#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Saat Jenuh dengan MotoGP, Vinales Hanya Butuh Pulang Kampung
11 Juni 2019 09:48 WIB
PEMBALAP Monster Energy Yamaha MotoGP Maverick Vinales bercerita soal perjuangannya bisa sampai ke kelas tertinggi Kejuaraan Dunia Balap Motor. Bahkan, ia menyebut lomba pertamanya saat masih di 125 cc pada Grand Prix (GP) Qatar, 2011, seperti pukulan yang mendarat ke wajah.

Sekadar informasi, Vinales merupakan juara dunia Moto3 (dulu 125 cc) 2013. Hasil ini membawanya ke Moto2 (250 cc), musim berikutnya. Kemudian, 2015, ia dipercaya Suzuki Ecstar melantai di MotoGP (500 cc). Performa menjanjikan yang diperlihatkan lantas membuat Yamaha tertarik dan merekrutnya, 2017.

“Saya melakukan segalanya agar badan selalu bugar. Berlari, bersepeda…. Sebenarnya saya bosan jika hanya berlari di treadmill atau bersepeda di ruangan. Jadi, saya lebih memilih berenang karena itu bagus untuk membentuk otot. Tapi, saya rutin ke pusat kebugaran demi menjaga berat badan,” kata Vinales.


Baca Juga :
- INFOGRAFIS: Preview MotoGP Katalunya
- Maestro MotoGP! Rossi Anggap Trek Katalunya Favorit Walau Sulit

Menjadi pembalap MotoGP memang membutuhkan kondisi fisik bugar, terutama lengan yang kokoh karena tuntutan mengimbangi bobot motor (157 kg). Belum lagi, getaran mesin yang cukup kuat. Namun, Vinales memiliki cara tersendiri agar memiliki struktur lengan kuat untuk mengendalikan motor.

“Saya mengapresiasi orang-orang yang berlatih di pusat kebugaran untuk memaksimalkan kekuatan tubuh. Anda butuh itu karena ada banyak otot yang digunakan di MotoGP. Saya juga suka melakukan hal berbeda seperti panjat tebing karena melatih lengan bawah dan menguatkan pompa lengan,” ujar Vinales.

Untuk menjaga perasaan terhadap motor, Vinales juga berlatih motokros secara rutin setiap pekan. “Saya sudah melakukan itu sejak lama. Setidaknya dua kali dalam sepekan saya bermain motokros. Saya mencintai balap motor karena inilah kebahagian saya,” kata rekan setim Valentino Rossi tersebut.

Tak hanya otot tubuh, ada hal yang dibutuhkan seorang pembalap. “Setelah sesi akhir yoga, Anda bisa tidur 20 menit dan itu momen tidur terbaik saya. Hanya saya satu-satunya pria di kelas dan itu sempurna. Saya senang beraktivitas dengan banyak orang karena ada banyak perbincangan dan tertawa,” katanya.

Tapi, pembalap bernomor motor 12 itu menegaskan, terlalu banyak pelatihan akan berisiko bagi tubuh. Menurutnya, segalanya harus seimbang agar bisa mencapai titik maksimal. “Anda akan bahagia jika memiliki pikiran dan semangat yang baik. Saya selalu berusaha menjaga itu,” Vinales menambahkan.

Pria asal Spanyol itu mengaku sulit menjaga konsistensi. Tak jarang, seorang pembalap harus melewati fase buruk seperti yang dialaminya pada pertengahan tahun lalu. Sulitnya meraih kemenangan bersama Yamaha, bahkan sekadar bertarung di barisan depan hingga membuatnya tak dapat berpikir dengan jernih.


Baca Juga :
- Demi Ajang Ini, Dovizioso Buka Peluang Tinggalkan MotoGP
- Update Klasemen MotoGP 2019, Petrucci Gusur Valentino Rossi

“Tahun lalu dengan segala frustrasi dan kekhawatiran, saya mengambil langkah mundur saat musim panas. Saya harus berhenti bergerak. Tubuh saya baik-baik saja tapi tidak dengan pikiran. Saya stres karena harus selalu mencari peningkatan hingga akhirnya tak dapat melakukan apa-apa lagi,” kata Vinales.

Ia pun bangkit usai mengambil liburan singkat di kampung halamannya, Figueres, Spanyol. “Saya sadar bawah saat itu telah melewati batas tubuh dan pikiran. Jadi, di satu kesempatan, saya memilih berhenti melakukan segalanya. Saya bersepeda untuk menjernihkan pikiran dan itu cukup membantu,” tuturnya.*

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA