#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Tavecchio dan Ventura
15 November 2017 04:00 WIB

ITALIA dan Swedia. Dua negeri yang bertolak belakang. Latin dan Nordic, hangat dan dingin. Italia yang sangat terbuka dibandingkan dengan Swedia yang terkesan tenang. Dari sisi sepak bola, jelas Italia jauh lebih besar dengan empat kali juara Piala Dunia, dengan glamournya kompetisi Seri A. Sebaliknya, pencapaian Swedia hanya sebagai runner-up pada 1958, ketika mereka menjadi tuan rumah.

Namun, meski memiliki bobot yang jauh lebih berat dalam sepak bola, Italia membuat serangkaian langkah yang keliru yang mengakibatkan mereka gagal ke putaran final Piala Dunia 2018. Pertama, tidak perlu diragukan lagi bahwa mereka salah memilih atau mengangkat pelatih. Gian Piero Ventura. Namanya mengingatkan kepada film Ace Ventura, yang diperankan aktor Jim Carry, sebagai detektif perhewanan.

Ventura mendapatkan tugas tersebut pada 7 Juni 2016, menggantikan Antonio Conte. Keputusan FIGC memilihnya karena kiprahnya yang mengesankan bersama Torino. Di tangan Ventura, Torino promosi dari Seri B ke Seri A pada 2011 dan membawa tim ini sampai ke 16 besar Liga Europa 2015. Namun, keputusan federasi sepak bola Italia itu tetaplah mengejutkan. Ventura tidak dinilai tidak menginspirasi seperti halnya Conte.

Ventura ketika itu 68 tahun saat resmi sebagai pelatih Italia dan tidak pernah sekalipun melatih klub besar Seri A. Jadi, memilih Ventura adalah kesalahan Italia sejak awal. Yang kedua, Italia menutup mata terhadap potensi deretan pemain muda. Namun, seperti halnya kegagalan timnas, ada kemungkinan pula kesalahan atau kelemahan di jajaran pengurus FIGC. Ya, sasarannya adalah Presiden FIGC, Carlo Tavecchio.

Tavecchio ikut menjadikan atau membentuk sepak bola Italia bagaikan tim yang penuh dengan generasi tua. Tavecchio, 74 tahun, adalah simbol yang mengutamakan usia yang lebih tua lebih memiliki nilai dibandingkan dengan yang muda. Tavecchio yang mengangkat Ventura, pelatih yang pada Januari nanti akan berusia 70 tahun. Lalu, “rumus” ini juga diikuti Ventura dengan tetap mempertahankan pemain old guard seperti Daniele De Rossi (34 tahun) dan Andrea Barzagli (36 tahun).

Tavecchio terpilih pada 2014 lalu. Ada 18 dari 20 klub Seri A yang mendukungnya. Jadi, para pengurus klub Seri A juga memiliki andil dalam kegagalan Italia ini. Ketika itu, lawan atau pesaing Tavecchio adalah sosok elegan yang sangat ahli dalam sepak bola Italia: Demetrio Albertini.

Yang lebih ironis, Tavecchio memenangkan pertarungan menjadi presiden FIGC hanya sepekan setelah dia menyatakan kalimat bernada rasisme: “Pemain hitam sebelumnya memakan pisang sebelum bermain di Italia”. Jadi, Italia telah merasakan akibat dari sikap rasisme sang presiden.

Meski demikian, semua ini bukan hanya soal di luar lapangan. Pada akhirnya, kapasitas Ventura sang pelatih menjadi pusat dari kegagalan Italia. Ventura gagal memaksimalkan potensi yang dimiliki timnya. Dia memang memanggil Jorginho dan Lorenzo Insigne (keduanya pemain Napoli).

Namun, Ventura tipikal pria tua yang tidak bisa dikritik. Ketika Insigne menyatakan “pelatih tahu karakter permainan saya” saat diturunkan bukan pada posisi semestinya, Ventura sepertinya menganggap sebagai kritik. Semua itu terjadi pada pertemuan pertama lawan Swedia di Stockholm. Di laga kedua, dia benar-benar tidak menurunkan Insigne. Insigne hanya sebagai cadangan sepanjang 90 menit!*Irfan Sudrajat

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA