#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Papua Jangan Sampai seperti Katalan
10 Oktober 2017 05:00 WIB

Selama menjabat sebagai Presiden Indonesia, Soeharto selalu mengedepankan ketahanan pangan dan industrialisasi. Sehinga banyak pembangunan saat dia berkuasa. Namun, pembangunan yang Soeharto lakukan terpusat pada Pulau Jawa. Ia mungkin lupa bahwa Indonesia terdiri dari banyak pulau termasuk Pulau Papua di timur Indonesia.

Selain sektor ekonomi, Soeharto berhasil membuat iklim politik Indonesia sesuai dengan keinginannya. Kritik dan silang pendapat jarang sekali terjadi. Demonstrasi hanya sesekali dan tidak memiliki dampak besar, kecuali tahun 1998.
Bermodal pendidikan militer, ia menahkodai Indonesia menggunakan sistem politik hasil perasan pemikiran Soeharto sendiri yaitu demokrasi pancasila. Dalam praktiknya, sistem ini mirip dengan otoriter yang mengagungkan kekuasaan penguasa sebagai pemegang kendali tunggal.

Bicara soal Papua, semua orang pasti terkagum-kagum dengan keindahan laut serta kekayaan budaya di sana. Namun keindahan ini tidak diikuti dengan pengembangan infrastruktur. Papua dikenal sebagai wilayah yang minim prasarana bagi masyarakat. Sehingga banyak wisatawan yang berfikir dua kali untuk menjejakkan kaki ke pulau asal burung Cendrawasih itu. 

Tuhan memang maha penyayang. Dia memberi rahmat pada rakyat Papua yang seakan terpinggirkan dari Indonesia lewat kepiawaian menggocek si kulit bundar. Banyak pemain Timnas Indonesia yang berasal dari Papua, termasuk Salossa bersaudara. Tarian keduanya di atas lapangan hijau mampu menyihir pemain-pemain lawan dan keduanya merupakan tulang punggung timnas pada zamannya.

Jangan lupakan peran Persipura Jayapura. Klub asal Kota Jayapura ini selalu diperhitungkan dalam kancah persepak bolaan dalam negeri. Klub ini tak pernah kekurangan pemain-pemain berkualitas. Persipura juga dikenal sebagai tim yang solid karena mayoritas pemainnya merupakan anak-anak asal timur Indonesia dengan kemiripan budaya. Kemampuan antara pemain inti dan pelapis pun tak jauh beda.

Sebagai tim papan atas di pentas sepak bola Indonesia, pertandingan Persipura melawan tim hebat lainnya amat dinanti, termasuk melawan Persija. Klub berjuluk Macan Kemayoran merupakan klub sarat pemain timnas berkat suntikan dana dari Pemprov DKI beberapa musim lalu saat dana dari pemerintah bisa masuk ke klub. Pertandingan klub dengan ketimpangan ekonomi tersebut selalu panas. Lewat Persipura, Pemerintah Jayapura hendak berteriak lantang soal keberadaan mereka.
Permainan dari kaki ke kaki dan mengandalkan kemampuan individu setiap pemain menjadi model permainan tim Mutiara Hitam. Inilah warisan paling berharga dari  mantan pelatihnya asal Brasil yakni Jacksen F Tiago. Berkat gaya bermainnya, klub yang bermarkas di Stadion Mandala ini mampu bicara banyak di level internasional seperti menjejakkan kakinya ke babak semifinal Piala AFC 2014.

Mirip Katalan
Cerita soal Papua sebagai wilayah yang "diasingkan" walau memiliki banyak kelebihan, dalam sepak bola dan klub dengan prestasi mentereng mirip dengan kondisi Katalan. Wilayah yang dulunya memiliki otonomi khusus di Spanyol ini memiliki kultur sepak bolanya sendiri yang diaplikasikan dengan baik oleh FC Barcelona. 

Sepak bola menyerang dengan operan-operan pendek adalah ciri utamanya. Menyerang, tak kenal bertahan, dan gelap mata dengan nama besar lawan. Semua musuh di atas lapangan hijau dilahap lewat sepak bola nan mematikan dengan sebutan Tiki taka. 

Senada dengan menterengnya prestasi FC Barcelona, Katalan juga melahirkan pemain-pemain bertalenta yang dimanfaatkan oleh Spanyol untuk meneguhkan eksistensinya di kancah sepak bola dunia dan mayoritasnya berasal dari Akademi Barcelona atau akrab disebut La Masia. Carles Puyol, Cesc Fabregas, Gerard Pique, Sergio Busquets, Andres Iniesta, dan Xavi Hernandez adalah beberapa pemain jebolan akademi itu. 

Namun, dalam beberapa tahun belakangan, Barcelona seakan melupakan tradisinya untuk menggunakan talenta La Masia guna menambal kebutuhan klub yang mayoritasnya adalah keturunan Katalan. Kini, harapan menghidupkan tradisi tersebut membubung tinggi berkat kedatangan Ernesto Valverde yang dikenal sebagai pelatih dengan keahlian mengangkat pemain-pemain akademi klub.

Kiranya sepak bola merupakan propaganda ampuh untuk menunjukan bahwa Katalan masih ada dan terus melawan kerajaan Spanyol dengan klub raksasanya, Real Madrid. Terus berjuang dan melawan tanpa kenal lelah untuk memperjuangkan haknya yang dulu dirampas oleh Kerajaan Spanyol dan tangan besi Fransisco Franco.

Jenderal Franco adalah penguasa Spanyol sejak 1939 hingga akhir hayatnya pada 1975. Ketika kepemimpinannya, sang jenderal terkenal sebagai seorang dikator. Mirip dengan Soeharto yang memaksakan kultur Jawa yang lekat dengan penggunaan tentara untuk meredam segala riak dalam wilayah kepemimpinan. Franco juga melakukannya. Ia melarang bahasa Katalan dipakai dalam keseharian dan diganti dengan bahasa resmi Spanyol.

Demi meredam gejolak perjuangan rakyat Katalan, ia mengizinkan pengibaran bendera kebangsaan Katalunya di dalam stadion Barcelona. Dan, demi membungkam suara lantang dari Camp Nou, ia memfasilitasi Real Madrid sebagai alat perjuangannya di lapangan hijau untuk meruntuhkan dominasi dan semangat rakyat Katalan di tribune stadion.

Jangan heran jika banyak sekali fan Barca di Camp Nou yang membentangkan bendera berwarna kuning dan merah. Sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Katalan, jersey Barca pun memakai warna-warna Katalan. Berkat runtutan sejarah tersebut, jadilah pertandingan antara FC Barcelona dan Real Madrid menghadirkan banyak intrik, panas, dan dinanti publik Spanyol bahkan dunia. Jika boleh dikata, pertemuan keduanya adalah duel paling menarik dibanding derby Milan. 
Merasa terus didiskriminasi oleh Spanyol dengan “jatah” pembangunan tak sebanding dengan uang dari tanah Katalan kepada Spanyol, serta fakta bahwa Katalan merupakan salah satu penyandang devisa tertingi bagi Negri Para Matador, akhirnya mereka menggelar referendum pada 1 Oktober 2017. Hasilnya sudah bisa ditebak, 91 persen masyarakat Katalan memilih mendirikan negara sendiri. 

Lantas, akankah cerita Katalan ini menginspirasi Papua untuk memerdekakan diri dari NKRI mengingat ketimpangan dan besarnya potensi Papua beserta rakyatnya untuk berdiri sendiri? Tentu, pencinta sepak bola dalam negri mengharamkan kemungkinan ini karena NKRI adalah Papua dan Papua adalah NKRI.***

 

Diaz Abraham
Pemerhati Sepak Bola Internasional

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA