#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Cabor Berharap Status Tersangka Menpora Tak Ganggu Psikologis Atlet
19 September 2019 08:00 WIB
JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi sebagai tersangka kasus kick back dana hibah KONI Pusat. Berdasarkan keterangan, Rabu (18/9), KPK menduga Imam menerima suap sebesar Rp26,5 miliar.

Hal ini menjadi tamparan keras bagi olahraga Indonesia sebab sepanjang sejarah, sudah dua Menpora yang tersangkut kasus korupsi. Pada 2011, Andi Alfian Mallarangeng masuk bui lantaran terkait proyek Pusat Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (P2SON) di Hambalang, Bogor.

Penetapan status tersangka terhadap Menpora membuat beberapa pengurus cabang olahraga (cabor) khawatir. Pasalnya, ini terjadi kurang dari tiga bulan jelang SEA Games XXX/2019 Filipina. Fakta bahwa anggaran kontingen menjadi ranah Kemenpora, bukan tak mungkin mengganggu pencairan.


Baca Juga :
- Toyota Indonesia Majukan Dunia Olahraga Nasional Lewat Semangat Start Your Impossible
- Atlet Lari Gawang Ini Ingin Kalahkan Senior

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (PB POBBSI) Robby Suarly mengatakan masalah ini berpotensi menimbulkan dampak psikologis untuk atlet maupun ofisial. Ia pun berharap, jangan sampai hal tersebut mengganggu persiapan cabor.

Pasalnya, di sisi lain, Indonesia ditargetkan mampu memperbaiki posisi dalam klasemen mendali SEA Games. “Semoga semuanya bisa tetap fokus, meskipun muncul kasus seperti ini. Hasil yang diraih (atlet maupun cabor) harus tetap maksimal,” ujar Robby kepada wartawan, kemarin.

Hal senada dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI), Achmad Budiharto. Pihaknya menyayangkan jika Imam benar-benar terlibat dalam perkara kick back dana hibah KONI Pusat yang bergulir pada akhir tahun lalu.

Pasalnya, selama lima tahun kepemimpinannya, tata kelola olahraga Indonesia menuju ke arah lebih baik. Menpora juga membuat beberapa terobosan seperti Program Latihan Performa Tinggi (HIPOP) yang dipegang oleh masing-masing cabor. Hal ini membuat program latihan nasional, maksimal.

Yang tak kalah penting, bonus peraih medali emas, mengalami peningkatan. Belum lagi kemudahan atlet-atlet berprestasi menjadi aparatur sipil negara (ASN). “Jujur, saya tidak menyangka kalau kasus ini akhirnya mengarah pada penetapan Menpora sebagai tersangka,” Budi menuturkan.

Pengurus Pusat Persatuan Sambo Indonesia (PP Persambi) mengaku galau dengan status tersangka yang kini disandang Menpora. Krisna Bayu selaku ketua umum, menyebut pihaknya sedang membutuhkan anggaran untuk mengirimkan atlet training camp (TC) di Uzbekistan.

“Kami baru saja bertemu Menpora untuk membahas rencana TC ke Uzbekistan. Selain itu kami juga berencana ikut Kejuaraan Asia di India serta Kejuaraan Dunia di Korea Selatan (Korsel). Namun, sekarang, Beliau ditetapkan tersangka. Itu jelas membuat kami khawatir,” ucap Bayu.

Dalam keterangan pers di kediamannya yang terletak di Jl. Widya Chandra, Jakarta, Menpora membantah telah menerima suap Rp26,5 miliar. Namun, pria asal Bangkalan, Madura, itu menegaskan bakal mematuhi proses hukum. Sekadar informasi, Imam absen tiga kali panggilan penyelidikan.

Ia pun menegaskan sudah menyampaikan materi-materi kepada pimpinan KPK. “Saya berharap, (penetapan status) ini bukan sesuatu yang bersifat politis. Saya akan menghadapinya dan tentu kebenaran nantinya akan terbuka,” ujar politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.


Baca Juga :
- Menpora Imam Nahrawi Mundur, Acara Pamitan Sudah Digelar
- 91 Insan Olahraga Menerima Penghargaan Pada Puncak Haornas 2019

Saat ditanya apakah pihaknya akan mengajukan Pra-Peradilan, Menpora mengaku tahu sebab saat mengadakan konferensi pers, belum membaca apa yang disangkakan KPK. “Sekali lagi, saya berharap tak ada unsur di luar hukum sebagai penetapan saya sebagai tersangka,” Imam menambahkan.

Adapun kasus kickback dana hibah Kemenpora ke KONI Pusat sudah menyeret beberapa nama. Sebut saja, Deputi IV Kemenpora bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Mulyana, eks Sekretaris Jenderal (Sekjen) KONI Pusat, Ending Fuad Hamidy, dan Asisten Pribadi (Aspri) Menpora, Miftahul Ulum.*KRISNA C. DHANESWARSA

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA