#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Menyimak Daftar Tesis 23 Pelatih yang Baru Saja Lulus Lisensi AFC Pro
10 September 2019 00:14 WIB
UNTUK pertama kalinya PSSI, mereka menggelar program kursus lisensi pelatih AFC Pro. Lisensi tertinggi di bidang kepelatihan ini diselenggarakan pada 2018-2019. Ini merupakan kepercayaan besar yang diberikan AFC.

Pada angkatan pertama ada 23 pelatih yang mengikuti program ini. Soal biaya pastilah mahal. Tapi sebanding dengan lisensi yang didapatkan. Karena dengan memegang lisensi tertinggi itu, pelatih bisa menangani klub manapun, negara manapun di seluruh kolong jagat.

Kursus dimulai pada April 2018, berakhir Maret 2019. Dari 23 peserta, 3 diantaranya berasal dari luar negeri. Terhitung 2 dari Malaysia dan 1 dari Jepang.


Baca Juga :
- Komentar Pelatih Kalteng Putra Setelah Dipastikan Degradasi
- Indra Sjafri Diminta Istirahat, Bagaimana Nasib Fakhri Husaini?

Lantaran baru pertama kali diselenggarakan PSSI, tidak heran bila pelatih kawakan masih turut serta. Ada nama-nama seperti Emral Abus, Bambang Nurdiansyah, sampai Mundari Karya. Mereka tidak canggung untuk sama-sama menimba ilmu dengan pelatih yang lebih muda.

Kursus diselenggarakan dalam 8 modul. Dengan rentang yang berbeda-beda. Salah satu modul diselenggarakan di Spanyol. Hasilnya 23 peserta kursus dinyatakan lulus. Seremonial kelulusan diselenggarakan di Jakarta, Jumat 6 September 2019.

Bukan perkara mudah buat peserta untuk mendapatkan ijazah dari kursus tersebut. Selain harus tertib mengikuti setiap modul, juga ada kewajiban menyusun tesis. Masih ada lagi paper untuk menganalisis suatu pertandingan.

Dari daftar judul tesis yang didapatkan TopSkor.id, beragam tema diangkat para pelatih. 

Widodo C. Putro, pencetak gol terbaik Piala Asia 1996, menjadi orang yang gelisah dengan minimnya kesempatan striker lokal bersaing di tengah gempuran penyerang asing. Hal itu terlihat dari judul tesis yang mengulas efek dari minimnya kesempatan penyerang lokal buat Timnas Indonesia.

Kegelisihan teknis sepertinya juga dirasakan mantan pelatih Semen Padang FC, Syafrianto Rusli. Ia mengangkat tesis dengan tema mengapa kebanyakan pemain Indonesia memiliki reaksi yang salah dalam situasi bertahan. Akibatnya pelanggaran menjadi lebih dominan dalam sistem bertahan.

Sedangkan Wolfgang Pikal yang sekarang menjadi asisten pelatih Persebaya mengangkat tema bagaimana idealnya program pemandu bakat di Indonesia. Hal itu dirasakan masih belum ideal, mengingat belum banyak pemandu bakat profesional turun memantau potensi pemain di Indonesia.

Jadi pasti akan menarik mengulas tersendiri isi dari tesis dari Wolfgang Pikal. Karena bagaimana pun setiap pegiat sepak bola harus menjawab pertanyaan, mengapa mencari 11 pemain terbaik di Indonesia saja susah, padahal ada lebih dari 250 juta jiwa penduduknya.

Lain lagi dengan tesis dari Joko Susilo. Mantan pelatih Arema FC itu coba mengulas taktik yang sedang menjadi tren di Liga 1. Ia lantas menganalisisnya demi pengembangan dan menemukan kekurangan serta kelebihannya.

Dari semua tesis yang disusun para peserta, bisa dikatakan menjadi benda berharga yang wajib disimpan dan dijaga. Sebab hal itu menjadi kekayaan intelektual buat mereka dan PSSI.

Peran Penerjemah
Dalam pelaksanaan kursus lisensi pelatih AFC Pro kemarin, peran penerjemah memegang peran vital. Hal itu disebabkan tidak semua peserta memiliki kemampuan Bahasa Inggris mumpuni. 

Kemampuan Bahasa Inggris memang penting, tapi tidak menjadi yang utama. Pelatih sekelas Luis Milla pun tidak bisa berbahasa Inggris. 

Oleh karena itu peran penerjemah menjadi sangat penting. Dalam kursus kemarin peran penerjemah dijalankan Dzulfikri Bashari. Dia adalah pelatih sekaligus Direktur Akademi PS Tira Persikabo.

Banyak cerita diutarakannya selama mengawal jalannya kursus. Pada intinya dia bersyukur bisa ikut berperan dalam meluluskan banyak pelatih berlisensi AFC Pro di Indonesia.

"Saya merasa terpanggil untuk membantu para pelatih terbaik ini dengan menjadi translater di kursus AFC Pro Diploma," katanya. 


Baca Juga :
- Sampai di Indonesia Nama Shin Taeyong Tidak Disebut Segamblang di Manila
- Eks Pelatih Timnas Indonesia U-19 Resmi Dikontrak Klub Malaysia, Sabah FA

"Itu karena masih sulitnya mencari pelatih dengan kemampuan berbahasa inggris yang baik di Indonesia."

"Tapi buat saya pribadi dengan mengikuti kursus ini selama setahun, secara tidak langsung ikut mempelajari apa saja yang mereka dapatkan dalam kursus AFC Pro. Semoga ke depannya makin banyak pelatih berkualitas yang muncul di Indonesia," tuturnya.*Ari DP

loading...

BERITA TERKAIT

Penulis
news
Penggemar semua cabang olahraga. Asli Yogyakarta, KTP Sleman, tinggal di Jakarta.
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA