#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
INFOGRAFIS: Performa Rossi di Setengah Musim MotoGP 2019
18 July 2019 10:14 WIB
TAVULLIA – Valentino Rossi dalam fase sulit karena motor tak kunjung menunjukkan peningkatan. Sebagian orang bahkan menyarankan pembalap Monster Energy Yamaha MotoGP itu untuk pensiun. Opsi lain adalah memberi imbauan agar dirinya mengubah struktur tim mekanik.

Sekadar informasi, sudah 17 tahun Rossi bekerja sama dengan kru saat ini. Saking solidnya, hubungan di antara mereka sudah seperti keluarga. Padahal, pembalap asal Italia itu belum mampu mengakhiri paceklik kemenangan sejak Grand Prix (GP) Belanda, 25 Juni 2017. Catatan minor itu seolah tak berpengaruh.

Dengan kata lain, Rossi sudah melakoni 36 lomba tanpa sekalipun menjejak podium pertama. “Sudah pasti saya tidak senang dengan situasi ini. Tapi, hal seperti ini sering terjadi dalam karier saya. Yang terpenting adalah saya mampu bangkit dari keadaan ini,” kata Rossi seperti dilansir Crash.net.


Baca Juga :
- Rossi Bertekad Rebut Podium di GP Inggris
- MotoGP Gelar Uji Coba di Sirkuit KymiRing, Sirkuit MotoGP Finlandia 2020

Sejak naik ke kelas tertinggi atau dulu bernama 500 cc, 2000, Rossi telah mengumpulkan 89 kemenangan. Hasil tersebut membuatnya jadi pembalap tersukses di MotoGP. Tapi, ia perlu mewaspadai Marc Marquez yang saat ini sudah mengoleksi 49 kemenangan di kelas tertinggi dan masih berusia 25 tahun.

“Saya telah memenangi 89 perlombaan… Jadi, tak terlalu buruk! Saya masih memimpin jika tetap berada di angka itu dan kami tak akan menyerah. Memang benar bahwa saya sudah tua tapi tahun lalu saya juga sudah mulai menua. Bahkan, (penuaan) itu terjadi sejak lima tahun yang lalu,” kata Rossi.

Pria 40 tahun itu juga masih berada di MotoGP karena ingin menggenapkan gelar menjadi 10 di seluruh kelas. Hal itu sebenarnya hampir didapatkan pada 2015. Sayang, di pengujung musim, ia dikalahkan Jorge Lorenzo yang saat itu masih menjadi rekan setimnya dengan hanya selisih lima poin.

Sebenarnya, kinerja Rossi tidak terlalu buruk. Hanya, ia kalah dari rekan setimnya, Maverick Vinales. Belum lagi meningkatnya pembalap satelit Yamaha, Fabio Quartararo. Tapi, Rossi merasa bahwa setelan YZR-M1 tak cocok dan seolah hanya dibangun untuk Vinales hingga ia harus berjuang.

“Sejujurnya, tak pernah sedikit pun terlintas di pikiran bahwa saya akan menyerah, tak konsentrasi, atau kehilangan motivasi yang cukup saat lomba. Jadi, tak ada alasan mengapa tahun ini lebih lambat 20 detik dari waktu yang saya catatkan di Sirkuit Sachsenring, Jerman, tahun lalu,” ujar Rossi.

Indikator menurunnya Rossi terlihat pada GP Belanda, 30 Juni lalu. Biasanya, ia tampil kuat tapi itu tak berlaku, musim ini. Rossi memulai lomba dari barisan tengah dan tak mampu memperbaiki posisi. Upaya menekan harus dibayar mahal dengan menyenggol Joan Mir hingga gagal selesaikan lomba.

Pada 2013, Rossi membuat keputusan mengejutkan dengan memecat kepala kru, Jerry Burgess dan mengganti dengan Silvano Galbusera. Banyak yang memprediksi hal itu bakal terulang dengan Galbusera. Namun, hingga saat ini, dirinya belum menunjukkan tanda-tanda bakal merombak krunya.


Baca Juga :
- Juara MotoGP Austria 2019, Prospek Besar Andrea Dovizioso
- Hasil MotoGP Austria 2019, Dovizio Heroik, Marquez Podium Kedua, Rossi Keempat

“Saya pikir tak akan seperti itu karena kami terus bekerja keras. Saya merasa baik-baik saja dengan tim dan kerja sama dengan Silvano juga sudah berlangsung lama. Yang terpenting bersama tim ini adalah kami harus bersama-sama menemukan solusi terbaik agar semuanya dapat bekerja,” ujar Rossi.

Buruknya kinerja tahun ini membuat Rossi mulai memikirkan masa depan. Ia pun diketahui telah mencoba YZR-M1 2020. Pekerjaan yang lebih cepat membuatnya dapat lebih mudah mendeteksi bagian-bagian yang perlu ditingkatkan. “Saya ingin menemukan jati diri sendiri,” kata Rossi.*MUHAMAD FADLI RAMADAN 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA