#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Sebanyak 12 Pentolan Ultras Juve Ditangkap
18 September 2019 13:06 WIB
TURIN – Ketika gairah suporter dinodai tangan-tangan dari organisasi kriminal maka akan menimbulkan rasa takut. Inilah sekelumit kisah tifosi garis keras Juventus FC. Bentrokan dikhawatirkan pecah dalam pertandingan lawan Hellas Verona, Sabtu (21/9).

“Laga Sabtu nanti merupakan yang paling diawasi. Sebab akan hadir dua kubu tifosi dengan ideologi berbeda. Risiko meningkat sekarang karena reaksi mereka bisa ditebak,” kata Kepala Kepolisian Turin Giuseppe De Matteis.

Untuk meminimalisir potensi kericuhan, bukan hanya polisi yang waspada, tapi Kejaksaan Turin juga bergerak dengan agresif. Mereka melakukan investigasi kelompok-kelompok ultras Juve setelah mendapat laporan dari klub, yang tak ingin kasus ‘Alto Piemonte’ terulang. Puluhan spanduk dan benda berbahaya lain disita. Ada 12 pentolan grup suporter garis keras (Drughi, Tradizione-Antichi Valori, Viking, Nucleo 1985 dan Quelli di Via Filadelfia) ditangkap.


Baca Juga :
- Ketegangan dengan Sarri Berakhir, Ronaldo Ngaku Cedera
- Juventus Tanpa Lisensi di Gim Football Manager 2020

Ini merupakan langkah lanjutan dari operasi Last Banner yang lahir pada 19 Juni 2018. Hari itu,  Juve, Alberto Pairetto, akhirnya melapor kepada polisi tentang intimidasi yang didapatkannya dari suporter selama bertahun-tahun. Mereka meminta disediakan 130 tiket gratis, tapi hanya bisa dipenuhi 80. Selain itu, ada permintaan untuk melakukan bisnis gelap di stadion.

Presiden I Bianconeri , Andrea Agnelli, mendukung Pairetto mencabut semua keistimewaan. Keputusan itu menimbulkan reaksi keras dari beberapa kelompok di atas. Dari 111 halaman laporan investigasi yang berlangsung selama 15 bulan dan 225 pembicaraan telepon, terdeteksi banyaknya ancaman kepada klub.

Pihak pengadilan menekankan keberanian klub melaporkan hal ini dan tidak ada hubungannya dengan protes di awal musim lalu, baik karena harga tiket yang mahal dan kembalinya Leonardo Bonucci. Dalam kasus ini timbul nama Dino Mocciola, pemimpin kelompok ultras Drughi, sudah pernah masuk penjara di awal ’90-an karena pembunuhan saat merampok seorang polisi. Dialah calo yang mengurus harga tiket yang membengkak (satu tiket Final Liga Champions di Berlin dijual kembali dengan harga 1.800 euro (sekira Rp27,9 juta).


Baca Juga :
- Diragukan Pelatih Juventus, Ronaldo Malah Cetak Hattrick Bersama Portugal
- Ini Bukan Periode Terburuk Ronaldo

Dari antara 12 orang yang ditangkap, juga ada nama Umberto Toia dari Gruppo Tradizione dan mantan Drughi, Salvatore Cava. "Kami tidak melakukan tindakan kekerasan, orang ini yang meningkatkan amarah kami", ujar Cava sambil menunjuk Pairetto pada tanggal 21 Juni 2018.* Dari berbagai sumber

 

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA