#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Dybala Kembali Moncer Kalau Diberi Peran Istimewa Ini
20 August 2019 13:58 WIB
TURIN – Situasi Paulo Dybala di Juventus FC saat ini bisa dibilang sebuah enigma. Sulit memahami alasan manajemen klub yang ngotot ingin menjualnya demi keuntungan finansial. Padahal, penyerang internasional Argentina itu bisa jadi solusi lini depan I Bianconeri di era Maurizio Sarri. Tak perlu melirik Mauro Icardi atau striker lain, Dybala sebenarnya punya potensi jadi pemain “nomor 9” yang menakutkan.

Kemenangan 1-0 dalam uji coba di markas US Triestina, akhir pekan kemarin, jadi bukti. Tampil sekitar satu jam sebagai false 9, Dybala mampu menghadirkan ancaman konstan di pertahanan lawan. Dia bahkan muncul sebagai pahlawan lewat gol semata wayang yang dicetak secara brilian: mengontrol bola dengan tumit, mengecoh bek lawan, sebelum mencongkel bola melewati jangkauan kiper.

Inilah kualitas La Joya yang seolah dilupakan petinggi Juve sepanjang musim panas. Terlepas segala kekurangannya, Dybala tetap salah satu mesin gol terbaik Juve. Jika mendapat penanganan yang tepat, dia akan muncul sebagai monster di pertahanan lawan. Semakin ideal ketika Sarri datang sebagai pelatih anyar Si Nyonya Tua. Juru taktik 60 tahun itu dikenal piawai melakukan adaptasi dan perubahan peran pemain, terutama penyerang.


Baca Juga :
- Ronaldo Menangis Melihat Klip Video Ayahnya
- Dua Wajah Madrid jelang lawan PSG

Rekam jejaknya bisa terlihat semasa menangani SSC Napoli dan Chelsea FC. Dries Mertens muncul sebagai false 9 yang sangat produktif mencetak gol, sedangkan Eden Hazard juga kian berbahaya setelah diberikan kebebasan bergerak di lapangan, kadang sampai ujung tombak. Eksperimen sukses tersebut juga bisa terjadi kepada Dybala, dari sosok yang kerap jadi figuran menuju panggung utama.

Statistik tak berbohong. Lihat bagaimana perkembangan Mertens dan Hazard setelah diberikan peran lebih sentral oleh Sarri: mereka memainkan 5-6 bola di area lawan perlaga, melepaskan beberapa tembakan di kotak penalti tiap 90 menit. Bandingkan dengan Dybala yang hanya mencatat 3,3 sentuhan di area bersama Massimiliano Allegri, dan 1,4 tembakan ke gawang. Selain itu, Dybala juga jarang membombardir gawang secara konstan, sering ditarik mundur untuk menjaga penguasaan bola.

Dengan peran “nomor 9”, semua itu akan berubah. Dybala bisa memperlihatkan semua kualitasnya dalam meneror kotak penalti: mulai dari pergerakan, kecepatan dribel, teknik, sampai penyelesaian akhir. Bermain dengan Cristiano Ronaldo pun takkan jadi masalah karena alih-alih bertabrakan, keduanya akan saling melengkapi. Dalam hal ini, metode Sarri lah yang akan jadi kunci.

Khedira Bertahan


Baca Juga :
- Update Klasemen Liga Italia Serie A Pekan Ketiga, Minggu Dini Hari WIB
- Capello: Pacuan Scudetto Terjadi Tiga Arah

Tak cuma Dybala, Sami Khedira pun gencar dikabarkan jadi korban pembersihan Juve di musim panas. Namun, penampilan solid selama pramusim membuat Sarri terkesan dan berniat menjadikan gelandang asal Jerman itu salah satu pilar lini tengah. Khedira punya pengalaman dan kualitas yang vital bagi filosofi Sarrismo.

“Berusia 32 tahun, dan hanya tampil 17 kali musim lalu karena cedera. Banyak alasan meragukan saya. Namun, saya yakin bisa bersaing dan memberi kontribusi penting buat Juve. Saya masih punya mimpi Liga Champions yang belum terwujud di sini,” ujar Khedira. “Bertahan karena uang? Itu tuduhan menyakitkan. Saya hanya ingin sukses bersama Juve.”* Dari berbagai sumber

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA