#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Martinelli Punya Mental dan Kualitas Juara sejak Remaja
20 July 2019 13:54 WIB
PELATIH Ituano FC Vinicius Bergantin, khawatir. Gabriel Martinelli baru saja bermain 90 menit untuk tim senior untuk kali pertama dan tampil cemerlang. Tetapi, bukannya bersukacita atas debutnya, remaja 17 tahun itu keluar dari ruang ganti tergesa-gesa. Rambutnya masih basah setelah mandi ketika berjalan menghampiri si pelatih.

"Saya berpikir, 'Sesuatu pasti telah terjadi.' Dia memanggil saya seraya berkata, ‘Vini, bisakah saya kembali ke Ituano di mobil bersama ayah saya?' Ya, ayahnya memang selalu datang untuk menontonnya berlaga. Saya lalu bertanya 'Ada apa?' Dia menjawab, 'Tidak ada, saya tidak bisa melewatkan pelajaran saya. Saya harus ke sekolah.'"

Bagi Vini yang telah mengasah bakat Martinelli selama 12 bulan terakhir, itu satu kisah yang menggambarkan mengapa dia percaya anak asuhnya itu ditakdirkan berada di level paling atas. Karena mentalitasnya! "Itu menunjukkan dia punya prinsip dalam hidup. Dia tahu pentingnya sekolah. Sudah pasti saya biarkan dia pergi."


Baca Juga :
- Kiper Asal Spanyol Ungkap Masalah Rambut, Cuaca, dan Bahasa Inggris
- Pep Guardiola Kembali Menjadi Single Fighter di Liga Primer

Banyak yang diharapkan dari pemain 18 tahun itu sebagai rekrutan pertama Arsenal FC musim panas ini. Dia tiba di depan Edu Gaspar, mantan gelandang Brasil dari era  Invincibles, kini Direktur Teknik The Gunners. Namun publik Brasil menilai Arsenal berinvestasi pada pemuda yang selain berbakat, tetapi juga ambisius untuk berhasil.

Luiz Antonio, pelatih yang bekerja dengan Martinelli di tim U-15, U-17 dan U-20 Ituano, mengingat tekad baja mantan anak didiknya. Meski khawatir soal fisik Martinelli yang awalnya kurang berkembang, para pelatih di klub barunya segera terpesona.

"Dia lebih kecil dibandingkan yang lainnya," ujar Antonio. "Dia tak punya fondasi fisik seperti yang lain, namun kemampuan, teknik, dan menggiring bola membuatnya menonjol. Gabriel juga memiliki keinginan untuk mencetak gol di setiap latihan."

Ukuran tubuhnya tidak pernah menjadi masalah bagi Ituano. Klub divisi empat dari Itu, sebuah kota berpenduduk sekitar 170.000 orang berjarak satu jam dari Sao Paulo, selalu fokus pada karakteristik lain. “Kami melihat kualitas dan tekniknya," kata Luiz Antonio. "Ada klub di Brasil yang suka bocah yang kuat dan tinggi. Tapi itu bukan kami.”

"Mantan direktur kami, Juninho Paulista, adalah salah satu pemain besar Brasil dan lihat ukuran tubuhnya! Dia menjadi idola di Middlesbrough. Dan Juninho selalu memberi tahu kami, 'Pertama, fokus pada teknik dan kemampuan’," Luiz Antonio menjelaskan.

Bakat Martinelli yang dewasa sebelum waktunya dan keinginannya untuk selalu belajar membuat semua orang terkesan. "Dia sangat berdedikasi," kata Luiz Antonio. “Naik ke kelompok umur satu tahun lebih cepat dari rekan sebayanya. Dia teladan bagi timnya."

Menurut Luiz Antonio, keluarga Martinelli juga sangat mendukung, menanamkan nilai-nilai itu dalam dirinya sejak usia muda. “Saya selalu memuji ayahnya. Bahkan walau tahu putranya pemain yang sangat baik, ayahnya selalu menginginkan lebih. Dia bahkan meminta saya untuk bersikap lebih tegas dan tak segan untuk mengoreksi Martinelli.”

Kini, Martinelli harus beradaptasi dengan negara baru, budaya, bahasa, dan lingkungan kerja - sebuah proses yang tidak selalu sederhana. “Dia (juga) harus jadi lebih baik secara fisik, mengasah tackle, dan mengenali intensitas Liga Primer" ujar Luiz Antonio.


Baca Juga :
- Tertunda, Langkah Arsenal ke 32 Besar
- Inilah Tugas Utama Ljungberg sebagai Karteker

Terakhir, walau karier Martinelli masih seumur jagung, Vinicius percaya Martinelli bisa melakukan apa saja. "Untuk satu atau dua Piala Dunia, mungkin," katanya, bangga. "Dengan Selecao."*NURUL IKA HIDAYATI  

 

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA