#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Meladeni Islandia dan Piala Presiden 2018
11 Januari 2018 04:21 WIB

TAHUN ini (2018), dapat disebut sebagai tahun sepak bola nasional. Sepak bola nasional menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Apa pasalnya? Tolok ukur maju dan berkembangnya sepak bola sebuah negara tidak lain dan tidak bukan dilihat dari fakta prestasi tim nasionalnya. Berdasarkan rilis resmi dari FIFA, Kamis (21/12/2017), Indonesia berada di peringkat ke-162 atau turun delapan peringkat dari daftar sebelumnya yang dirilis Kamis (23/11/2017).

Namun demikian, posisi ke-162 tetap menempatkan Indonesia aman di posisi lima besar negara Asean di bawah Vietnam (112), Filipina (124), Thailand (130), dan Laos (140). Artinya, dalam periode 2017, perkembangan sepak bola nasional disimpulkan cukup signifikan meningkat sejak tampuk kepengurusan PSSI baru. Saat awal pengurus PSSI baru mengemban tugas di awal 2017, berdasarkan rilis peringkat FIFA, Kamis (22/12/2016), Indonesia berbagi tempat bersama tim Kuwait di posisi ke-171 dengan poin sama (120). Bagaimana cara mempertahankan peringkat FIFA?

Islandia Sekuat Apa?
Agenda pertama timnas Indonesia pada 2018 telah dipastikan, yaitu menghadapi Islandia, kontestan Piala Dunia 2018 Rusia, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta pada 14 Januari 2018. Laga ini berselang tiga hari, karena Islandia harus terlebih dahulu meladeni Indonesia Selection di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (11/1/2018). Meski uji coba timnas tidak mendapat poin dari FIFA, namun menghadapi tim kontestan Piala Dunia, akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh penggawa timnas yang memiliki tugas melanjutkan prestasi sepak bola nasional di tahun 2018.

PSSI sendiri belum merilis rencana uji coba lain, tetapi yang pasti tim Garuda wajib memanfaatkan kalender pertandingan internasional resmi FIFA 2018 untuk mendulang poin, yaitu pada 19-27 Maret, 3-11 September, 8-16 Oktober, dan 12-20 November. Laga lawan Islandia akan menjadi momen yang sangat istimewa, karena inilah kali pertama timnas menginjakkan kaki kembali di stadion terbesar milik Indonesia setelah direnovasi dengan nilai Rp 769,7 miliar.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, sudah memberi izin kepada PSSI untuk menggelar duel timnas Indonesia lawan Islandia di SUGBK, sekaligus menguji sekuat apa timnas Islandia? Di luar persoalan peringkat FIFA, tahun 2017 memang menjadi tonggak kebangkitan sepak bola nasional di semua lini. Mengapa timnas berprestasi dan dibuktikan oleh posisi dalam urutan FIFA? Karena segala lini yang mendukung gempitanya sepak bola nasional benar-benar saling beriringan.

Seluruh stakeholder persepakbolaan nasional benar-benar saling bahu membahu mewujudkan pembinaan, pelatihan, dan kompetisi hingga sepak bola nasional benar-benar menjadi industri. Untuk menopang prestasi timnas, dari segi kompetisi, PSSI menggelar kompetisi mulai dari U-15 dan U-17 yang digelar oleh Askot/Askab/Asprov hingga tingkat nasional. Berikutnya Liga Nusantara, Liga 3, Liga 2, dan Liga 1.

Sedangkan dalam pelatihan, pembinaan, dan kompetisi sepak bola di akar rumput (usia dini dan muda) pihak swasta turut bahu membahu memfasilitasi lahirnya kompetisi berjenjang usia 8, 10, 12, 13/14, hingga usia 15/16 tahun. Maka, tidak ayal bila timnas U-15/16 dan U-18/19 prestasinya cukup mengilap di 2017 karena subsidi pemain dari hasil kompetisi dan liga swasta. Demikian juga dengan timnas U-23 dan timnas senior.

Lebih membanggakan lagi, pihak swasta yang menggilai sepak bola, khususnya di akar rumput, juga saling berjibaku membentuk wadah, memutar kompetisi lokal hingga tingkat nasional. Hingga 2017, saya mencatat ada lima perkumpulan/asosiasi yang sama-sama mengakomodir anggota dari Sekolah sepak bola/Akademi sepak bola/Diklat sepak bola, dan sama-sama memutar kompetisi. Sayangnya, perkumpulan atau asosiasi swasta ini terkesan berebut mendapatkan anggota serta terkesan ingin menonjolkan diri hingga saling bersaing macam partai politik.

Padahal menu yang diolah sama-sama Sekolah/Akademi/Diklat sepak bola juga. Dan terkesan mengabaikan fungsi, peran, dan kedudukan Askot dan Askab di wilayahnya masing-masing di seluruh Nusantara. Ironisnya, para anggota kelima 
perkumpulan/Asosiasi tersebut tetap berebut tempat dalam Liga/Kompetisi U-8, 10, 12, 13/14, dan 15/16 yang digelar pihak swasta, bahkan rela berkutat melalui jalur play-off untuk mendapatkan label peserta Divisi Utama atau Divisi I.

Namun, apapun masalah dan persoalannya, keberadaan pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi di akar rumput yang digelar pihak swasta maupun perkumpulan/asosiasi yang saling bersaing, tetap mengindikasikan bahwa publik sepak bola nasional memang sangat peduli terhadap perkembangan sepak bola Indonesia.

Kondisi tersebut sekaligus memahami keterbatasan PSSI dalam menyentuh sepak bola akar rumput yang masih menjadi utopia. PSSI lebih memilih program-program yang benar-benar berbau industri, berbau komersil, alias lebih peduli pada program-progam yang membawa keuntungan finansial semacam Liga 2, Liga 1 hingga Piala Presiden.

Piala Presiden
Mengawali langkah pesta sepak bola nasional pada 2018, Piala Presiden akan menjadi pembuka jalan. Piala Presiden 2018, yang sejatinya adalah perubahan wujud dari spirit Piala Soeharto, sekitar 42 tahun yang lalu. Saat itu, Ketua umum PSSI dijabat oleh tokoh yang kontroversial, Bardosono. Namun, turnamen berlangsung seru dan disaksikan ribuan penonton di Stadion Utama Senayan, lalu melahirkan PSM Makasar sebagai juara.

Sebelum menjadi juara PSM harus berjibaku meladeni tiga tim Perserikatan terbaik lainnya hasil Kompetisi Perserikatan PSSI 1974/75. Kendati ajang Piala Presiden 2017 sukses, peserta juga dari klub kasta tertinggi Liga Indonesia plus juara 1 dan 2 Divisi Utama (saat itu), namun publik sepak bola nasional masih banyak yang memperdebatkan mengapa Piala yang mengatasnamakan Presiden, hanya menjadi ajang pra musim.

Perdebatan wajar saja terjadi, namun ternyata, Presiden Joko Widodo justru tidak mempersoalkan status Piala Presiden itu sendiri. Justru dengan turunnya Presiden ke dalam lapangan sekaligus membuka dan menutup ajang tersebut, menjadi vitamin tersendiri bagi seluruh tim, bahwa ajang sebenarnya Liga 1 yang akan digelar PSSI benar-benar menjadi ajang kompetisi yang sarat gengsi dan prestasi.

Dengan demikian, status Piala Presiden sebagai turnamen pra musim Liga 1 justru memiliki nilai jual dan daya beli tinggi bagi pihak sponsor dan media televisi yang membeli hak siarnya. Karena itu, walau pembagian grup dianggap rancu, tanpa proses drawing melainkan dilakukan langsung oleh operator, dapat saja dianggap melanggar tata cara sportivitas turnamen. Sisi sportivitas diabaikan demi membela sisi komersil dan keuntungan.

Hal ini dilakukan oleh operator dengan mempertimbangkan empat hal yang menjadi pemikiran di dalam menentukan grup. Pertama, penunjukan tuan rumah. Kedua, klasemen satu sampai lima di Liga 1 tidak bertemu pada babak penyisihan grup. Ketiga, sisi jarak tempuh untuk mengefisiensikan klub-klub yang akan bertanding.

Keempat, sisi komersial, pihak host broadcaster menginginkan agar turnamen berjalan lancar, menarik, penontonnya banyak, dan rating menjadi tinggi. Inilah alasan mengapa pembagian grup seperti demikian di Piala Presiden 2018 yang akan kick off 16 Januari hingga 17 Februari 2018.

Ajang Seleksi
Pembagian grup yang mengabaikan sisi sportivitas dan lebih membela sisi komersil dan keuntungan, nyatanya setali tiga uang dengan kepentingan kontestan turnamen. Piala Presiden sudah terlanjur sah sebagai turnamen pramusim, maka sebagian besar klub  menjadikan turnamen ini sebagai ajang seleksi pemain.

Melalui turnamen ini, klub-klub juga ingin memastikan bahwa mereka tidak salah mengontrak pemain untuk memperkuat timnya mengarungi Liga 1 yang sangat kompetitif dan tidak mau mengecewakan pihak sponsor klub. Dengan demikian, cita-cita sepak bola nasional menjadi industri di awal 2018, dimulai dari hajatan Piala Presiden ini sebelum rentetan pergelaran sepak bola di bawah naungan PSSI digelar mulai dari Liga 1, Liga 2, Liga 3, Liga 4, Liga Nusantara, Kompetisi U-17, dan Kompetisi U-15.

Semarak sepak bola nasional juga akan menyajikan laga timnas di 2018. Pertama, Piala AFF Wanita akan diselenggarakan di Indonesia pada Mei 2018. Sebulan setelahnya, giliran Piala AFF Wanita U-15 yang digelar. Turnamen tersebut diharapkan menjadi titik awal kebangkitan sepak bola wanita Indonesia, yang absen mengikuti SEA Games sejak 2005 serta hanya bertanding tujuh kali di pentas internasional dalam lima tahun terakhir. Tertinggal jauh dari Thailand yang pernah lolos Piala Dunia Wanita 2015.

Kedua, Piala AFF U-18 akan digelar 2-14 Juli 2018 di Indonesia. Turnamen ini sekaligus menjadi persiapan bagi Indonesia menghadapi Piala Asia U-19. Ketiga, Asian Games diselenggarakan di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus-2 September 2018. Indonesia akan diwakili timnas U-23.

Keempat, Piala AFF Futsal di gelar pada 6-15 September 2018. Kelima, Piala Asia U-16. Timnas U-16 akan terjun ke Piala Asia U-16 di Malaysia, 20 September-7 Oktober 2018. Indonesia masih menanti lawan di putaran final karena undian grup belum dilakukan. Empat tim semifinalis kejuaraan ini dipastikan mendapat tiket tampil di Piala Dunia U-17 2019.

Keenam, Piala Asia U-19. Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Piala Asia U-19 2018. Turnamen akan dilakukan mulai 18 Oktober hingga 4 November 2018. Indonesia berambisi lolos ke Piala Dunia Junior dengan menembus semifinal turnamen ini. Ketujuh, Piala AFF. Semarak sepak bola Tanah Air akan ditutup dengan Piala AFF, akhir 2018. Turnamen kali ini tidak digelar di negara tuan rumah tertentu, melainkan setiap tim mendapat kesempatan bermain home and away masing-masing dua kali di fase grup.

Pembagian grup baru akan diundi Mei mendatang. Namun, rencana away days sudah harus disiapkan jauh-jauh hari untuk memberi dukungan kepada timnas Indonesia antara 8 November hingga 15 Desember.

Semoga, dengan diawali meladeni Islandia dan gelaran Piala Presiden, seluruh hajatan sepak bola nasional di 2018 semakin menorehkan prestasi dan garansi meningkatnya peringkat FIFA. Dan, selamat datang industri sepak bola nasional yang sebenarnya. Amin.*

 

Drs. Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepak Bola Nasional


.

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA