#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
INFOGRAFIS
Kendala Thunder yang Ingin Melepas Chris Paul
19 July 2019 13:45 WIB
OKLAHOMA CITY – Chris Paul menjadi “pesakitan” dalam bursa perpindahan pemain NBA 2019/20. Keputusan klub lamanya, Houston Rockets, yang membuangnya ke Oklahoma City (OKC) Thunder demi mendapat Russell Westbrook, membuatnya tak bisa bergabung dengan tim yang kompetitif.

Padahal, Paul sangat berambisi meraih titel NBA karena sejak memulai karier di New Orleans Hornets (sekarang Pelicans), 2005, dirinya belum pernah mencicipi manisnya menggenggam trofi Larry O’Brien. Padahal, saat ini, Paul merupakan salah satu point guard terbaik dalam kompetisi ini.

Menurut sumber yang digali oleh jurnalis ESPN, Adrian Wojnarowski, Paul sudah meminta Thunder untuk men-trade-nya. Thunder pun bersedia karena klub asuhan Billy Donovan itu sedang membangun ulang tim. General Manager (GM) Sam Presti diprediksi memprioritaskan pemain muda.


Baca Juga :
- Thunder Siap Rebuilding
- Pecahkan Rekor 51 Tahun, Westbrook: Sulit Dipercaya!

Masalahnya, Paul bergaji terlalu besar. Ia memiliki kontrak tiga tahun dengan nilai 124 juta dolar AS (sekitar Rp1,7 triliun). Pada NBA 2018/19, Paul digaji 35 juta dolar AS (sekitar Rp488,4 miliar) per musim hingga membuat klub-klub lain enggan menukarkan seorang pemainnya untuk Paul.

Boleh dibilang, kebanyakan tim sudah tak bergerak kencang dalam perekrutan pemain anyar. Komposisi tim pun cenderung sudah jadi hingga tak lagi memiliki ruang gaji yang cukup demi menampung Rookie of the Year 2005/06 itu. Jika dipaksakan, mereka harus membayar luxury tax dengan nilai tinggi.

Kondisi ini membuat Paul seolah terjebak dalam ketidakpastian. “Trade yang dilakukan Thunder dan Rockets, cukup telat. Ini membuat Paul sulit di-trade oleh Thunder. Seluruh tim, terutama yang punya peluang juara, sudah menemukan komposisi,” kata Wojnarowski dalam artikelnya di ESPN.

Jika tetap ingin pindah, Paul hanya bisa pergi ke klub-klub yang di atas kertas sulit meraih gelar juara NBA. Sebut saja, Atlanta Hawks, Sacramento Kings, Indiana Pacers, Chicago Bulls, dan New York Knicks. Tim-tim tersebut masih memiliki payroll cukup lega untuk memboyong pemain 34 tahun itu.

Pilihan yang paling mudah untuk Paul adalah bertahan di Thunder karena bisa jadi mentor bagi pemain muda. Lagipula, Thunder tak terlalu buruk karena di sana bercokol Danilo Gallinari dan Steven Adam. Walau, harus diakui, Gallinari dan Adams tak kan cukup membantu Paul mewujudkan mimpi.

Paul bisa berharap ada tim yang menginginkannya pada pertengahan musim. Biasanya, klub berpotensi juara yang mengalami kesulitan di paruh pertama musim akan berpikir bagaimana caranya mengangkat performa. Paul cocok untuk klub yang ingin bangkit ketika kompetisi sudah berjalan.

Reuni Paul


Baca Juga :
- Kocak! Slam Dunk Gagal, Westbrook Bingung!
- Oklahoma City Thunder akan Pensiunkan Nomor Punggung untuk Pertama Kalinya

Oklahoma City sebenarnya bukan tempat asing untuk Paul karena pada musim 2005/06 dan 2006/07, pernah bermain di sana. Namun, efek dari Badai Katrina yang melanda New Orleans Lousiana, Agustus 2005, membuat Smoothie King Center, markas New Orleans Hornets rusak.

Kondisi tersebut membuat tim wajib mengungsi ke Ford Center, Oklahoma City. Kebetulan, saat itu, Oklahoma City belum memiliki klub. Saat itu, Thunder masih berkandang di Seattle dan menggunakan nama Seattle Supersonics. Sekarang, Ford Center bernama Chesepeake Energy Arena, markas Thunder.*KRISNA C. DHANESWARA

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA