#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Butuh Penyerang Muda dan Segar untuk Mendukung Beto
12 September 2019 15:39 WIB
JAKARTA - Striker naturalisasi Alberto ‘Beto’ Goncalves memang sempat memberikan asa bagi timnas senior Indonesia. Namun dua golnya ke gawang Malaysia tidak cukup bagi tim asuhan Simon McMenemy ini menggapai hasil positif dalam memulai petualangan di Pra Piala Dunia (PPD) Qatar 2022.

Lini serang Indonesia tak bisa berbuat banyak. Kecepatan di sektor sayap yang selalu digadang jadi kekuatan pasukan Garuda juga tak dominan terlihat. Yang ada, pola permainan tidak jelas.

Beto yang sudah berusia 38 tahun, tak bisa terus-terusan menjadi tumpuan tunggal di lini depan. Teknik dan insting membunuhnya masih oke, tapi tidak dengan staminanya. Terlihat, Beto kerap mulai kedodoran ketika pertandingan memasuki 60 menit ke atas.


Baca Juga :
- Inilah Hasil Evaluasi Timnas Senior oleh PSSI
- Daftarkan 40 Nama untuk SEA Games, Timnas U-23 Mulai TC 1 Oktober

“Ya saya lihat dalam dua laga itu seperti itu. Terlalu bergantung pada Beto dan Lilipaly. Sepak bola kan tidak bisa selalu menggantungkan pada satu dua orang. Tapi Permainan tim,” kata mantan striker timnas Budi Sudarsono.

“Indonesia harus belajar dari Thailand yang bermain secara tim. Mereka main sabar, simpel. Sementara kita kan mainnya bola-bola panjang, ke kanan ke kiri. Tanpa sadar itu bikin pemain cepat lelah sehingga sudah habis sebelum 90 menit.”

Sudah begitu, Simon tak memiliki opsi yang mentereng dan melimpah di lini depan. Selain Beto, Simon memang menyertakan striker naturalisasi lainnya yakni Osas Saha dan Ferdinand Sinaga. Namun keduanya juga tak cukup membantu mempertajam lini depan timnas karena menit bermain yang tak maksimal.

Persoalan ini menurut Budi harus jadi perhatian Simon ke depannya jika masih diberi tanggungjawab memimpin tim. Menurutnya, Simon seharusnya lebih berani mengambil keputusan memanggil striker yang lebih muda, segar, dan bertenaga. Dikatakan Budi, ini juga sebagai langkah menyiapkan pemain yang tidak hanya berguna untuk saat ini tapi juga beberapa tahun ke depan.

Meskipun ia sadar betul, ajang sekelas PPD bukan tempat untuk melakukan sejumlah eksperimen apalagi coba-coba. Namun Budi hanya mencoba bersikap realistis tapi juga tak menghilangkan rasa optimistis terhadap skuat Indonesia bisa lebih baik.

“Ya tidak ada salahnya mungkin kasih kesempatan beberapa pemain muda merasakan atmosfer di tim senior untuk fase pematangan mereka. Memberikan jam terbang intinya,” kata Budi. “Karena terkadang, kalau anak muda dikasih kesempatan kerap tampil lebih dari seniornya. Lebih fight.”

Dalam skuat timnas, sebenarnya Simon masih mempunyai opsi untuk menurunkan penyerang sayap cepat andalan timnas era Luis Milla, yaitu Febry Hariadi. Namun, entah kenapa winger Persib Bandung itu hingga kini belum juga diturunkan.


Baca Juga :
- FIFA Farmel Siap Rasakan Atmosfer Liga TopSkor, Play-off LTS U-16 Dimulai Hari Ini
- Kisah Wasit Terbaik Asia, dari Iran Sempat Disewa Indonesia, Sekarang Pilih Migrasi ke Australia

Adapun winger lainnya, yakni Saddil Ramdani yang tampil bagus saat melawan Malaysia justru hanya dipercaya bermain setengah babak. Begitupun saat menghadapi Thailand. Padahal, pemain sayap Pahang FA ini tampil lebih efektif dan kerap melancarkan umpan-umpan tajam ke jantung pertahanan lawan. Dengan dukungan pemain-pemain muda yang punya kecepatan di sekitarnya, tentu akan mempermudah kerja Beto sebagai ujung tombak timnas.*FURQON AL FAUZI

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA