#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
ASG 2019
Kisah Pelajar Pohuwato, Luwu Utara, dan Kendal, Merusak Dominasi Sepak Takraw Thailand
23 July 2019 19:04 WIB
SEMARANG - Untuk pertama kalinya Indonesia berhasil meraih medali emas di cabang olahraga sepak takraw ASEAN Schools Games (ASG). Sejarah ini dicatat tim sepak takraw Indonesia di nomor double event.

Dalam penyelenggaraan ASG 2019 di Semarang, skuat double event yang diperkuat Anwar Budiyanto, Diki Apriyadi, dan Jelki Ladada berhasil menumbangkan nama besar Thailand di peta persaingan sepak takraw Asia Tenggara. Di final Indonesia menang dengan skor 2-1. Sejarah yang tidak akan pernah terlupakan buat mereka dan sepak takraw Indonesia.

Barangkali sukses mereka meraih medali emas baru awal dari cita-cita tertinggi di sepak takraw. ASG masih menjadi gerbang awal buat para petakraw ini melangkah lebih jauh dalam mengejar prestasi.


Baca Juga :
- Gestur Jari Tengah dan 'Gorok Leher', Atlet Voli Indonesia Ini 'Dikeroyok' Publik Filipina
- Buntut Keributan Final Piala AFF Futsal 2019, Asisten Pelatih Timnas Indonesia Didenda

Tapi merebut medali emas buat Indonesia tetap sebuah kebanggaan. Apalagi tim sepak takraw Indonesia hanya ditargetkan mendapat medali perak di ASG 2019. Namun ternyata target berhasil dilampaui. Indonesia mendapat 1 medali perak dari nomor tim dan 1 medali emas dari double event.

Sekadar diketahui nomor double event di sepak takraw ini berbeda dengan beregu. Jika beregu pemain yang di lapangan ada 3 orang, sebaliknya dalam double event hanya 2 orang, 1 pemainnya menjadi cadangan. Servis bola double event juga berbeda, karena dilakukan dari belakang.

Bukan tanpa alasan pelatih tim sepak takraw Indonesia di ASG 2019, Setyo Budi, memilih Anwar, Diki, dan Jelki dalam skuat double event. Anwar dinilai paling bagilus dalam posisi pengumpan. Sedangkan Diki dan Jelki punya smes yang presisi dan keras, tentu untuk ukuran dalam tim Indonesia.

Pilihan pelatih terbukti berhasil. Ketiga pemain di usia pelajar tingkat akhir ini mampu melewati satu per satu adangan. Mulai Malaysia di perempat final, Laos di semifinal, sampai Thailand pada partai final. Saat menghadapi Laos dan Thailand, Indonesia harus bermain sampai tie break. Tegang di dalam dan luar lapangan.

Keberhasilan meraih medali emas ini membuat mereka terharu. Doa, usaha, dan dukungan dari semua pihak berhasil dibayar dengan raihan medali emas. Mereka juga mengingat bagaimana sejak kecil sudah berlatih dan mencintai sepak takraw.

“Saya dari Provinsi Gorontalo, tepatnya di Kabupaten Pohuwato. Dari kecil saya sudah suka sepak takraw. Dulu tidak punya bola takraw karena harganya mahal. Jadi saya latihan memakai buntalan kertas yang diikat bulat seperti bola. Setelah itu saya gantungkan agak tinggi dan ditendang-tendang,” kata Jelki Ladada yang menjadi pelapis Diki dalam skuat double event.

“Saya baru saja menelpon orang tua setelah dapat emas ini, mereka menangis terharu karena saya dari kampung yang jauh menyumbang kebanggaan buat Indonesia,” Jelki Ladada, menambahkan.

Cerita lain disampaikan Anwar Budiyanto. Pemain yang dipercaya sebagai kapten tim double event Indonesia di ASG 2019 ini, mengungkapkan sukses merebut medali emas adalah bonus dari ketekunannya berlatih. Petakraw dari Kendal, Jawa Tengah, ini mengaku sudah jatuh cinta dengan sepak takraw sejak kecil.

“Di Kendal ada lumayan banyak klub sepak takraw. Saya juga ikut salah satu klub di sana. Mudah-mudahan medali emas di ASG 2019 ini menjadi awal sukses di sepak takraw,” kata Anwar Budiyanto yang sebentar lagi memasuki gerbang kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut.

Sementara Diki Apriyadi juga punya cerita menarik dari kiprahnya di sepak takraw. Pemuda Luwu Utara, Sulawesi Selatan, itu bertekad bisa melangkah lebih jauh di pentas sepak takraw. Tidak hanya level nasional tetapi juga internasional.


Baca Juga :
- Kondisi Terbaru Evan Dimas Usai Engkel Kirinya Diinjak Pemain Timnas U-22 Vietnam
- Pernyataan Evan Dimas Soal Insiden Injakan Kaki Pemain Timnas U-22 Vietnam

Namun dia akan sabar untuk menjalani proses menuju persaingan tingkat dunia. Ia percaya sukses prestasi tidak didapat dengan mudah. Medali emas di ASG 2019 ini baru menjadi awal dari semua impian.

“Habis dari ASG ini saya akan bermain di Pra-PON 2020 membela tim sepak takraw Sulawesi Selatan. Mimpi saya ingin membela timnas sepak takraw di SEA Games, Asian Games, sampai Kejuaraan Dunia,” ujarnya.*

loading...

BERITA TERKAIT

Penulis
news
Penggemar semua cabang olahraga. Asli Yogyakarta, KTP Sleman, tinggal di Jakarta.
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA