#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Saya Tinggal di Desa yang Lebih Indah daripada Paris
17 July 2019 13:51 WIB
MONTREAL – Sinar Luka Jovic sebagai salah satu kekuatan baru Real Madrid memang seolah terhalang oleh kebesaran Eden Hazard. Namun begitu, penyerang Serbia itu tetap tak kehilangan daya tarik. Ia berbagi soal dirinya yang tak banyak diketahui bersama The Player’s Tribune. Berikut uraiannya:

Darimana seorang Jovic berasal?

Saya tumbuh di sebuah tempat bernama Batar (Bosnia Herzegovina). Tempatnya kecil sebab hanya ada 105 rumah di sana. Tapi bagi saya itu tempat istimewa dan ada pria yang pernah berkata kepada saya bahwa desa saya itu lebih indah dari Paris.


Baca Juga :
- Komitmen Sergio Ramos di Musim Ke-15 Bersama Real Madrid
- Odegaard Kepingan yang Hilang

Bagaimana perjuangan Anda?

Saya tak banyak bicara soal ini, tapi di usia 9 atau 10 tahun saudara perempuan saya didiagnosa menderita leukemia dan itu mengubah kehidupan keluarga kami. Ibu harus terus menemaninya sehingga berhenti kerja dan ayah membawa saya ke Beograd untuk berlatih dengan Red Star. Itu masa yang sulit tapi memberi saya kekuatan untuk berhasil.

Lalu Anda pergi ke SL Benfica dan Eintracht Frankfurt?

Saya punya semua yang saya mau di Red Star tapi ibu saya meyakinkan untuk pergi ke Benfica. Di usia 18, jarak 3 ribu km, dan kendala bahasa, itu tak muda sehingga saya hampir menangis tiap hari. Namun bergabung ke Eintracht telah mengembalikan kepercayaan diri saya terutama saat memenangkan Piala Liga Jerman (2017/18).

Apa kekuatan utama seorang Jovic?

Bakat. Setiap orang punya bakat tertentu dan saya pikir untuk saya adalah mencetak gol. Saya tidak tahu bagaimana akhirnya saya menjadi striker, tapi yang saya ingat adalah saya selalu terobsesi untuk mencetak gol. Saya tak pernah meragukan keberanian saya, merasa punya kualitas, dan dilahirkan untuk itu.

Siapa referensi sejati Anda?

Ronaldo asli (Ronaldo Nazario). Saya terobsesi dengan bagaimana dia mengolah bola lalu menaklukkan kiper. Ia cepat dan punya trik yang selalu saya tiru di rumah. Gaya dan kepercayaan dirinya membekas untuk saya. Selain itu Roger Milla juga membuat saya terpesona lewat rekaman videonya saat membela Kamerun di Piala Dunia 1990.


Baca Juga :
- Madrid Paham Bagaimana Mengelola Superstar
- Soal Neymar, Peluang Barca Menipis

Apa hal yang Anda banggakan saat ini? untuk seterusnya?

Bermain di semifinal Liga Europa, Piala Dunia 2018, dan sekarang bergabung ke Madrid adalah luar biasa. Bagaiamana kisah saya selanjutnya dan apa yang akan saya raih, saya tidak tahu. Tapi saya punya mimpi besar.*TAUFANI RAHMANDA DARI BERBAGAI SUMBER

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA