#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Ducati Berpacu dengan Waktu untuk Sempurnakan GP19
20 August 2019 11:50 WIB
BOLOGNA - Tim Mission Winnow Ducati masih bekerja keras untuk memperbaiki masalah yang ada pada Desmosedici GP19. Meskipun memiliki kinerja yang lebih baik, tapi motor tetap sulit dikendalikan saat melibas tikungan. Direktur Teknis Ducati Davide Barana mengklaim bahwa pekerjaan itu akan membutuhkan waktu yang lama.

Duet pembalap tim pabrikan Ducati, Andrea Dovizioso dan Danilo Petrucci, kerap mengeluh saat mereka berlomba di trek dengan banyak tikungan. Kelemahan mereka terlihat jelas saat berada di Sirkuit Assen, Belanda, yang memiliki karakter stop and go. Begitu juga saat di Sirkuit Sachsenring, Jerman, yang memiliki banyak tikungan panjang kecepatan tinggi.

“Kami menyadari performa di tikungan adalah area yang perlu terus ditingkatkan. Tetapi, penting bagi kami untuk tetap fokus meningkatkan area yang menjadi kekuatan kami selama ini. Pasalnya, jika Anda berkonsentrasi pada satu area, maka risiko kehilangan kekuatan di area lainnya bakal semakin besar,” kata Barana.


Baca Juga :
- Penggemar Rossi Cemooh Marc Marquez di Podium San Marino, tapi Pembalap Spanyol Itu Cuek
- Tarik Ulur Kalender Balap MotoGP

Salah satu kekuatan Ducati adalah mereka memiliki kecepatan yang baik di trek lurus. Namun, hal tersebut sudah mulai diantisipasi oleh para rival. Seperti Tim Repsol Honda yang membuat kecepatan maksimal Honda RC213V semakin meningkat.

“Membuat kinerja motor semakin baik di tikungan membutuhkan proses panjang. Sayang, proses uji coba kami masih gagal. Ini memerlukan waktu sedikit lebih lama karena Anda harus menguji untuk membutikan bahwa itu benar-benar efektif dan mulai ke langkah berikutnya. Ini bukan masalah karena kami ingin ke level berikutnya,” ucap Barana.

Mengenai Honda yang semakin mendekati kecepatan puncak Ducati, Barana mengatakan bahwa lebih mudah membangun mesin yang kuat. Menurutnya, pekerjaan Ducati saat ini adalah membuat desain sasis yang cocok dengan karakter Desmosedici agar motor lebih baik saat di tikungan tetapi tidak menghilangkan kekuatan alaminya.

“Saat awal Ducati bergabung di MotoGP pada 2003, kami memiliki solusi berbeda dengan para rival soal desain sasis. Pada periode itu, sulit itu membandingkan dengan yang lain karena ada perbedaan besar. Mulai 2013, kami mulai mengikuti cara kerja tim-tim lain. Sejak saat itu kami terus mengembangkan sasis dan mesin secara bersamaan,” ujar Barana.

Dovizioso saat ini tertinggal 58 angka dari Marc Marquez, pembalap Tim Repsol Honda yang memimpin klasemen dengan 230 poin. Pada delapan putaran tersisa di musim ini, pembalap asal Italia itu menegaskan bahwa dirinya bakal berusaha keras untuk meraih banyak kemenangan. Meski sulit untuk melewati raihan poin Marquez, tapi ia yakin masih ada peluang untuk meraih gelar.

“Peluang juara masih terbuka, dan masih ada banyak perlombaan tersisa. Tapi di satu sisi masa depan tidak akan banyak berubah, karena Marc telah memperlihatkan potensi terbaiknya di banyak perlombaan. Dia lebih kompetitif daripada tahun lalu. Jadi, saya memprediksi dia akan tampil kuat di setiap trek. Ini akan sangat sulit,” ujar Dovizioso.


Baca Juga :
- MotoGP Italia 2019 Bukan Zona Nyaman Marc Marquez
- Dovizioso Beruntung Bisa Turun di GP San Marino

Pada delapan lomba tersisa, Marquez hanya perlu finis di podium jika ingin meraih gelar MotoGP keenam. Tetapi, jika melihat kinerja andalan Repsol Honda itu di tahun-tahun sebelumnya, ia memiliki rekor yang bagus di beberapa trek tersisa.

“Kami terus meningkatkan motor. Kemenangan terakhir (GP Austria) didapatkan berkat kerja keras kami yang konsisten. Jadi kami tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Saya ingin menjaga harapan ini tetap hidup,” kata Dovizioso.*MUHAMAD FADLI RAMADAN DARI BERBAGAI SUMBER

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA