#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Tentang Sun Tzu, Senjata, dan Sport Science
21 August 2019 14:46 WIB
EVEN the finest sword plunged into salt water will eventually rust. Begitu kata ahli perang asal Cina Sun Tzu. Itu dikatakannya beberapa ratus tahun silam. Bila diterjemahkan, kira-kira bunyinya akan seperti ini; “Bahkan pedang terbaik, jika dicelupkan ke dalam air garam pada akhirnya akan berkarat.”

Penggalan kata ini tercermin dalam cara timnas Indonesia U-18 tampil dalam Piala AFF U-18 2019, di Vietnam pada 7-20 Agustus lalu. Kesalahan menggunakan senjata, berakibat vatal. Hal tersebut tergambar dalam pertandingan melawan Malaysia pada babak semifinal, di mana lapangan pertandingan cukup licin.

Saya jadi teringat dengan pertandingan babak delapan besar Piala Asia U-16 2018 di Malaysia. Ketika itu, setengah jam sebelum pertandingan melawan Australia, hujan turun dengan derasnya di Stadion Bukit Jalil. Awalnya, saya berpikir,  hujan jadi kode alam bahwa Indonesia akan menang. Mestakung. Semesta mendukung.


Baca Juga :
- Timnas Malaysia U-18 Berlatih dan Tur Uji Coba ke Timur Tengah
- Juara Piala AFF U-18 2019, Australia Samai Rekor Thailand

Nyatanya, Indonesia kalah dengan skor 2-3. Permainan anak-anak Garuda Muda tak buruk, walau juga tak bisa dibilang garang. Istilah jago becek, yang biasanya jadi becandaan jika tidak cemoohan untuk “keahlian” pemain Indonesia, sama sekali tak tercermin. Lapangan basah malah mengganggu permainan tim asuhan Fakhri Husaini itu.

Sedangkan beberapa jam menjelang pertandingan melawan Malaysia, yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, hujan turun di Provinsi Binh Duong, di Stadion Go Dau. Lapangan pertandingan pun menjadi basah dan licin. Masalahnya, tak banyak pemain timnas Indonesia U-18 yang membawa sepatu dengan pul enam.

Mereka dominan membawa sepatu bola dengan pul 12. Padahal, untuk bertanding di lapangan lembut, basah, atau licin, sepatu pul enam lebih cocok. Utamanya, pijakan jadi lebih kuat dan saat melakukan sprint lebih menggigit. Istilahnya, pemain tidak akan mudah terjatuh karena kondisi lapangan yang tidak ideal.

Fakhri mengakui, banyak di antara pemain asuhannya yang tidak membawa sepatu pul enam. Sebaliknya, mayoritas pemain Malaysia menggunakan sepatu pul enam. Bagi pemain bola, sepatu adalah senjata utama selain kecerdasan intelektual. Ketika salah memilih jenis senjata, walau itu senjata terbaik, hasilnya niscaya tak maksimal.

Seusai pertandingan yang berakhir dengan skor 3-4 itu, Fakhri mengakui pemainnya salah memilih senjata. “Rata-rata, hampir sebagain besar pemain tidak punya sepatu pul enam, sehingga beberapa kali kalah adu sprint dengan pemain-pemain Malaysia. Itu menguras stamina pemain,” kata Fakhri saat wawancara dengan TopSkor.

Pada pertandingan tersebut, Malaysia juga bermain ekstrarapat. Ada kalanya mereka menunggu sambil pressing, ada kalanya pula melakukan serangan terstruktur. Polanya selalu sama dan mirip. Satu hal lainnya, semua pemain Malaysia menggunakan rompi GPS (Global Positioning System).

Bila diamati dengan seksama, Malaysia selalu menyerang lewat sayap kanan dalam lima menit, lewat kiri selama lima menit, lantas lewat tengah selama 10 menit, dan kemudian menunggu di pertahanan dalam 10 menit. Ternyata, semua pola itu menyesuaikan dengan angka-angka yang diperlihatkan GPS.

Menurut pelatih fisik timnas Indonesia U-18, yang lisensi kepelatihannya diambil di Malaysia, sport science benar-benar diterapkan, karena mereka sadar kalah segalanya dari Indonesia. Mengutip Sun Tzu, Malaysia menerapkan falsafah, “Pemenang adalah mereka yang tahu kapan harus bertarung dan kapan tidak bertarung.”*Abdul Susila


Baca Juga :
- Fakhri Akan Mencari Pemain Baru untuk Timnas U-18
- Suasana Tim dan Rencana Timnas U-18 Setelah Takluk dari Malaysia

 

 

loading...

BERITA TERKAIT

news
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA