#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Mantan Wakil Perdana Menteri Italia Sebut Milan Pantas Ditertawakan
23 September 2019 08:04 WIB
MILAN – Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami AC Milan pasca dibungkam FC Internazionale dalam Derby della Madonnina.  Skuat asuhan Marco Giampaolo mendapat cibiran dari suporter. Selama tiga tahun, mereka selalu menelan pil pahit di hadapan Inter.

Salah satu yang melontarkan komentar tajam adalah mantan Deputi Perdana Menteri Italia Matteo Salvini. Dia berkomentar, “Tim Milan ini pantas ditertawakan. Baru pertama kali, saya meninggalkan stadion sebelum derbi usai. Saya memutuskan sudah cukup ketika Lucas Biglia melepaskan tendangan bebas ke Curva Sud. Dulu saya selalu menyalahkan Gennaro Gattuso, tapi sekarang saya mulai berpikir itu bukan kesalahannya. Mungkin bukan pelatih yang bisa mengubah sesuatu.”

Salvini menyuarakan kekecewaan tifosi akan performa Milan. Di hadapan Inter yang makin digdaya, mereka malah bermain tanpa nyawa. Padahal seharusnya persiapan lebih maksimal karena tidak ambil bagian di kompetisi Eropa.


Baca Juga :
- Milan Pertegas Tidak Akan Jual Pemain
- Sanchez Kembali ke Lapangan pada 2020

Situasi dimana beberapa pemain bisa membalikkan keadaan, seperti prediksi Chief Football Officer (CFO) Zvonimir Boban, tidak terlihat. Statistik tembakan ke gawang menceritakan dengan jelas kondisi ini, di mana rasionya 2 banding 10. Permainan bagus I Rossoneri hanya bertahan 45 menit awal.

Sementara situasi yang dibicarakan oleh Boban, hanya ada dua kali: sundulan Krzystof Piatek dan permainan Suso. Pastinya saat ini ide Giampaolo, yang berbasis skema 4-3-1-2, sangat sulit diterapkan pemain Milan, begitu juga dengan sikap para pemain. Tanpa sikap sinis di area tiga perempat, Alessio Romagnoli dan kawan-kawan tak akan mendapatkan hasil maksimal. Dua kekalahan dalam empat laga Seri A 2019/20, hanya menang lawan tim kecil, Brescia Calcio dan Hellas Verona, tentu menimbulkan tanda tanya.

Setelah pertandingan, pelatih mengakui adanya masalah dan pada saat yang sama berusaha membela timnya. “Sulit menerima kekalahan dalam derbi, apalagi laga dimainkan secara seimbang, hanya dihambat oleh beberapa tendangan bebas. Saya tidak suka situasi 15 menit terakhir tapi secara keseluruhan tim tampil lebih baik. Selain itu kami tidak kompak, memiliki reaksi gol negatif, terlalu emosional. Kami harus selalu terlibat di dalam pertandingan, begitu juga dalam momen sulit,” Giampaolo menuturkan. “Kami membayar perbedaan jarak yang lebar dengan Inter.”

Di luar kesalahan beberapa pemain yang mengambil alih pekerjaan orang lain tanpa diinstruksikan pelatih, ada sosok yang menuai decak kagum. Rafael Leao mungkin satu-satunya yang mendapat pujian pada debutnya sebagai starter.


Baca Juga :
- Milan Bisa Berharap kepada 3P
- Kemampuan Skriniar Mulai Diragukan

“Saya sangat menyukai Leao, seorang pemain yang memiliki kemampuan ideal, gesit dan cepat. Dia harus belajar bagaimana berada di dalam pertandingan ini. Leao memiliki personalitas,” kata Giampaolo.

Selama 83 menit permainan Rafa, ada cross dan akselerasi di sayap kiri lapangan. Faktor itu sudah cukup meski belum ada gol. Memang tidak bisa diharapkan gol dalam setiap debut tapi pemain bintang tidak tumbuh dan berkembang hanya dengan duduk. Ini sudah menjadi awal yang bagus.* Dari berbagai sumber

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA