membawa Ramang dan kawan-kawan ke Olimpiade 1956 dan merebut perunggu Asian Games 1958. Demikian juga Wiel Coerver, asal Belanda, yang memgantar timnas ke final Pra-Olimpiade 1976 dan final SEA Games 1979.

Tapi, patut dicatat, keduanya bisa mencapai hasil seperti itu bukan saja karena didukung oleh tersedianya pemain-pemain dengan kualitas yang hingga sekarang masih dikenang. Dari PSSI, Pogacnik, dan Coerver juga mendapat otoritas penuh dan jangka waktu bekerja yang relatif lama untuk berlatih,  berujicoba, dan merekrut pemain baru. 

Sebetulnya itu beda tipis saja dengan kondisi yang diberikan PSSI kepada Alfred Riedl. Tapi setelah enam tahun, ternyata pelatih asal Austria ini  hanya menghasilkan dua kali final Piala AFF. Bagaimana dengan Fernandez atau Mila, yang bakal mulai dari nol, dan jangan-jangan belum tahu apa-apa tentang profil sepak bola negeri ini?

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 
                 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA