#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Petarung MMA Indonesia Terapkan Demokrasi dalam Kehidupan Sehari-hari
13 September 2019 18:02 WIB
JAKARTA - PBB pada tahun 2009, menetapkan 15 September sebagai Hari Demokrasi Sedunia. Peringatan tersebut diadakan untuk mengkaji berbagai penerapan demokrasi di dunia, selain juga mempromosikan dan menegakkan demokrasi serta berbagai prinsip yang menyertainya. 

Tahun ini, PBB menetapkan tema “Partisipasi” untuk peringatan Hari Demokrasi Sedunia; karena demokrasi dibangun atas dasar inklusi atau keterlibatan, perlakuan yang setara dan partisipasi. Seluruh elemen tersebut sangat penting untuk membangun perdamaian, pembangunan berkelanjutan, dan penegakan HAM. 

Dua atlet ONE Championship Indonesia – Rudy “The Golden Boy” Agustian dari divisi flyweight dan Anthony “The Archangel” Engelen dari divisi featherweight – berbagi pengalaman, pandangan, serta harapan mereka tentang demokrasi.


Baca Juga :
- Hadapi Adrian Mattheis, Stefer Rahardian Pertaruhkan Segalanya 
- Egi Rozten Nantikan Laga ONE: Dawn Of Valor di Jakarta

Rudy mengenal konsep demokrasi semasa sekolah dasar. “Pertama kali saya kenal istilah demokrasi adalah waktu SD saat pemilihan ketua kelas dan wakil. Sejak saat itu saya baru tahu apa itu demokrasi, dimana pemilihan-pemilihan ketua organisasi pun dilakukan dengan azas demokrasi,” kata atlet sasana Golden Camp Muay Thai ini.

Hal serupa juga dialami oleh Anthony. “Saat sekolah dasar kita diperkenalkan pada demokrasi. Saat akan memutuskan sesuatu yang sulit, misalnya, maka suara terbanyak akan menang. Lalu masa SMA belajar tentang pencetus demokrasi, azas trias politica, semuanya sangat menarik,” ujar atlet yang bernaung bersama Bali MMA ini.

Lalu bagaimana para petarung ini menerapkan demokratis praktis di lingkungan terdekat mereka?

Dalam kesehariannya, “The Golden Boy” menjunjung dan menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. “Saya orang yang sangat menghormati demokrasi; baik dalam berkawan, menentukan pilihan, ataupun berkeluarga,” ungkap Rudy. 

“The Archangel” punya pandangan yang berbeda dan lebih militan soal penerapan demokrasi di lingkungan latihan atlet. “Menurut saya, tidak terlalu banyak suasana demokrasi dalam sebuah sasana. Saya pikir, memang seharusnya tidak ada demokrasi di sasana," katanya. 

Apa harapan mereka untuk penegakan demokrasi di Indonesia? 


Baca Juga :
- Shinya Aoki Siap Tunjukkan Keterampilan sebagai Raja Submission
- Tiga Kali Masuk Kamar Operasi, Petarung Wanita Ini Masih Bandel

Rudy menyampaikan opini kritis tentang penegakan demokrasi di Nusantara. “Saya harap Indonesia makin sadar pentingnya demokrasi, tidak hanya sebatas kenal dan tahu saja; tapi dipahami dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuh atlet yang Mei lalu bertandung di ONE: FOR HONOR di Jakarta.

“Jangan seolah-olah melaksanakan demokrasi, tetapi memotong "lidah" orang-orang yang merugikan pihak tertentu. Demokrasi yang sehat selalu memiliki tanda, kuatnya partisipasi warga negaranya. That’s the real democracy, so there will be no demo-crazy,” pungkas Rudy Agustian.*

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA