#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Tak Perlu Panik, Situasi Spurs Saat Ini Nyaris Sama dengan Awal Musim Lalu
03 October 2019 15:21 WIB
LONDON – Tahun lalu, 3 Oktober di Stadion Wembley, di hadapan pendukungnya Tottenham Hotspur kalah 2-4 dari Barcelona dalam laga kedua penyisihan grup Liga Champions. Ketika itu, gol cepat Philippe Coutinho (kini di Bayern Muenchen) saat laga memasuki menit ke-2 sudah mengoyak gawang Spurs.

Tiga gol Barcelona lainnya masing-masing diciptakan Lionel Messi (dua gol) dan Ivan Rakitic. Kini, setahun kemudian, tepatnya Selasa (1/10) atau Rabu dini hari WIB, Tottenham kembali dipermalukan di hadapan pendukung sendiri, kali ini oleh Bayern Muenchen.

Kekalahan tersebut bahkan lebih memalukan karena gawang pasukan Mauricio Pochettino dikoyak tujuh kali. Kekalahan di Stadion Tottenham Hotspur itu pun mencuatkan kritikan, lebih tajam dibandingkan kekalahan setahun lalu dari Los Azulgrana.


Baca Juga :
- Tottenham: Allegri No, Mourinho Yes!
- Manchester United dan PSG di Barisan Depan Berburu Pochettino

Tottenham Sink atau Tottenham Tenggelam. Begitu salah satu pers Inggris mengomentari kekalahan Harry Kane dan kawan-kawan dari Muenchen. Pertanyaannnya kemudian, apakah mereka mampu bangkit dari situasi yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan musim lalu itu? Ya, ada dua kesamaan antara awal musim lalu dan awal musim ini yang terjadi di Tottenham.

Tapi, kekalahan pada awal musim lalu tersebut dalam ajang Liga Champions faktanya malah membuat Spurs semakin terlecut, hingga mereka bangkit. Setelah kalah dalam dua laga awal penyisihan musim lalu, Pochettino memang berhasil membuat pasukannya meraih poin di semua laga sisa: imbang lawan PSV Eindhoven, menang dua kali beruntun atas PSV dan FC Internazionale, lalu imbang di kandang Barcelona pada laga terakhir penyisihan grup.

Yang menarik kemudian, Tottenham pun berhasil lolos ke fase knockout. Dalam putaran ini, mereka mengalahkan Borussia Dortmund dengan meyakinkan baik kandang dan tandang di 16 besar. Lalu, di perempat final, Tottenham bahkan menyingkirkan Manchester City dengan keunggulan gol tandang.

Begitupun dalam semifinal saat mengalahkan klub asal Belanda, Ajax Amsterdam. Dan, Tottenham berhasil ke final meski kemudian kalah dari klub senegara, Liverpool. Karena itu, fakta bahwa mereka memang kalah telak dari Muenchen. Meski demikian, melihat situasi yang terjadi musim lalu, Pochettino masih memiliki peluang untuk mengulang pencapaian 2018/19 tersebut.

Poche tampaknya menyadari situasi tersebut. Pria asal Argentina ini menerima semua efek dari kekalahan yang telak dari raksasa Jerman tersebut. “Saya tahu bahwa ini adalah momen untuk tetap bersama,” kata Pochettino, dalam konferensi persnya setelah kekalahan tersebut. “Yang paling penting saat ini adalah kami harus tetap bersama,” dia menegaskan lagi.

Ya, sulit bagi Pochettino untuk menganalisis secara pasti apa yang terjadi dengan timnya dalam laga tersebut. Muenchen, faktanya memang berhasil memanfaatkan kelemahan timnya. Sebagai pelatih, situasinya saat ini memang sangat tidak ideal. Ini pula yang membuat isu pemecatan terhadap dirinya semakin kencang, khususnya setelah kekalahan telak ini. Namun, Spurs tampaknya akan tetap mempertahankan pria 47 tahun ini.

Tapi, selama posisinya masih terus aman, mantan pelatih Espanyol ini harus melakukan perubahan di sejumlah sektor. Setidaknya, ada lima perubahan yang dapat dilakukan Tottenham. Pertama adalah memberikan kesempatan kepada sejumlah pemain baru seperti Giovani Lo Celso dan Ryan Sessegnon. Keduanya memang belum fit benar tapi kemungkinan sudah siap 100 persen setelah laga internasional (timnas).

Meski masih beradaptasi dengan Liga Primer, tapi dengan kehadiran pemain yang lebih segar akan memberikan harapan kepada fan. Di sisi lain, dari sisi strategi dan kekuatan, kehadiran keduanya akan memberikan kejutan bagi lawan. Pasalnya, setelah sekian lama Spurs di bawah kepelatihan Pochettino, kekuatan tim ini sudah sangat mudah terbaca. Dengan Lo Celso dan Sessegnon, Spurs setidaknya memiliki sesuatu yang baru.

Dan, ini baru lima bulan lalu ketika Tottenham menikmati sukses mereka ke final. Tim yang ketika itu mendapatkan banyak pujian meski akhirnya gagal menjadi juara. Namun, fakta bahwa pencapaian tersebut memberikan efek psikologis bagi pasukannya. Tottenham sudah dikenal sebagai tim yang memiliki tradisi “puas” meski gagal menjadi juara. Setidaknya, itulah yang salah satu judul dari pers Inggris, Telegraph.


Baca Juga :
- Tottenham Kejar Mourinho, Calon Kuat Pengganti Pochettino
- Leroy Sane Merapat ke Muenchen, Manchester City Sebut Coman Pengganti Sempurna

Intinya, Tottenham harus move on. “Kekalahan ini sangat memalukan, kami harus melupakan sebagai tim yang pernah berhasil ke final,” kata gelandang Tottenham, Erik Lamela, yang dalam pertandingan ini tampil sebagai pemain cadangan. Faktor lain yang harus diubah adalah peran dari Dele Alli. Saat lawan Muenchen, pemain timnas Inggris ini tampil dalam pertandingan ketiganya sebagai starter sepanjang musim ini.

Karena itu, sulit bagi pemain 23 tahun tersebut untuk kembali menyesuaikan irama dan kondisinya. Namun, Poche tampaknya harus mulai memberikan porsi yang lebih banyak kepada pemain ini untuk tampil sebagai starter dalam pertandingan selanjutnya.*

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA