#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Main Fingerboard Langsung Ingat Masa Kecil
22 November 2017 04:25 WIB

Dahulu permainan fingerboard dikenal dengan nama techdeck. Mungkin itu sebutan di era 1980-an dan 1990-an. Pengertiannya tetap sama yaitu miniatur skateboard bernama fingerboard yang dimainkan dengan menggunakan dua jari, yakni telunjuk dan tengah.

Menurut Dimas  Pradana  salah satu anggota senior Fingerboarder Palmerah Jakarta (FPJ), asyiknya  memainkan skateboard berukuran mini, langsung teringat masa kecil. Uniknya, semua trik yang dimainkan pada fingerboard tidaklah berbeda dengan skateboard, seperti ollie, flip, dan kick flip.

Jika skateboard menggunakan dua kaki maka fingerboard menggunakan dua jari, telunjuk dan tengah. “Jari telunjuk dapat di ibaratkan sebagai kaki kiri dan jari tengah adalah kaki kanan,” kata Dimas sambil menaruh kedua jarinya di atas papan berukuran 7,6 sentimenter. 

Dimas pun mengaku, permainan fingerboard di Jakarta telah berkembang lantaran sudah banyak komunitas fingerboard yang tersebar di Jakarta. “Harganya sekarang juga jauh lebih murah dibandingkan delapan tahun lalu,” kata Dimas, 25 tahun. “Jika ingin memiliki satu set fingerboard bisa merogoh kantong berkisar Rp 150 ribu.” 

Fingerboarder Palmerah Jakarta sendiri dibentuk pada 2010. Awalnya FPJ bernama Palmerah Fingerboarder, karena nama itu terkesan seperti brand, para  fingerboarder memutuskan merubah nama perkumpulan mereka. “Nama brand fingerboard biasanya dimulai dengan awalan nama brand dan akhirannya fingerboard,” tutur Dimas.
 
Meski begitu, komunitas ini terbentuk berkat sang  founder Ridho Hazbullah. Kala itu ia hanya bermain berdua dengan rekannya. Siapa sangka, banyak para pehobi fingerboard yang bergabung bersama Ridho. Saat itulah Ridho memutuskan untuk mematenkan perkumpulannya dengan membuat komunitas. 

Kini, FPJ telah memiliki 25 anggota aktif. Fingerboard tak mengenal usia, artinya semua usia dapat memainkan miniatur skateboard ini. Tak perlu pusing mencari tempat untuk melakukan lompatan, lantaran fingerboard dapat dimainkan di mana saja. Seperti yang dilakukan FPJ, mereka berkumpul untuk mengulik bersama di salah satu minimarket yang terletak di bilangan Jl. KH Syahdan, Palmerah, Jakarta Barat. Mereka hanya membutuhkan sebuah meja bundar untuk belajar trik.
 
Menurut Ridho, fingerboard bisa dikategorikan sebagai olahraga. Layaknya catur permainan ini juga membutuhkan olah pikir ketika memainkannya. “Selain ketangkasan jari, fingerboard juga dapat melatih syaraf motorik,” ucap Ridho. “Lebih dari itu fingerboard juga telah menjadi gaya hidup seperti skateboard.”

Seperti diketahui, fingerboard juga memiliki tempat khusus bermain yang dinamakan fingerpark. Namun, fingerpark di Jakarta terbilang minim. Padahal, fingerpark merupakan salah satu elemen penting bagi para fingerboarder. Selain itu, juga dapat dijadikan wadah untuk belajar sesama pehobi fingerboard.  “Fingerpark hanya ada di kawasan Blok M dan Jakarta Utara,” tutur Ridho.

Jika dilihat, fingerboard sangat mudah untuk dimainkan. Nyatanya cukup sulit untuk melakukan teknik dasar ollie. Menurut Ade Herlambang, teknik ollie merupakan sebuah kunci untuk mengembangkan trik-trik lain seperti kick flip. “Jika trik ollie sudah dikuasai maka akan mudah belajar trik-trik lain,” kata Ade Herlambang, remaja yang telah menekuni fingerboard sejak duduk di bangku SMP.*Dedhi Purnomo/CR10


Anggota Fingerboarder Palmerah Jakarta 
Ridho Hazbullah, Dimas Pradana, Busthomi Algifari, Rizky Pratama, Fajar Wahid, Selamet Ervan, Rizky Arianda, Muhammad Wandi, Ade Herlambang, Muhammad Alvin, Adi Odank, Muhammad Marulli, Muhammad Rafli, Thomas, Faris Jarot, Ivan Fahlevi

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA