#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Dari Lapangan Hijau Menuju Nirwana
08 September 2017 04:25 WIB

SEPAK bola makin menunjukkan eksistensinya sebagai “agama”. Bagaimana tidak, kecintaan seseorang terhadap sepak bola menyaingi kecintaannya pada Sang Pencipta. Beribadah merupakan satu cara manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhannya. Namun apa daya, kecintaan ini harus bergeser ketika sebuah pertandingan sepak bola berlangsung. Ibadah itu akan dikesampingkan sebentar. Paling tidak, setelah prosesi sepak-menyepak itu rampung atau sedang rehat.

Para hamba agama sepak bola—yang berarti suporter, pemain, dan perangkat pertandingan— baru melangsungkan ritus keagamaan sesuai kepercayaan masing-masing. "Gurauan" di pentas sepak bola juga sering menyinggung agama maupun Tuhan. Ingatlah gol legendaris milik Maradona yang dihasilkan dari percampuran antara kerja keras manusia dan campur tangan Tuhan. "Gol tangan Tuhan" nan indah dan kontroversial sejagat itu terus menjadi milik Maradona hingga kini, bahkan jika ia telah menuju nirwana kelak.

Maradona memang cocok sebagai contoh betapa sepak bola adalah agama itu sendiri. Layaknya nilai-nilai agama samawi yang mengajarkan larangan dan anjuran. Sebagai seorang hamba sepak bola, Maradona merupakan simbol dari keduanya. Selain menghadirkan sebuah aksi mempesona lewat kaki-kaki mungilnya, Ia juga mewarisi gol kontroversial ke gawang Inggris yang diikuti oleh "keturunannya", Lionel Messi, saat bermain untuk Barcelona di era sepak bola industri.

Kelakuan Maradona di luar lapangan juga menjadi sorotan. Pesta seks dan kedapatan menggunakan doping mewarnai kiprahnya di lapangan hijau. Suporter sepak bola adalah model lainnya. Kecintaan terhadap satu klub sepak bola membuat mereka gelap mata. Fanatisme merubah wajah para suporter menjadi pribadi berbeda, beringas dan tak kenal belas kasih. 

Satu sisi, suporter merupakan orang-orang yang turut menjadi bagian kemenangan sebuah kesebelasan. Bahkan ketika sepak bola berubah menjadi industri, para pembesar klub memanfaatkan suporter sebagai komoditi guna mendulang materi. Namun kecintaan suporter itu tidak dirasakan Gianluigi Donnarumma dalam beberapa saat. Sebagai seorang pemain muda merangkap kiper hasil didikan akademi A.C Milan, ialah representasi kebangkitan Si Merah Hitam. Seiring meningkatnya kualitas di bawah mistar gawang, banyak klub meliriknya. 

Sebagai seorang anak muda yang masih meraba loyalitas seorang pemain terhadap klub, ia melakukan sebuah kesalahan elementer. Donna berani bermain dengan kontraknya. Ia membuat ulah dengan meminta kenaikan gaji selangit bahkan mengancam akan hengkang. Para hamba sepak bola Milan tidak tinggal diam. Geram dengan persoalan tersebut, mereka melakukan banyak aksi. Terakhir dan paling fenomenal, mereka mengguyur Donna dengan uang kertas mainan sebagai bentuk protes terhadap kelakuan Donna. Akhirnya tindakan ini membuat Donna sadar bahwa uang tak bisa membeli segalanya. 

Seluruh ajaran agama samawi mengajarkan hambanya tentang kedermawanan. Nilai tersebut juga nampak dalam agama sepak bola. Cristiano Ronaldo adalah salah satu bintang sepak bola dermawan. Ketika Indonesia dilanda duka akibat bencana tsunami pada 26 Desember 2004, Garuda diberi secercah harapan akan datangnya era baru yang mampu mengangkat martabat sepak bola di kancah internasional.

Martunis bukanlah siapa-siapa saat gelombang tinggi tsunami melanda Aceh. Anak itu sebatang kara kehilangan ibu serta sanak saudara pasca tsunami Aceh. Namun berkat rahmat Tuhan, ia selamat dari bencana mengerikan tersebut.  Saat ditemukan, Martunis mengenakan kaos kebesaran timnas Portugal dengan nama C. Ronaldo di punggungnya. Jadilah pemain Real Madrid ini mengangkatnya sebagai anak dan menyekolahkannya di akademi Sporting Lisbon, tempat ia pertama kali meniti karier profesionalnya. 

Dengan segala warnanya, sepak bola seakan menjadi agama yang semakin banyak pemeluknya. Sepak bola menjadi pelarian warga dunia ditengah masalah-masalah yang menimpanya. Pelarian ini murah dan sepele, tapi sepak bola mengajarkan harapan. Hal inilah yang dicari warga dunia sehingga rela membeli tiket ke stadion atau sekedar nonton bareng dengan warga lain walau tak saling kenal secara personal. Mereka diikat oleh satu hal, yaitu lambang yang menempel di jersey yang dikenakan.

Semua harapan hamba sepak bola tercurahkan dalam nyanyian, tulisan-tulisan, dan atribut yang suporter kenakan. Timbal baliknya adalah kegigihan para pemain di lapangan hijau lewat kaki pemain yang berlarian kesana kemari mengejar rezeki dari Si Kulit Bundar yaitu sebuah kemenangan. Amerika latin, tempat Maradona merangkak dan bermain bola untuk pertama kali adalah arena "perang" paling kentara antara agama-agama samawi dan agama sepak bola.

Ingatlah bahwa tak ada agama apapun yang membiarkan pembunuhan dan agama samawi jelas melarang penggunaan barang-barang yang merugikan manusia, termasuk narkoba, dan perdagangan manusia yang memisahkan ibu dengan bayinya juga amat dilarang. Namun pembunuhan, peredaran narkoba, serta perdagangan manusia amat besar terjadi di Benua Amerika. Dan ketika agama-agama samawi yang belum berhasil memberangus tiga masalah tadi, agama sepak bola memiliki sebuah penawar.

Agama sepak bola memainkan perannya, membawa anak muda potensial mendapat nafkah bahkan membalikan roda ekonomi keluarganya yang hidup dalam jerat kemiskinan. Maradona dan Neymar adalah contoh nyata. Bahkan Neymar kini mendapat label pemain termahal dunia berkat kepindahannya ke PSG. Jika keuangan sebuah keluarga lebih baik, maka tak ada yang berfikiran untuk menjual bayinya, tak ada orang menjual narkoba, dan membunuh demi menguasai wilayah tertentu sebagai daerah kekuasaannya yang menghasilkan upeti untuk pemimpin sebuah kelompok.

Layaknya "Tuhan", Si Kulit Bundar berhak memberi kegembiraan dan kesedihan pada hambanya. Prancis adalah negara unggulan dalam gelaran Piala Eropa tahun 2016. Maklum, skuat asuhan Didier Claude Deschamps merangkap sebagai tuan rumah dalam kompetisi tertinggi antar negara di Benua Biru.

Tim Ayam Jantan diisi oleh pemain-pemain hebat di klubnya macam Antoine Griezmann, Paul Pogba, Blaise Matuidi, dan Hugo Lloris. Namun, mereka gagal memanfaatkan keunggulan tersebut dan kalah satu gol pada babak final melawan kuda hitam, Portugal. Gol tunggal Tim Samba dari Eropa ini dicetak oleh pemain pengganti yang masuk di menit ke-79, Eder. Pemain asal Lille itu memecah kebuntuan di menit ke-109.

Setelah berhasil melepaskan diri dari penjagaan Laurent Koscielny, Eder melepaskan tendangan ke pojok kanan gawang Lloris. Kiper asal Tottenham Hotspur tak mampu menghalau lajunya bola. Rakyat Portugal berpesta berkat torehan sejarah ini, mengingat baru kali pertama Portugal mengangkat Piala Eropa. Dan tangis kesedihan menaungi publik sepak bola Perancis.

Tuhan, dengan hak prerogratifnya mampu mengambil nyawa manusia dari raganya. Si Kulit Bundar juga mampu melakukan itu. Di lapangan hijau, nyawa seseorang bisa hilang begitu saja menuju nirwana. Tanpa diduga dan tanpa perencanaan. 
Stadion Patriot Chandrabhaga, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (2/9/2017) menjadi saksi betapa fanatiknya publik sepak bola Indonesia. Dalam pertandingan uji coba melawan Fiji, tribune stadion dipenuhi warna merah, warna khas Timnas Indonesia. Warna merah tersebut juga yang menambah luka Indonesia akibat ditahan Fiji. Diakhir laga yang berkesudahan 0-0, sebuah cahaya merah terhempas ke udara menuju tribune timur stadion. 

Mata Catur Yuliantono memandang indah nyala merah yang mengarah padanya. Untuk beberapa saat ia mengulang momen tak terlupakan bersama keluarganya, orang yang dicintai, dan tentu orang terdekat yang meninggalkannya. Catur melayang tinggi ke awan. Hempasannya seperti lontaran cahaya merah nan indah dari arah tribune selatan Stadion Patriot Chandrabhaga.

Tak ada yang menangkap Catur untuk kembali menjejakan bumi. Dan yang tertinggal hanyalah merah di bangku tempat duduknya saat menyaksikan Timnas Indonesia, tim kebanggaannya. Catur melesat ke atas, menembus awan. Mencapai dimensi yang tak sembarang orang bisa menapakinya. Dan akhirnya ia sampai ke pemberhentian selanjutnya. Tempat kehidupan abadi. Dari lapangan hijau kini ia telah sampai di nirwana, lapangan hijau paling kekal.***

 

Diaz Abraham
Pemerhati Sepak Bola Internasional

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA