#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Tim Penjaringan Muscab Pengcab TI Kota Bandung tidak Fair
Legenda Taekwondo Bandung Tolak Hasil Muscab
10 August 2019 16:30 WIB
BANDUNG – Pemilihan Ketua umum baru Pengurus Cabang Taekwondo Kota Bandung (Pengcab TI), menyisakan ketidak puasan. Itu  lantaran proses pemilihan dinilai banyak keganjilan terutama dalam hal penjaringan calon ketua umum.

“Penjaringan untuk para calon ketua prosesnnya tidak lazim,  ada beberapa hal yang ganjil bahkan  dipertanyakan oleh sebagian peserta Muscab,” ungkap legenda taekwondo Kota Bandung, Dasantyo Pribadi.

Pada tahun ini kepengurusan Pengcab TI Kota Bandung yang lama berakhir masa baktinya. Pada 4 Agustus 2019 lalu maka dilangsungkanlah Musyawarah Cabang (Muscab) Pengcab TI yang dgelar di FOX Life Haris Hotel Metro Indah Jalan Soekarno Hatta Bandung.


Baca Juga :
- Kejuaraan Han Madang Angkat Kualitas Atlet Daerah
- Timnas Taekwondo Butuh Jam Terbang

Muscab yang digelar hanya sehari itu akhirnya memilih nama  Dedi Heryadi, satu dari tiga calon yang diusung oleh masing-masing unit atau klub taekowondo yang ada di kota Bandung.  Namun, terpilihnya , Dedi berujung kepada ketidak puasan dari para tokoh dan senior olahraga yang satu ini.

“Kami mempertanyakan agendanya itu sendiri, saya menduga ada rekayasa sejumlah persyaratan bagi para calon sehingga menguntungkan dan merugikan seseorang yang tujuannya untuk meloloskan salah satu kandidat,” legenda taekwondo yang akrab disapa Jessi, itu menambahkan.

Jessi menegaskan, diantara persyaratan yang direkayasa oleh panitia pemilihan dan tim verifikasi calon ketua yaitu, tentang jumlah unit yang mendukung masing-masing ketua.

“Dalam hal ini, seorang kandidat harus mendapatkan dukungan minimal 53 unit dan pengumpulan data dukungan itu terkumpul maksimal Juni 2019. Sedangkan, pemberitahuannya terbit pada Juli 2019,” Jessi menegaskan.

Jessi sendiri mengusung, Agus Mulyanto, salah satu kandidat pada pemilihan Pengcab TI Kota Bandung itu.  Menurutnya, saat pencalonan Agus itu, katanya, ada kerancuan pengertian  mengenai suat dukungan dimana asumsinya menjadi surat suara.

“Padahal, bentuk dukunga dan surat suara adalah hal yang berbeda. Lalu, keganjilan pada pemilihan tersebut adalah, pembahasan laporan pertanggung jawaban kepenguruan 2014/2019 yang tidak ada pembahasan. Dalam sebuah muscab harusnya  ada berbagai pembahasan baik mengenai susunan acara, tata tertib persidangan termasuk laporan pertanggung jawaban pengurus yang habis masa baktinya,” Jessi memaparkan.

Senada dengan Jessi,  Bayu Subekti yang juga  legenda taewondo Kota Bandung,  menegaskan, beberapa yang dianggap janggal dalam prosesn pemilihan tersebut salah satunya adalah, batas waktu pendaftaran.

“Beberapa hari sebelum penutupan pendafataran kandidat, kami mengirimkan surat kepada Pengcab TI Kota Bandung yang isinya meminta untuk audensi dengan jajaran pengurus dan unsure pelatih sekaligus para seniornya.

“Salah satu isinya, diantaranya mengenai tanggal pelaksanaan,  sebab calon yang kami usung sedang melaksanakan idabdah haji, tentu saja yang bersangkutan tidak dapat hadir pada pelaksanaan Muscab, sementara kami tidak mendapat jawaban sama sekali dari pengurus TI Kota Bandung,” beber Bayu.

Bayu menambahkan,  saat melakukan pendaftaran, untuk pencalonan Agus Mulyanto, tidak ada yang kurang sedikit pun. Menurutnya, dokumen yang disertakan pada saat itu meliputi dukungan dari 53 unit lebih dan terekap dalam 17 surat.

“Tetapi, begitu diverifikasi panitia justru mengugurkan pencalonan Pa Agus. Panitia beralasan hanya 17 unit yang mendukung padahal kenyataannya ada 53 lebih dan itu kami rekap dari 17 surat dukungan,” Bayu menegaskan lagi.

Karena hal itu, kata Bayu, seluruh insane taekwondo Kota Bandung, merasa dipermainkan dengan proses pemilihan ketua yang akhirnya memilih Dedi Heryadi.


Baca Juga :
- SEA GAMES 2019 - Timnas Taekwondo Sudah Capai 70 Persen
- Turunkan Pelapis, Taekwondo Bidik 4 Emas di SEA Games 2019

“Karena prose situ dianggap ganjil dan banyak keraguannya, maka kami atas nama senior taekwondo Kota Bandung termasuk tokohnya menolak  hasil Muscab pada tanggal 4 Agustus,  sebab sistem dan tata cara yang tidak sesuai ADA/ART,” ungkap Bayu. *

 

loading...

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA