#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Gol Simic Meragukan Tapi Disahkan, Gol N'Douassel Sah tapi Dianulir, PSSI Harus Lakukan Terobosan
13 July 2019 13:27 WIB
JAKARTA – Gol Persija Jakarta yang diciptakan Marko Simic menit ke-75 ke gawang Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu (10/7) lalu, masih jadi perbincangan.

Banyak yang meragukan keabsahan gol sundulan Simic itu karena menganggap bola tidak sepenuhnya melewati garis gawang.

Namun, wasit Fariq Hitaba yang dibantu asisten wasit tetap mengesahkan gol tersebut sehingga skor jadi 1-0 untuk Persija, sebelum disamakan 1-1 oleh Artur Gevorkyan saat injury time. Padahal jika mengacu kepada Laws of  The Game FIFA, gol dinyatakan sah jika bola seutuhnya melewati garis gawang.


Baca Juga :
- 3 Pemain Asing Baru Persib Tiba di Bandung
- Daftar Pemain Persib untuk Menantang PSM

Menariknya, situasi ini mirip dengan yang terjadi dua musim lalu, juga dalam duel yang kerap disebut El Clasico Indonesia itu. Laga Liga 1 2017 itu digelar di Stadion Manahan Solo pada November 2017 dengan Persija bertindak sebagai tuan rumah.

Meski sudah dipimpin wasit asing asal Australia Evans Shaun Roberts plus para asistennya, ternyata faktor human error tetap tidak terhindarkan. Gol sundulan Ezechiel N’Douassel yang menggetarkan jala kiper Persija Andritany Ardhiyasa menit ke-27, dianulir karena dinilai  belum melewati garis gawang.

Dari kejadian tersebut, sudah seharusnya PSSI dan operator membuat terobosan baru agar wasit bisa mengeluarkan keputusan akurat dan meminimalisasi kontroversi. Sebab ini sudah jadi tuntutan zaman dan industri olahraga itu sendiri.

Sempat ada rencana penggunaan Video Assistant Referee (VAR), namun tiba-tiba menguap karena PSSI tidak siap, terutama karena dananya terlalu besar. Soal penerapan VAR, Komite Exekutif (Exco) PSSI menyebut tidak sesimpel yang dibayangkan. Sebab penerapan VAR butuh pengkajian lebih dalam dan butuh waktu hingga satu tahun.

Harga perangkatnya pun tidak murah, bisa mencapai Rp 7 miliar. Bahkan saat ini perangkat wasit yang berlisensi FIFA pun belum memadai. “Exco sudah memberikan kewenangan kepada ke Sekjen untuk mempelajari regulasinya. Apa sih persyaratan VAR menurut FIFA, jadi bukan syarat kehendak kami,” ujar Gusti Randa, anggota Exco PSSI.

Belum lagi persyaratan formal dan materialnya. “Berapa jumlah kamera yang dibutuhkan menurut FIFA, bagaimana VAR Room-nya, lalu ketersediaan stadion kita memfasilitasi VAR Room, koneksi antara kamera di lapangan dan VAR Room itu. Jadi kalau sekadar menonton tayangan ulang itu bukan VAR, di televisi juga ada,” Gusti menambahkan.

Sebenarnya tidak selayaknya PSSI dan operator menyerah untuk membuat terobosan. Sebab masih ada dua cara alternatif yang lebih realistis dan murah yakni Goal Line Technology (GLT) dan bantuan wasit kelima yang berdiri di belakang gawang.

Saat ini mungkin teknologi yang paling memungkinkan untuk digunakan adalah GLT. Harga penerapan perangkat tersebut lebih ekonomis dibanding VAR. Dengan dana sekitar Rp 2,1 miliar, teknologi garis gawang bisa digunakan di setiap home base tim Liga 1 2019.

Jika itu masih disebut kemahalan oleh PSSI, solusi berikutnya adalah menggunakan bantuan wasit  kelima (additional referee) yang berdiri di belakang gawang. Ini bisa jadi solusi yang tepat jika teknologi garis gawang dan VAR tidak dapat diterapkan musim ini. “Bisa saja, penggunaan GLT atau wasit kelima sangat mungkin terjadi,” ujar Gusti.

Klub-klub Liga 1 juga mendukung penuh penggunaan teknologi untuk membantu wasit. “Goal line technology, VAR, maupun wasit kelima adalah hal positif. Tentu kami mendukung mana pun yang akan diterapkan karena ini demi mendukung perkembangan sepak bola kita ke arah lebih baik,” kata Seto Nurdiyantoro, pelatih PSS Sleman.


Baca Juga :
- Harapan Putaran Kedua, Tiga Pemain Asing Baru Persib Masih dalam Era Golden Age
- Preview Persija vs Madura United

Sedangkan pelatih Bali United Stefano “Teco” Cugurra setuju jika ada penambahan asisten wasit di belakang gawang. “Jika ada dua tambahan asisten wasit, keputusan bisa lebih baik,” ujar Teco. Baru-baru ini Komdis PSSI juga melayangkan teguran keras kepada asisten pelatih Bali United Yogi Nugraha.

Ia dianggap memprotes keputusan asisten wasit saat jumpa Kalteng Putra. Teco yakin Coach Yogi tidak melakukan apa pun kepada asisten wasit. “Bukan Yogi sepertinya, dan saya juga tidak ada masalah dengan wasit. Kalau kejadiannya seperti itu, pasti saya sudah tahu., makanya kalau ada wasit kelima tentu sangat membantu,” kata Teco.*Sumargo Pangestu/Dani Wihara/Sri Nugroho

BERITA TERKAIT

news
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA