#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Kemenangan Sunyi
15 November 2017 04:25 WIB

Italia melalui di kualifikasi Piala Dunia 2018 dengan hasil akhir yang mengejutkan. Dijagokan akan merebut salah satu tempat di Rusia tahun depan, Negeri Piza itu akhirnya harus rela tempat itu direbut oleh Swedia. Di pertandingan pertama yang berlangsung di Solna, Swedia, Gli Azzurri menyerah lewat gol tunggal Jakob Johansson. Kemudian di laga kedua yang berlangsung di San Siro, Italia yang memainkan empat pemain di lini serang tak mampu mencetak satu gol-pun. 

Italia tidak hanya kala agregat gol, tapi juga bisa disebut kalah head to head dengan Swedia karena mereka memang tak mampu mengalahkan negeri Viking kuning dari dua kesempatan terakhir yang tersedia. Padahal, setelah undian play-off, Italia sangat dijagokan lantaran “hanya” bertemu Swedia yang notabene levelnya di bawah mereka.

Bicara head to head, rasanya masih hangat di kepala bagaimana Bhayangkara FC resmi menjadi juara baru Liga Indonesia (kini disebut Liga 1). Itu setelah Bhayangkara menang head to head dengan Bali United. Sama-sama mengumpulkan nilai 68, BFC dinobatkan sebagai juara karena rekor pertemuannya dengan Bali United di musim ini sangat dominan, dua kali pertemuan baik di Bekasi maupun di Gianyar berhasil dimenangkan oleh Evan Dimas dan kawan-kawan. 

Sesuai aturan kompetisi, maka saat ada dua tim meraih poin yang sama maka syarat head to head harus dikedepankan. Kontroversi kemudian merebak karena BFC dianggap diuntungkan oleh komdis PSSI yang memberi kemenangan gratis. Ketika BFC berjumpa Mitra Kukar, Sissoko yang statusnya terhukum dimainkan. Laga berakhir dengan imbang tapi The Guardian mengajukan protes di kemudian hari, Komdis menganggap Mitra memainkan pemain ilegal dan menghukum Naga Mekes dengan kekalahan 0-3. Sebuah hukuman yang sesungguhnya tak asing dalam dunia sepak bola, di belahan dunia lain Real Madrid pernah mengalami kejadian serupa.

Masalahnya, situasi di negeri ini memang berbeda. Keputusan ini menjadi nada sumbang yang mengiringi gelar juara perdana Bhayangkara FC. Begitu kencang nada sumbang menggema mempertanyakan kepantasan pasukan Simon McMenemy menjadi jawara. Padahal, sungguh tak mudah mempertahankan konsistensi permainan di Liga 1 dan Bhayangkara bisa memperlihatkan itu.

Pantas Juara
Terkesan membela Bhayangkara? Mari kita lihat data mereka di musim ini. Bermain sebanyak 34 kali, Evan Dimas dan kawan-kawan meraih 22 kemenangan. Hanya ada dua tim di Liga 1 musim ini yang mampu mencetak lebih dari 20 kemenangan. Mereka adalah Bhayangkara FC dan Bali United. 

Selain itu, Bhayangkara juga mencetak 11 laga tak terkalahkan secara beruntun yang mereka catat dari awal agustus hingga pertengahan oktober 2017. Pasukan Simon pun sukses merebut sembilan kemenangan di kandang lawan, catatan ini jauh lebih baik dibanding rival-rival mereka.

Ketika PT LIB menerapkan regulasi pemain U-23 dan kemudian mencabutnya di tengah jalan serta tetap berlangsungnya kompetisi saat SEA Games berjalan, Bhayangkara tetap tampil konsisten kendati ditinggal sejumlah pemain seperti Evan Dimas dan Putu Gede. Hasil positif tetap mereka raih lantaran tim telah terbentuk dengan sangat baik dan saat ditinggal pemain andalan, situasi tidak memengaruhi Bhayangkara.

Faktor Simon
Jika kita mengingat apa yang terjadi di Piala AFF 2010 lalu, Filipina secara mengejutkan menembus babak semifinal. Melawan Indonesia, mereka memilih memainkan laga kandang di Jakarta bukan Manila. Alhasil, Indonesia yang dilatih oleh Alfred Riedl memanfaatkan betul keputusan Filipina tersebut.
 
Indonesia berhasil melaju ke final, tapi permainan tim Merah-Putih tak impresif bila dibandingkan babak grup. Filipina mampu melakukan perlawanan yang luar biasa, mereka hanya gagal mengadang keajaiban Cristian Gonzales. El Loco tampil dua kali menjadi pahlawan kemenangan saat itu lewat gol tunggalnya.
 
Filipina yang impresif pulang dengan kebanggaan, kebangkitan negeri yang dipimpin oleh Rodrigo Duterte dimulai sejak itu. Siapakah pelatih Filipina saat itu? Ya, dialah Simon McMenemy, pelatih Bhayangkara FC sekarang.

Pelatih berusia 40 tahun sepertinya paham betul bagaimana bekerja dalam kesunyian. Tak ada komentarnya yang membuat gaduh. Simon telah memberikan latihan dan strategi bermain yang sangat tepat untuk timnya. Dia berhasil mengeluarkan potensi terbaik anak asuhnya, ketika sadar pasukannya bukanlah tim yang didukung oleh banyak suporter. Ketika Evan Dimas dan Putu Gede disibukkan dengan dengan agenda tim nasional, Simon melahirkan kembali sosok Alfin Tuasalamony yang nyaris terlupakan karena cedera. 

Demikian juga sosok Wahyu Subo Seto dan Teuku Muhammad Ichsan yang sinarnya mulai terang. Jangan lupakan pula bahwa Bhayangkara kehilangan Otavio Dutra dan Indra Kahfi di jantung pertahanan jelang Liga 1 usai. Apa yang dilakukan Simon? Alih-alih merengek bahwa materi pemainnya tidak bagus, dia berhasil menyulap Jajang Mulyana menjadi bek tangguh sehingga target juara tetap terpenuhi.

Bhayangkara FC mungkin memang kontroversial, perjalanan klub yang rumit menjadikan mereka hanya jadi cibiran. Tak hanya di tahun ini, namun sejak tahun lalu. Tapi, seperti halnya Bandung Raya di masa lampau, atau pun kejutan Leicester City di musim 2015/16, fakta di lapangan hijau menyebutkan berkat kombinasi antara potensi pemain muda, pemain asing yang bagus, pelatih berkarakter, dan kesunyian menghasilkan gelar juara.

Kini, tugas Bhayangkara FC di masa depan tidak lebih mudah. Fakta bahwa mereka belum mengantongi Lisensi AFC merupakan bukti langkah mereka untuk menjadi klub yang ideal masih panjang. Kita menunggu apakah mereka serta klub-klub indonesia lainnya akan konsisten untuk mengejar segala ketertinggalan.

Di sisi lain, mungkin sepak bola negeri ini bisa terinspirasi dari perjalanan mereka yang berhasil meraih sukses ditengah kesunyian. Ambil napas panjang, isolasi diri dari hiruk pikuk, tentukan prioritas, dan jalankan rencana dengan baik. Ingat, proses tidak akan pernah membohongi hasil.* Bagus Priambodo

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA