#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Rute Sulit Wesley Sebelum Bergabung dengan Aston Villa
20 June 2019 11:48 WIB
WESLEY Moraes Ferreira da Silva tiba di Aston Villa FC pekan lalu sebagai pemain dengan rekor termahal klub Birmingham itu. Pemain 22 tahun itu dibeli 22 juta paun setelah mencetak 17 gol di semua kompetisi untuk Club Bruges. Striker bertinggi badan 169 cm itu rutin menggertak para pemain bertahan di Liga Jupiler selama dua musim terakhir.

Tidak seperti Neymar atau Gabriel Jesus - pemain yang dikejar oleh klub-klub top Eropa sejak mereka berusia 13 dan 14 tahun, Wesley mengambil rute yang panjang untuk mencapai ke puncak.

Wesley dibesarkan di Juiz de Fora, sebuah kota di Brasil tenggara. Ayahnya pemain bola, yang tidak profesional, tapi menghasilkan uang dari permainan. Di kemudian hari sang ayah cacat tubuh sebagian, lalu menggunakan tabungannya untuk menghidupi keluarga.


Baca Juga :
- Martinelli Punya Mental dan Kualitas Juara sejak Remaja
- Jota Menikmati Pertumbuhan Global Wolverhampton

Wesley terpaksa harus tumbuh dewasa setelah kematian ayahnya ketika usianya baru sembilan tahun. "Setelah kematian Ayah, saya hampir bangkrut. Dia melakukan segalanya untuk saya. Dia mengajari saya bermain sepak bola," Wesley mengisahkan.

Momen itu lalu diukirnya dengan tinta. Di tubuh kekarnya Wesley melukis tato ayahnya di leher dan lengannya. Satu tragedi lainnya, kematian keponakannya Gustavo, juga diabadikannya dalam bentuk tato di lengan.

Saat Wesley baru 15 tahun, dia jadi ayah untuk pertama kalinya. Kekasihnya melahirkan putranya Yan, dan hanya selang setahun kemudian lahir putrinya, Maria, yang diberi nama sesuai Perawan Maria, yang juga ditato di lengannya.

Pada saat itu, jalannya ke klub profesional papan atas tampaknya mustahil, dengan klub lokal bahkan tidak tertarik untuk merekrutnya. Akhirnya, masih berusia 15 tahun, Itabuna memberinya kesempatan trial di Atletico Madrid (Spanyol) dan di AS Nancy dan Evian (Prancis). Tapi itu tidak menghasilkan apa-apa. Wesley pun kembali ke Brasil.

Demi keluarga mudanya, Wesley bekerja di sebuah pabrik perakitan, menyortir baut dan sekrup, dengan gaji kurang dari 150 paun (sekitar Rp 2,7 juta) sebulan. Lalu, datanglah kesempatan bertemu seorang agen yang melihatnya saat pindah ke Trencin di Slovakia, sebuah tim yang juga membina bintang Bayer Leverkusen, Leon Bailey.

Kariernya meroket pesat dalam enam bulan, lalu Bruges membayar kurang dari 1 juta paun ketika mengontraknya pada Januari 2018. Meski mencetak gol pada laga debutnya, Wesley agak kesulitan beradaptasi di Belgia. Dia tenggelam dalam kehidupan malam, memiliki gaya hidup yang buruk, dan pola makan yang buruk.

Ada juga faktor kurangnya disiplin di lapangan. Karena selalu menjadi target lawan, dia belajar trik untuk menenangkan diri. Wesley menempelkan selotip di tangan untuk mengingatkan dirinya agar tak bereaksi. Dia juga melakukan latihan ekstra berjam-jam, membuatnya semakin produktif mencetak gol. Kini dia siap menjajal Liga Primer.


Baca Juga :
- Wilder Punya Keahlian Mengangkat Kasta Sebuah Tim
- Aktivitas di Bursa Transfer Jadi Bukti Ambisi Besar Aston Villa

Dia terus mendukung keluarga besar di rumahnya di Brasil. Adik laki-lakinya memanggilnya Pai - bahasa Portugis untuk ayah – karena rasa terima kasih. Eks pelatihnya di Brugges, Devy Rigaux mengatakan: "Saya telah melihat foto-foto keluarga dan temannya, duduk di sekeliling meja di dapur kecil, 25 pria itu mengandalkannya.”

"Terkadang kita meremehkan tekanan moral itu. Wesley berharap semua orang bangga kepadanya dan merinding ketika pendukung menyebut namanya. Jika orang lain mengatakan dia bermain bagus, Anda akan melihat wajahnya menyala."*NURUL IKA HIDAYATI

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA