#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Wawancara Eksklusif, Lewis Hamilton: Saya Lebih dari Sekadar Bakat
12 July 2019 13:38 WIB
SILVERSTONE – Lewis Hamilton selalu memanfaatkan liburan untuk berkeliling dunia. Awal tahun ini, ia menghabiskan waktu di Los Angeles dan sekitarnya untuk berselancar dan terjun payung. Menggunakan jet pribadi, pembalap Mercedes AMG Petronas itu pun tak lupa mengajak serta teman-temannya.

Bergelimang kemewahan memang seolah identik dengan Hamilton. Tapi, kondisi tersebut mampu dibarengi dengan segudang prestasi di lintasan. Dalam sebuah wawancara bersama La Gazzetta dello Sport, Hamilton menuturkan tak mudah mencapai posisi sekarang karena diperlukan kerja keras. Berikut petikannya:

Dari dua lap (53-54) di Grand Prix (GP) Spanyol, membuktikan Anda bisa membuat perbedaan dengan bakat….


Baca Juga :
- Hasil Lengkap Balapan Formula 1 GP Britania Raya
- Reaksi Bottas Usai Raih Pole Position di Kualifikasi GP Britania Raya

Tentu! Jika mempersiapkan mobil dengan baik dan disesuaikan dengan gaya balap sendiri, kita akan bisa menekan lebih keras. Jujur, dalam dua tahun terakhir, mobil yang saya kendarai tidak memuaskan. Walau akhirnya menang, saya tidak berjuang maksimal. Komunikasi dengan para teknisi menjadi begitu penting untuk membereskan beberapa hal seperti rem dan ban.

Waktu di GP Kanada, saat Sebastian Vettel kembali ke lintasan, Anda mengambil keputusan tepat dengan cepat. Apa yang membuat Anda begitu yakin?

Sebenarnya, ini sesuatu yang alami tapi juga tergantung pengalaman. Saya pernah melakukan banyak kesalahan selama di sini (Formula 1), bahkan ketika memulai dengan gokar. Ada fase di mana saya tak punya banyak pilihan, jadi harus memilih solusi terbaik dalam waktu cepat. Saya sudah bekerja bertahun-tahun untuk memiliki semua elemen, termasuk sikap agresif ketika dibutuhkan. Selebihnya, saya jadi bagian dari tim. Untuk di Kanada bersama Seb, insting saya berkata menekan gas. Saya seorang pejuang dan jika harus mengambil risiko, tentu akan saya ambil. Tapi, ada hampir 2.000 orang di belakang layar yang bergantung pada keputusan saya. Jika saya mengalami insiden, kami akan kalah dan tidak membawa pulang poin.

Apakah pernah bertengkar dengan para teknisi?

Saya menantang mereka setiap hari seperti di McLaren. Walau kondisinya sangat sulit tapi ada beberapa hal yang saya inginkan karena sudah tahu itu akan berfungsi. Tapi, di dalam tim ada Fernando Alonso, peraih dua gelar juara dunia. Tentu mereka lebih mengikuti masukan darinya karena saya selalu dianggap pembalap muda. Tapi, ketika tiba di Mercedes, mereka sangat mendengarkan saya. Tentu, saya tak mengarahkan mereka ke jalan yang salah. Ketika berbicara dengan Aldo (Costa) dan mengatakan satu hal, mereka mengikuti. Perbedaan paling besar dengan para teknisi adalah ketika kami harus mengulang posisi. Semua keras kepala dan terlalu mengandalkan data komputer. Sementara saya hanya bisa mengandalkan sensasi seorang pembalap. Pada akhirnya, saya bisa memaksakan ide dan semuanya berfungsi. Sesuatu yang memuaskan karena para teknisi terus belajar.

Awal F1 2019 tak berjalan dengan baik. Apa yang terjadi setelah tes pertama di Sirkuit Barcelona, Februari lalu?

Kalian bisa bayangkan, akhir pekan pertama ketika saya turun dari mobil dan berbicara kepada tim. Saya menjelaskan semua secara rinci tapi ada pertemuan yang sangat panjang. Saya tak pernah mengatakan semua baik-baik saja karena itu tak perlu. Saya mengutarakan kalau mobil memiliki masalah. Tak ada yang pernah tahu bagaimana perangkat akan berfungsi seperti hubungan antarmanusia. Pertemuan dengan seseorang untuk kali pertama, yang mana meski terlihat cantik dari luar tapi kita belum mengenal karakter. Tidak tahu apakah ia orang yang tepat, bisa dipercaya atau tidak. Begitu pula dengan mobil, di mana kami mempelajari sejak hari pertama.

Setelah 13 musim di Formula 1 (F1), apakah ada rasa kesal ketika mengendarai mobil?

Saya tidak suka tes, khususnya ban tapi ada orang yang rela melakukan semuanya. Seperti pekerjaan lain di dunia ini, ada bagian yang terkadang menjenuhkan. Ada tes di mana 20 lap pertama, berjalan menyenangkan dan berpikir harus melakukan 100 lap lain. Kami sudah tahu kondisi mobil tapi tak ada kompetisi, jadi tak memberi hiburan. Pertama, saya tidak senang (dengan tes). Kedua, itu tak membuat saya jadi lebih baik. Tapi, kami mencoba sesuatu di Bahrain yang saya terapkan di Barcelona dan mereka meminta satu bulan untuk mempelajari. Saya tak ingin orang lain yang menilai apakah itu tepat atau tidak. Tapi, ada pembalap yang senang melakukan tes, menghabiskan waktu seharian. Saya tidak bisa memahami mereka.

Seberapa besar perubahan Anda sebagai pembalap?

Kami terus berkembang setiap tahun karena mobil akan berbeda, begitu juga trek, ban, dan semua. Inilah dasarnya. Dari segi tertentu, saya pembalap yang sama seperti 2007 (saat debut di F1). Tapi, sekarang, wawasan saya bertambah dan sedikit lebih baik. Saya menyesuaikan gaya berkemudi sesuai kebutuhan.


Baca Juga :
- Mercedes di Barisan Terdepan Saat Balapan GP Britania Raya, Begini Komentar Leclerc
- Duo Red Bull Kirim Sinyal Bahaya untuk Mercedes dan Ferrari

Jika harus mempresentasekan Lewis Hamilton, seberapa besar bakat, kepandaian menentukan strategi dan pekerjaan?

Ada kepintaran taktik dalam bakat. Lalu, jika memiliki itu, Anda akan bisa memutuskan untuk bekerja sedikit atau lebih banyak. Ayrton Senna dan Michael Schumacher memiliki etika kerja yang luar biasa dan inilah alasan mengapa mereka bisa membukukan banyak kemenangan. Saya ingin memiliki sikap itu. Tidak tahu bagaimana membaginya dalam persentase tapi saya sadar, di F1 semua harus bekerja keras meski menang. Publik berpikir itu tidak perlu, bahkan saudara menyebut saya beruntung memiliki bakat ini. Tapi, itu tidak cukup. Ada beberapa hal yang tidak terlihat, latihan, pertemuan dengan teknisi. Saya memiliki kekurangan dalam konsentrasi dan perlu mencari angin untuk kemudian kembali. Mereka sudah mengerti itu.*GIANLUCA GASPARINI

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA