#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Timnas Biasa Memanggil Kiper yang Membawa Klubnya ke Papan Atas
12 September 2019 12:49 WIB
JAKARTA - Kekalahan telak 0-3 dari Thailand di kandang pada pertandingan kedua Pra Piala Dunia (PPD) 2022, Selasa (10/9) lalu meninggalkan luka yang cukup pedih. Ini adalah kekalahan kandang terbesar Indonesia atas rivalnya tersebut sepanjang sejarah pertemuan kedua tim.

Menyalahkan individu terutama pemain memang bukan sesuatu yang bijak. Namun pelatih timnas Indonesia Simon McMenemy adalah orang yang paling bertanggung jawab atas dua hasil buruk yang didapat dari Malaysia dan Thailand.

Mungkin, tidak ada satupun lini yang tidak mendapat koreksi. Semua harus dibenahi. Mulai sektor penjaga gawang, lini belakang, hingga depan. Kebobolan enam gol dalam dua laga kandang beruntun jelas menjadi mimpi buruk, khususnya bagi kiper dan kapten timnas Indonesia Andritany Ardhiyasa.


Baca Juga :
- Inilah Hasil Evaluasi Timnas Senior oleh PSSI
- Daftarkan 40 Nama untuk SEA Games, Timnas U-23 Mulai TC 1 Oktober

Performa penjaga gawang Persija tersebut pun menjadi sorotan tajam. Bagol, sapaannya, dianggap belum kembali dalam performa terbaiknya saat membela timnas di PPD. Alhasil, tak sedikit yang mengkritik dan menyudutkannya sebagai biang kekalahan.

Mantan penjaga gawang timnas Ferry Rotinsulu pun turut mengomentari. Menyalahkan kiper seorang diri sejatinya juga tidaklah bisa dibenarkan. Ferry memandang kekalahan dari Malaysia dan Thailand harus dilihat dari kacamata luas.

“Yang jelas, Andritany sudah memberikan yang terbaik. Tinggal tergantung 11 pemain yang tampil di lapangan bagaimana,” kata Ferry kepada TopSkor. “Bisa jadi juga ada faktor kelengahan dari pemain belakang, tengah, dan depan sebelum gol terjadi. Dan kita juga harus tahu sendiri kebobolan itu prosesnya seperti apa. Jadi tidak juga kita menyudutkan kiper yang harus selalu disalahkan.”

Meski begitu, Ferry sendiri memang sedikit mempertanyakan perihal keputusan Simon dalam menentukan komposisi penjaga gawang. Ferry mengisahkan, sejak eranya dulu bahkan ke belakang, penjaga gawang yang dipanggil ke timnas adalah mereka yang tampil bagus dan membawa klubnya berada di papan atas, bukan atas nama besar. Sementara Andritany bersama klubnya di Persija sedang berjuang keras meninggalkan zona degradasi.


Baca Juga :
- FIFA Farmel Siap Rasakan Atmosfer Liga TopSkor, Play-off LTS U-16 Dimulai Hari Ini
- Kisah Wasit Terbaik Asia, dari Iran Sempat Disewa Indonesia, Sekarang Pilih Migrasi ke Australia

“Di jaman saya dulu, dari mas Hendro (Kartiko), Jendri (Pitoy), Kurnia (Meiga), itu biasanya yang dipanggil itu siapa yang membawa klubnya di papan atas, mereka yang layak. Sekalipun dia masih muda, tapi kalau dia bisa tampil bagus dan konsisten di klub kenapa tidak diberikan kepercayaan. Bukan berarti jika klubnya di papan bawah tidak layak buat dipanggil,” kata Ferry.

Namun menurut Ferry pasti ada perbedaan dari sisi psikologis jika para pemain yang datang ke timnas setelah mengantarkan timnya tampil bagus di kompetisi. “Kriteria dari setiap pelatih tentang atribut pemain yang dibutuhkan itu kan berbeda-beda. Siapapun yang dipanggil itu berarti kan memang yang terbaik menurutnya,” ucap Ferry. “Semua kiper pasti ingin berkompetisi, bersaing jadi nomor satu.  Siapa si yang enggak mau dipanggil timnas. Dan yang memberikan terbaik di klubnya itu juga pasti ingin bermain untuk timnas.”***FURQON AL FAUZI

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA