#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Jilid Dua Penggusuran Arena Tenis Senayan
16 Februari 2017 05:00 WIB

Akan diselenggarakannya pertandingan tenis Asian Games 2018 di Palembang, bukan di Jakarta, mungkin bisa dianggap sebagai bagi-bagi kuota saja. Supaya seluruh 42 cabang dalam pesta olahraga Asia edisi ke-18 itu bisa lebih merata di kedua tempat.

Tapi, perkembangan terbaru, sebutlah jilid dua, seluruh lapangan dan stadion tenis dalam kawasan Gelora Bung Karno (GBK) di Senayan, akan digusur habis. Hanya tersisa “indoor tennis stadium” yang pada praktiknya terbuka bagi semua kegiatan olahraga lain, bahkan juga kegiatan bukan olahraga. Dengan kata lain, venue serbaguna yang diberi nama stadion tenis.

Pada Selasa, 14 Februari, Ketua Umum PP Pelti, Maman Wirjawan melalui Whatsapp (WA) memberi konfirmasi tentang hal itu dan menambahkan “Kita sedang dalam proses di Pengadilan”. Artinya, jalan musyawarah kembali mentah dan secara spontan saya pun membalas,“Pemerintah dan GBK memang kelewatan. Tidak punya hati. Tidak menghargai sejarah.” Tidak sulit bagi saya menentukan bahwa itu adalah tindakan pemerintah dan GBK itu salah.

Tentang tidak dihargainya sejarah, yang awalnya bisa ditarik mundur ke penyelenggaran Asian Games 1962 di Jakarta, dan terutama di kawasan Senayan, sudah pernah saya tulis di halaman ini. Tapi, tulisan itu ibarat menggarami laut.  Proyek penggusuran jalan terus. Tak ada pengaruhnya bagi para pengambil keputusan.

Memang, hanya medali perak dari nomor beregu yang bisa dihasilkan para petenis Indonesia pada AG 1962 itu. Tapi setelah itu, dengan terus berlatih dan bertanding, juga menyelenggarakan berbagai turnamen nasional dan internasional di sana, lahirlah bintang-bintang tenis Indonesia. 

Lita Sugiarto, Lany Kaligis, Atet Wiyono, Yustedjo Tarik, Tintus Arianto Wibowo, Yayuk Basuki, Amgelique Widjaja, adalah sebagian di antara para bintang itu. Dari mereka terkoleksi tidak hanya sejumlah medali emas Asian Games, dan lebih banyak lagi gelar kampiun SEA Gmes, tapi juga peringkat tinggi pada kejuaraan Piala Davis dan Piala Fed. Bahkan juga turnamen grand slam. 

Tanpa kriteria 
Apa yang membuat saya menganggap pemerintah dan GBK  “tidak punya hati”? Mudah saja, mereka terkesan mengubah arena tenis itu menjadi gelanggang untuk dua cabang lain yang seperti asal tunjuk, sofbol dan bisbol. Tanpa kriteria dan alasan yang kuat. Sungguh saya tak habis pikir. Lapangan tenis yang sudah jadi salah satu ikon di kawasan GBK itu hanya perlu renovasi agar menjadi cantik. Bukan dibangun ulang yang tentunya berbiaya sangat besar. 

Kedua cabor tersebut dipilih tampaknya  hanya karena sama-sama akan dipertandingkan pada AG 2018. Tapi, apakah prestasi mereka akan bisa mencapai tahap perebutan medali, hingga memberi kebanggaan kepada bangsa, atau hanya sekadar penggembira, tampaknya tidak menjadi bahan pertimbangan.
 
Demikian juga apakah seusai AG 2018 nanti agenda pertandingan sofbol dan bisbol di situ masih cukup banyak sehingga tidak mangkrak dan mubazir, juga tidak jelas. Padahal, menurut Direktur Pembangunan GBK, Gatot Tetuko, salah satu alasan digusurnya arena tenis karena jarang dipakai.

Ia bahkan dengan mudah mengatakan PP Pelti dan komunitas tenis tak usah bingung mencari arena untuk berlatih dan bertanding karena, masih di kawasan Senayan, terdapat 12 lapangan tenis di hotel Sultan. “Sama-sama harus bayar,” katanya menambahkan.

Pandangan Gatot yang lugas dan pragmatis itu bisa dimengerti. Sebab, sejak beberapa tahun terakhir, Sekretariat Negara (Setneg) sebagai pemegang hak kepemilikan atas kawasan Senayan, telah menetapkan GBK sebagai BLU (Badan Layanan Umum). Mereka tidak lagi mendapat subsidi, sebaliknya, “wajib setor” kepada Setneg atas hasil pengelolaan kawasan Senayan. 

Dengan kewajiban seperti itu, manajemen GBK mau tidak mau menjalankan kebijakan komersial penuh atas semua properti di dalam kawasan Senayan. Hal ini bahkan tengah membuat resah KONI, KOI, FORMI, dan semua organisasi olahraga yang berkantor di Senayan karena mereka tidak luput dari kewajiban membayar sewa ruangan beserta biaya pelayanannya.

Istana bulu tangkis
Manajemen GBK sekarang karena itu tidak bisa disamakan dengan pengelola GBK  pada era sebelumnya yang bisa dikatakan ramah dan dermawan kepada semua organisasi olahraga yang berkegiatan dan berkantor di kawasan eks lokasi AG 1962 itu. Mereka, dengan kebijakan baru Setneg, didorong menjadi perusahaan pencari laba. 
 
Maka, meski PP Pelti masih melakukan upaya hukum, tampaknya penggusuran total seluruh arena tenis Senayan tidak bisa dihindarkan lagi. Mungkin, meski pahit, lebih bijak menjadikan momen ini oleh seluruh komunitas tenis nasional untuk merenung dan mencari solusi. Mengapa bukan hanya frekuensi pertandingan berkurang tapi juga prestasi pemain tenis kita merosot. Tentunya, jika frekuansi event tetap ramai dan prestasi di kawasan regional relatif stabil, nasib lapangan tenis di Senayan bakal lain ceritanya.

Namun, kita masih patut mengimbau pemerintah agar cabor yang mendapat kehormatan untuk menggantikan tenis bukan sofbol dan bisbol, tapi cabor lain yang lebih pantas dan pasti  diterima semua pihak yaitu bulu tangkis. Alasannya bisa sangat panjang dan semuanya masuk akal. Pun dukungan bakal mengalir deras.

Dibanding dua cabor yang beum pernah memberi kontribusi medali emas kepada olahraga Indonesia itu,  bulu tangkis sudah sangat jelas memiliki deretan prestasi internasional yang membanggakan bagi negeri ini. Tujuh medali emas Olimpiade, sejumlah gelar juara Asian Games, SEA Games,  dan berbagai turnamen prestisius seperti All England, Piala Thomas dan Piala Uber, sudah pula mereka rebut. 

PBSI  sudah memiliki komplek Pelatnas sedniri di Cipayung, Jakarta Timur, tapi yang masih perlu dibangun adalah gedung megah dan modern yang katakanlah berkapasitas dua kali Istora Senayan. Dengan arsitektur khas Indonesia, “Istana Bulu tangkis” itu akan menjadi landmark istimewa bagi negeri para juara ini. Rasanya, ada masalah dalam pengambilan keputusan strategis di sini.***

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA