#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Hansaplast Liga TopSkor U-13, Berkarakter dan Cerdas
14 Oktober 2017 05:00 WIB

Kick Off Hansaplast Liga TopSkor (HLTS) U-13 edisi kesembilan pagi ini, Sabtu, 14 Oktober 2017, di Lapangan Universitas Trisakti Nagrak Ciangsana Bogor bisa dijadikan tolok ukur sistem kompetisi sepak bola usia muda Indonesia terbaik. LTS adalah kompetisi yang berkarakter. LTS konsisten turut berkontribusi dalam menggelar kompetisi sepak bola usia dini, hingga pemain-pemain lulusannya kini telah ber-jersey timnas U-16 dan U-19. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah, tentu.

LTS, menurut saya, adalah Kompetisi Sepakbola Usia Muda Berkarakter (KSUMB), telah menjadi magnet bagi sponsor. LTS yang telah teruji oleh waktu dan prestasinya, maka akan menjadi wadah yang sangat menguntungkan bagi siapa saja yang turut berjalan beriringan saling bahu membahu. Karenanya, LTS edisi kesembilan pun berganti baju menjadi Hansaplast Liga TopSkor (HLTS).

Hansaplast sudah hadir di Indonesia selama 57 tahun, tepatnya sejak sejak tahun 1960. 
Hal menarik, dalam setiap acara yang didukung produk Hansaplast, plester luka kesayangan masyarakat Indonesia ini tidak ketinggalan menampilkan ikon: Hansaboy. Kehadiran sosok Hansaboy melambangkan anak Indonesia yang aktif dan pemberani. 
 
Jadi, inilah alasan Hansaplast memberi dukungan terhadap penyelenggaraan LTS U-13. LTS adalah wadah paling pas untuk membuktikan peran nyata Hansaplast bagi para pemain yang terlibat. Sesuai ikon-nya, pemain-pemain di  HTLS juga diharapkan menjadi anak-anak Indonesia yang aktif dan pemberani. 

Selain Hansaplast, LTS juga didukung penuh oleh SPECS. Siapa yang tidak mengenal SPECS? Apparel olahraga buatan Indonesia ini sangat peduli dengan kegiatan-kegiatan olahraga yang mengedepankan atlet-atlet muda Indonesia. 

Hadirnya Hansaplast sebagai sponsor utama dan SPECS semakin melengkapi ciri/karakter LTS. Ciri dari karakter LTS yang kini menjadi HLTS, selain sangat cermat dalam regulasi permainan dan pertandingan, LTS juga sebagai wadah kompetisi yang sejalan dengan program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan pondasi pendidikan karakter. 

Faktanya liga ini telah membentuk pemain dan pelatih berkarakter dengan adanya Tim Teknik Studi Grup (TSG). Bahkan  kirteria pemain terbaik yang sebelumnya ada enam, kini bertambah menjadi sembilan. Sementara, kriteria pelatih terbaik yang sebelumnya hanya ada empat, pun bertambah menjadi tujuh.

Enam kriteria pemain terbaik sebelumnya: teknik, fisik, taktik, mental, memiliki kontribusi terhadap tim, dan memiliki pengaruh mengubah hasil pertandingan. Kini, First touch: kontrol, sentuhan pertama dengan bola; Running with the ball: kemampuan berlari dengan bola; 1vs1: kemampuan duel satu lawan satu; Striking the ball: keahlian menendang bola, passing, shooting, cross, dan heading; Contribution/Influence: kontribusi dan pengaruh bagi tim di lapangan; Communications/Team work: komunikasi dan kerjasama dalam permainan; Decision making: pengambilan keputusan dalam permainan; Competitiveness: kerja keras dalam permainan; dan ABC: ketangkasan atletik.

Kriteria pelatih terbaik sebelumnya: mengorganisasi pemain dan orangtua, sikap dalam memberikan arahan, pengaruh pelatih dalam permainan, serta pengaruh pelatih dalam hasil akhir. Kini: Performance: cara berpenampilan dan berpakaian; Attitude: sikap dan perilaku di pinggir lapangan; Reaction: reaksi dan respons dalam situasi permainan; Organisations: pengorganisasian pemain sebelum, saat, dan setelah pertandingan; Tactical approach: pendekatan dan pemilihan taktik yang dilakukan; Style of play: memiliki identitas permainan; Leadership: kepemimpinan.

Dari kriteria yang ditetapkan, setiap pemain yang dinobatkan sebagai man of the match nantinya berhak mendapatkan bingkisan dari Hansaplast. Sedangkan gelar player of the week akan mendapat penghargaan dari co-sponsor SPECS. Pelatih terbaik di setiap bulannya juga akan mendapatkan penghargaan coach of the month yang dipersembahkan oleh SPECS.

Dampak Penghargaan
Dampak dari penghargaan sesuai kriteria/standar kompetensi tersebut, maka akan menuntun pemain dan pelatih untuk menunjukkan kemampuan terbaik di setiap pertandingan. Mengingat kompetisi ini digelar setiap Sabtu dan Minggu, belum lagi setiap tim juga menyiapkan latihan dua atau tiga kali di hari lain, maka bila dikalkulasi, setiap pemain dan pelatih akan selalu membiasakan diri setiap harinya  dengan berbuat dan bertindak positif.

Luar biasa. Kriteria-kriteria tersebut jika diikuti dengan kesadaran tinggi, maka akan mengakar dan mendarah daging pada diri setiap pemain dan pelatih. Bukan hanya secara teori, tetapi juga terpapar langsung di lapangan. Dalam berbagai literature, kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang, didahului oleh kesadaran dan pemahaman, akan membentuk karakter seseorang. Dengan demikian, kita punya harapan besar pada liga ini, karena setiap pemain dan pelatih akan terbiasa dengan sembilan dan tujuh karakter yang secara khusus diterapkan dalam pertandingan. Lebih luasnya, mereka dapat menerapkan di kehidupan sehari-hari, dengan tema dan  kegiatan yang berbeda.

Selain itu, jelas sekali event ini sejalan dengan program pemerintah melalui Kemendikbud yang mengamanatkan kepada seluruh institusi kelembagaan pendidikan untuk menerapkan pendidikan berbasis karakter, mengadopsi pendidikan karakter seperti pada kurikulum pembelajaran di sekolah formal, yaitu Kurikulum 2013 (K-13), karena ajang ini telah terbukti melahirkan calon pemain masa depan yang mumpuni dan berkarakter.

Edisi Cerdas
Selain konsisten dengan berkarakter, edisi kesembilan HLTS ini saya sebut sebagai edisi cerdas! Strategi kreatif yang dilakukan komite Liga TopSkor semakin ditingkatkan citranya dengan menghadirkan brand ambassador. Keahlian Valentino dalam hal komunikasi massa dan motivasi akan dituangkan dalam kegiatan di luar pertandingan. Mulai berbagi ilmu usai pertandingan atau kegiatan kelas di markas masing-masing tim. “Penampilan timnas U-19 di Piala AFF U-18 serta timnas U-23 di kualifikasi Piala Asia dan SEA Games, mencerminkan bagaimana psikologis pemain-pemain kita (timnas). Mudah terpancing emosi yang akhirnya merugikan tim. Kami ingin sejak usia muda pemain sudah teredukasi soal mengontrol emosi ini,” kata Direktur Hansaplast Liga TopSkor U-13 Yusuf Kurniawan.

Hadirnya Valentino “Si Jebret” yang akan mendampingi, membina, dan mengarahkan pemain dari sisi intelektual dan personalitas (psikologi), akan bersinergi dengan pembinaan dan pelatihan di setiap SSB peserta kompetisi yang dilakukan oleh  tim pelatih (aspek teknik dan kecepatan/fisik). Sebuah kerjasama yang sangat positif untuk membangun karakter anak.

Dengan demikian, HLTS kali ini benar-benar telah mengakomodir pola pembinaan, pelatihan, dan kompetisi yang semakin melengkapi standar pemain sepakbola menuju cerdas teknik, intelektual, personalitas, dan kecepatan. Maka, garansi pemain terbaik yang mumpuni dalam empat aspek cerdas tersebut, akan sangat membantu pergerakan dan pencapaian PSSI dalam meregenerasi pemain andal yang memenuhi standar pemain timnas di setiap levelnya.

Bagi pemain yang tidak terpilih masuk timnas, maka pembinaan, pelatihan, dan kompetisi HTLS ini akan tetap membantu (individu dan tim) dalam mengaplikasikan ilmu cerdas empat aspek di kehidupan nyata. Secara pedagogik, pemain, pelatih, pengurus, orangtua, dan seluruh stakeholder yang terlibat dalam HTLS, akan cerdas kognisi, afektif, dan psikomotor yang dapat diterapkan dalam setiap jejak langkah kehidupannya.  HTLS menjadi kampus yang memproses pembentukannya, karena HTLS edisi kesembilan Berkarakter dan Cerdas!***

Drs. Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA