#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Wawancara Eksklusif: Jorge Lorenzo Jelang MotoGP di Sirkuit Silverstone
28 Agustus 2015 15:42 WIB
1720
0

MILAN – Berbeda dari para pembalap lain, Jorge Lorenzo muncul sebagai karakter yang sulit didekati. Ia bukan sosok yang gemar berkomentar seperti Valentino Rossi, atau punya wajah simpatik seperti Marc Marquez. Meski memiliki karakter berbeda, tapi Lorenzo merupakan sosok yang jujur dalam memperlihatkan perasaannya.

Hal ini terlihat dalam sesi wawancara eksklusif La Gazzetta dello Sport bersama juara dunia MotoGP 2010 dan 2012 itu. Ketika disuruh mendeskripsikan dirinya, Lorenzo menjawab: “Pemuda bahagia dan tenang. Saya sedang merasakan momen terindah dalam hidup, dari semua aspek. Saya tidak kekurangan apapun.” Ia memang tengah bergembira lantaran berpeluang menjadi juara dunia MotoGP, musim ini. Berikut petikan wawancara bersama pembalap Movistar Yamaha MotoGP ini:

Lorenzo, akhirnya poin Anda sama dengan Rossi di klasemen…
Saya tidak boleh menyia-nyiakan perlombaan, akhir pekan ini (GP Inggris). Kami harus selalu berusaha naik ke podium seperti yang dilakukan Rossi.

Berlomba di Kejuaraan Dunia yang sangat ketat akan memberatkan Anda?
Tidak. Saya tidak memiliki tekanan karena saya tahu bagaimana berjuang melawan salah satu pembalap terbaik (Rossi). Mungkin ia yang terbaik di dalam sejarah karena di usia 36 tahun, ia masih sangat kompetitif. Namun, saya percaya dari sisi kecepatan, konsentrasi dan disiplin, saya memiliki semua yang dibutuhkan untuk menang.

Rossi telah mengatakan musim ini merupakan persaingan paling sulit…
Ya, tapi sayang (Casey) Stoner tidak ada. Jika ada, dia mungkin akan lebih sulit. Begitu pula seandainya ada (Marco) Simoncelli. Dia merupakan pembalap yang sangat agresif dan cepat. Dengan Marquez dan Rossi dalam kondisi seperti ini, lalu bila (Dani) Pedrosa tampil maksimal, semua begitu sulit untuk disalip.

Dari lima kemenangan yang Anda raih musim ini, Anda selalu start dari pole position dan langsung melaju tanpa lawan. Apakah Anda baru bisa menang dengan cara seperti ini?
Saya tahu anggapan seperti itu muncul setelah melihat performa 2-3 tahun terakhir, tapi di GP Inggris 2013, saya jadi juara setelah bersaing melawan Marquez. Lalu di Jerez, 2010, saya juara setelah menyalip Rossi dan Pedrosa. Semua kemenangan saya di 125 cc dan 250 cc juga diraih dengan susah payah. Namun, jika melakukan start dan langsung dapat irama bagus, kenapa tidak memanfaatkannya.

Anda dan Rossi memiliki poin sama. Apa aspek yang menentukan untuk jadi juara dunia?
Kesalahan, ketidak beruntungan, rusaknya mesin atau ada pembalap yang membuat Anda terjatuh. Konsistensi dan kecepatan juga penting. Lalu belum ada lomba di trek basah musim ini. Semua harus diperhatikan.

Ini kedua kalinya Anda dan Rossi bersaing jadi juara dunia. Musim 2009, Rossi keluar sebagai juara…
Saat ini masih belum ada pemenang. Andai Marquez bisa sapu bersih kemenangan di sisa musim, saya pikir persaingan tetap antara saya dan Rossi. Saya ingin sekali tiba di Valencia dengan kondisi sudah mengunci gelar atau unggul dengan selisih poin besar. Walaupun saya sadar ini akan sangat sulit. Pada akhirnya mungkin semuanya bisa ditentukan di Valencia (putaran terakhir).

Marquez bisa jadi sekutu Anda, atau justru sekutu Rossi?
Pada dua lomba terakhir, saya dan Marquez bisa lebih cepat dari Rossi. Jika terus seperti ini, ia bisa jadi sekutu saya.

Apa pelajaran yang bisa diambil dari sosok Rossi?
Motivasi. Dia terus berkembang, bekerja dan tidak segan belajar dari pembalap lain. Kerendahan hati seperti ini merupakan contoh bagi saya, Marquez, Pedrosa dan semua pembalap lain. Dalam sejarah kejuaraan dunia, tidak ada pembalap 36 tahun yang bisa bersaing jadi juara dunia.

Apakah Anda terkesan masih melihat Rossi bersaing di kompetisi?
Ya. Saya pikir ia percaya pada peluangnya untuk memenangkan gelar juara ke-10, dan ia akan melakukan semuanya agar mencapai target ini.

Apakah musim ini jadi kesempatan terakhir baginya?
Tidak. Satu tahun tak akan mengubah apapun. Jika ia kompetitif musim ini, maka ia juga bisa melakukan hal yang sama musim depan.

Banyak fan berharap Rossi yang keluar sebagai juara, apakah ini membuat Anda kesal?
Rossi memiliki banyak penggemar, tidak hanya di Italia. Jelas, untuk banyak orang, sangat penting jika ia menang. Namun, setiap pembalap harus berpikir kepada dirinya sendiri. Berusaha meraih yang terbaik, di trek maupun luar trek. Inilah yang ingin saya lakukan.

Setelah lomba di Silverstone, ada Misano (home race Rossi). Apakah Anda siap dikritik?
Bagi saya, ini akan menjadi hal positif. Ini merupakan rasa takut yang dimiliki oleh para pendukung Rossi. Mereka melihat saya sebagai saingan utama, hanya itu. Jika saya finis di posisi ke-10, ketujuh atau kelima, mereka tidak akan takut dan akan mengacuhkan saya.

Apa benar bahwa Anda menawarkan diri kepada Ducati?
Tidak benar. Menurut Anda, seorang pembalap yang berjuang jadi juara dunia menawarkan dirinya kepada tim lain? Atau justru dirinya yang dicari?.*Paolo Ianieri

BERITA TERKAIT

Penulis
news
Penggemar semua cabang olahraga. Asli Yogyakarta, KTP Sleman, tinggal di Jakarta.
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA