#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Striker Sheffield United Tempuh Rute Sulit untuk Sampai di Liga Primer
05 September 2019 15:26 WIB
SHEFFIELD - David McGoldrick sangat menikmati masa remajanya. Pada Agustus 2004, di usia 16 tahun, striker Sheffield United FC dan timnas Republik Irlandia itu menandatangani kontrak dengan Southampton FC dan mendapati dirinya bertugas merawat sepatu bola seniornya, Peter Crouch. Terutama karena tugas itu bukannya tanpa imbalan menarik.

“Saya memang bekas boot boy-nya Crouchy (sapaan Crouch). Saya dulu yang membersihkan sepatunya," kata McGoldrick mengakui, sambil tersenyum. “Dia biasanya akan memberikan saya imbalan 40 paun (sekitar Rp700 ribu) sebulan dan setiap kali dia mencetak gol dia memberi saya paling banyak satu tenner (setara 10 paun). Dan itu berlanjut meski dia pindah ke Liverpool.”

Crouch memang tidak melupakan bocah pembersih sepatunya. Saat mencetak 15 gol di Liverpool tahun itu, mantan striker timnas Inggris itu bahkan menyempatkan diri bertemu juniornya tersebut, memberikan hadiah beberapa lembar tenner, lalu bahkan mengajak McGoldrick untuk menikmati perayaan Natal di luar kompleks latihan.


Baca Juga :
- Sheffield Siapkan Serangan Balik
- Perjudian Pelatih Everton Membuahkan Hasil

“Waktu Natal, Crouchy datang dan bertanya apakah saya ingin bonus atau apakah saya ingin dia mengajak saya keluar malam? Saya menjawab: ‘Saya ingin keluar malam bersama Crouchy', jadilah saya keluar malam itu bersama Crouchy. Dia membuat saya mabuk, lalu saya pulang ke rumah (sambil terbahak-bahak).”

Pada saat itu bisnis serius di Southampton adalah soal pembinaan dan pengembangan talenta muda, dengan McGoldrick salah satu dari bibit unggul bernilai setengah juta pound yang diakusisi dari Nottingham County FC. Tapi, remaja 16 tahun itu dengan cepat menemukan bahwa akademi The Saints telah dipenuhi sejumlah bintang berbakat.

Di antaranya Adam Lallana dan Theo Walcott yang disebut McGoldrick memiliki bakat alami dan paling unggul di antara yang lain. Dan Gareth Bale yang awalnya pendiam, lalu pada suatu musim panas dia kembali seperti seorang pria dewasa. “Saat itu Gareth menjelma menjadi monster seperti yang belum pernah saya lihat," ujar McGoldrick.

Sementara, bagi McGoldrick, dia harus mengambil rute yang jauh lebih berputar ke arah tempat dia sekarang, akhirnya mendapatkan pengalaman hidup di papan atas dengan Sheffield United FC pada usia 31. Untuk itu, dia berutang budi pada Mick McCarthy, bekas pelatihnya di Ipswich Town FC yang merekomendasikannya kepada pelatih The Blades, Chris Wilder.

“Bagi Mick, memberikan referensi baik tentang saya pada Chris bukanlah sesuatu yang remeh karena seperti itulah dia,” ujar McGoldrick. "Mick pelatih yang memisahkan antara urusan pribadi dan kerjaan. Ketika tiba saatnya serius, Anda tak melewati batas karena Anda tahu konsekuensinya. Itu tipe pelatih terbaik bagi saya, secara pribadi.”

Ciri khas yang menentukan dari kedua pria itu, McGoldrick berpendapat, adalah mereka melihat McGoldrick dan kawan-kawan sebagai manusia, bukan hanya pemain sepak bola. "Ketika Anda memiliki seorang pria yang menghargai hidup Anda, Anda akan menghormatinya, bahkan, kalau perlu, Anda berlari menembus dinding bata untuknya."


Baca Juga :
- Pemain Spurs Mendukung Pochettino
- Tottenham Masih Suram

Yang pasti, selama bertahun-tahun setelah dia debut profesional, saat berurusan dengan boot boy-nya sendiri di Sheffield, McGoldrick tidak lupa bagaimana dulu dia melalui masa itu. “Tepat sekali," katanya. "Karena bocah itu adalah anak seseorang di pengujung hari dan jangan sampai Anda menunjukkan sikap yang tidak hormat kepada mereka," ucap McGoldrick.*NURUL IKA HIDAYATI

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA