#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Rayakan Countdown Olimpiade, Kota Tokyo Gemakan 1 Year to Go
25 July 2019 09:01 WIB
TOKYO – Hitung mundur satu tahun jelang Olimpiade Tokyo XXXII/2020 dilakukan Rabu (24/7). Dengan kata lain, atlet-atlet terbaik di dunia tak lama lagi berkompetisi dalam pesta olahraga empat tahunan itu. Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach menganggap persiapan kota tersebut on the track.

Hal ini disampaikan Bach dalam acara hitung mundur (countdown) satu tahun jelang Olimpiade 2020. Jika dibandingkan dengan penyelenggara terdahulu, dalam hal ini Rio de Janeiro, Brasil, apa yang dilakukan oleh Tokyo, jauh lebih baik. 

Sebagaimana dilansir Japan Times, kemarin, Tokyo memang langsung berbenah sejak resmi dinyatakan sebagai tuan rumah. Salah satunya dengan merenovasi Tokyo National Stadium yang hingga kini masih dalam tahap pengerjaan.   


Baca Juga :
- Ini CdM Kontingen Indonesia untuk Olimpiade 2020
- Promosi Bidding Olimpiade, Kemenpora Ajukan Rp10 Miliar

Sejak 2016, Pemerintah Kota Tokyo melakukan perombakan. Berlokasi di Shinjuku, kapasitas bangunan ini pun turut mengalami penambahan dari 48 ribu menjadi 80 ribu penonton. Perubahan nama pun dilakukan, yakni New National Stadium.

“Satu tahun menuju Olimpiade, Tokyo sebagai tuan rumah membuat kemajuan yang luar biasa. Sebelumnya, saya tak pernah melihat satu pun kota yang menjadi tuan rumah Olimpiade dengan persiapan sebaik di sini,” ujar Bach, kemarin.

Jika pengerjaan New National Stadium terus dikebut, Panitia Penyelenggara Olimpiade Tokyo (TOGOC) mengatakan, sejumlah venue pertandingan yang akan digunakan tahun depan, telah rampung. Adapun sisanya, sudah memasuki tahap akhir.

Sebut saja, Tokyo Aquatics Center, yang dijadwalkan selesai sepenuhnya, Februari 2020. “Olimpiade satu-satunya acara yang menyatukan dunia dalam kompetisi damai (olahraga). Satu tahun dari sekarang, Jepang akan membuat sejarah,” kata Bach.  

“Mata dunia akan tertuju pada Jepang, negara yang menyuguhkan sejarah dan kaya akan tradisi. Di sisi lain, memiliki beragam inovasi, budaya keramahtamahan, dan tentu saja, cinta dan hasrat Jepang terhadap olahraga,” Bach menambahkan.

Pada kesempatan yang sama, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyebut semangat masyarakat untuk andil dalam Olimpiade, sangat tinggi. Abe pun berharap gelaran ini mampu menyatukan dunia, sekaligus memberi orang peluang yang sama.

"Kami mengalami kerusakan yang luar biasa akibat gempa di Jepang Timur, Maret 2011 lalu. Jadi, saat ini, kami dalam proses pemulihan. Tapi, kami ingin menyampaikan pesan,  terima kasih kepada mereka yang mendukung kami melakukan semua,” ujar Abe.

Rilis Medali

Dalam acara hitung mundur satu tahun, kemarin, TOGOC turut merilis medali yang akan mereka berikan untuk para peraih medali. Yang menarik, semua material yang dipakai dalam pembuatan kepingan itu berasal dari bahan daur ulang.

TOGOC pun mengklaim ini sebagai medali pertama yang ramah lingkungan dalam sejarah Olimpiade. Total ada 32 kilogram emas yang berhasil diekstraksi dari 6,2 juta telepon seluler (ponsel) bekas, sumbangan masyarakat Jepang.

Penggunaan barang bekas dalam pembuatan medali sudah diumumkan Jepang sejak jauh-jauh hari. Selain itu, Jepang pun sudah mendaur ulang 3,5 ton perak dan 2,2 ton perunggu untuk membuat 5.000 medali Olimpiade dan Paralimpiade.


Baca Juga :
- Incar Olimpiade 2032, India Siap Saingi Indonesia
- PABBSI Akan Cereweti Kemenpora Soal Anggaran Olimpaide

Sekadar informasi, metode penggunaan barang daur ulang juga digunakan saat Olimpiade XXXI/2016 Rio de Janeiro. Tapi, tak seluruhnya. Adapun dari sisi desain medali, Jepang menampilkan unsur tradisional Olimpiade pada bagian depan.

Untuk bagian belakang, Jepang hanya menyertakan tulisan “Tokyo 2020”. Sejak 1972, tuan rumah Olimpiade memang diperbolehkan mendesain secara bebas. “Olahraga menyatukan dunia. 55 tahun lalu, kami mempelajari itu,” ujar Abe.*MUHAMMAD RAMDAN DARI BERBAGAI SUMBER

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA