#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
INFOGRAFIS
Madrid Paham Bagaimana Mengelola Superstar
23 August 2019 05:39 WIB
MADRID – Real Madrid masih terus berjuang untuk bisa mendatangkan Neymar Junior. Padahal, sejatinya awalnya presiden Florentino Perez lebih menyukai Kylian Mbappe, dan kebutuhan utama yang diinginkan pelatih Zinedine Zidane adalah seorang pemain tengah. Namun perjuangan Madrid saat ini cukup beralasan, sebab Neymar bisa sangat menguntungkan klub.

Perez adalah yang pertama memahami bahwa sepak bola akan didominasi oleh pamasaran. Tepatnya di zaman Los Galacticos. “Ada beberapa pemain yang yang membayar gajinya sendiri,” katanya terkait perekrutan superstar seperti Luis Figo, Ronaldo Nazario, Zidane (ketika masih jadi pemain), dan David Beckham. Waktu terus berlalu dan membuktikan bahwa anggapan itu benar. Ya, Madrid paham benar bagaimana mengelola megabintang.

Kehadiran Neymar jelas meningkatkan kekuatan tim. Tajinya tak perlu dipertanyakan lagi, baik itu saat membela FC Barcelona (2013-2017) maupun di Paris Saint Germain (PSG). Bersamaan dengan itu, dia juga menjadi magnet pemasaran. Menurut Forbes, Neymar atlet berpenghasilan tertinggi ketiga di dunia, di bawah Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Berbagai merek ternama melekat dalam diri pemain Brasil itu.


Baca Juga :
- Benedetto, Kunci Marseille Bersaing dengan PSG
- Atletico Masih Tumpul

Nike, Red Bull, EA Sports, Mastercard, Gaga Milano, Gillette, Beats By Dre atau DAZN membuat Neymar menghasilkan 27 juta euro (sekitar Rp437 miliar) per tahun. Itu mewakili 29 persen dari total penghasilannya, meski tahun ini ia berada di urutan 12 sebagai pesepak bola terbaik (Ballon d’Or). Rasionya bahkan sangat fenomenal saat masih di Spanyol.

Sebelum di PSG, yang sekarang menggajinya 37 juta per bulan, apa yang didapatkan penyerang 27 tahun ini dari iklan mewakili 61 persen penghasilannya. Sebagai perbandingan, Messi dan Ronaldo punya persentasi 27 dan 40 persen. Jelas kehadirannya di Santiago Bernabeu kelak bisa meningkatnya value dari Madrid.

Sejak era Los Galacticos, klub ibu kota punya kebiasaan memberikan 50 persen dari hasil hak citra ke pemain. Alhasil peningkatan pendapatan dari iklan pun turut melejit. Semisal, jika Neymar punya kesepakatan 10 juta dengan Nike, makan nanti akan ada tambahan sejuta ke akunnya. Dengan berbagai sponsor yang ada, itu memangkas pengeluaran klub.

Total sang pemain menghasilkan 27 juta dari iklan, maka Los Merengues akan memastikan setoran tunai 50 persen; 13,5 juta euro. Angka itu jelas bisa lebih tinggi lagi sebab Neymar-Madrid adalah “produk” besar yang bisa mengundang pemasukan lain. Alhasil sebagian gajinya pun sudah bisa ditangani dari sana. Citra kedua pihak pun akan saling terdongkrak.

Namun, niat Perez itu tak mudah untuk direalisasikan. Penawaran yang mereka layangkan untuk mendapat pemain lulusan Akademi Santos itu terus ditolak. Termasuk yang teranyar ada 100 juta euro, plus menyertakan tiga pemain sekaligus; Gareth Bale, James Rodriguez, dan Keylor Navas, yang perannya tak lagi diinginkan (kecuali nama pertama yang mulai berubah).

Kendati begitu, Madrid masih lebih unggul daripada pesaingnya Barca, merujuk peraturan keuangan ECA (Asosiasi Klub Eropa); Total masa gaji klub tak boleh melebihi 70 persen pendapatan operasional. Saat ini Madrid punya rasio 57 persen; pengeluaran gaji 430 juta untuk 811 pekerja (280 juta untuk tim utama), pendapatan operasinya 751 juta.


Baca Juga :
- Mourinho Tolak Madrid demi Tottenham
- ​​​​​​​Suarez Sebutkan Tiga Nama Penerusnya di Barca

Kehadiran Neymar yang punya gaji 37 juta (kotor 70 juta) hanya meningkatkan rasio ke angka 66 persen. Sementara di Barca, jika nantinya berhasil mengembalikan bintangnya itu dengan nilai gaji yang sama seraya kini, maka akan terjadi pelonjakan. Rataaannya menjadi 77 persen; 529 juta dari total gaji (303 juta untuk tim utama) dari pendapatan 686 juta.*** TAUFANI RAHMANDA DARI BERBAGAI SUMBER

 

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA