#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Kesalahan Konyol Benamkan Leipzig
04 October 2019 13:16 WIB
LEIPZIG - Dua kesalahan mendasar membuat RB Leipzig tidak mampu merebut poin dari tamunya, Olympique Lyonnais. Bertanding di Grup G Liga Champions di Red Bull Arena, Rabu (2/10) malam, Leipzig kalah 0-2.

Musim ini, Die Roten Bullen sejatinya siap bersaing merebut gelar Bundesliga. Enam laga awal mereka lalui tanpa kekalahan. Tapi, pada pekan ketujuh di markas sendiri, Sabtu (28/9) lalu, Leipzig justru menyerah 1-3 dari FC Schalke 04.

Pelatih Julian Nagelsmann berdalih kekalahan timnya dalam dua laga beruntun hanya “kecelakaan”. Para pemain Leipzig banyak melakukan kesalahan di dua sektor sekaligus, buruk dalam penyelesaian akhir dan banyaknya kesalahan pemain saat bertahan.  


Baca Juga :
- Utang Setan Merah Kian Menumpuk
- Memphis Depay Diincar Banyak Klub, Lyon Prioritaskan Tawaran dari Manchester United

Untuk gol pertama pada menit ke-11, misalnya. Dayot Upamecano dan Ibrahima Konate sering di luar posisi dalam formasi tiga bek. Puncaknya, sapuan Konate yang tidak sempurna disambar Houssem Aouar. Gelandang Lyon itu lantas mengoper ke Memphis Depay yang lalu dengan dingin menaklukkan kiper Peter Gulacsi.

Gol kedua juga tidak lepas dari kesalahan bek Leipzig. Nordi Mukiele membiarkan bola melaju hingga ke ujung kotak penalti. Ia tidak tahu jika Martin Terrier ada di dekat situ dan langsung menyambarnya dan menjadi gol pada menit ke-65.

Gaya menyerang Leipzig sebetulnya sangat baik. Dari 17 tembakan, delapan di antaranya tepat target. Bandingkan dengan Lyon yang hanya enam kali tepat sasaran dari 11 tembakan. Leipzig juga 58 persen mengontrol bola dalam laga tersebut.

Namun, dua kesalahan dilakukan striker Timo Werner dalam penyelesaian akhir. Pada menit kesembilan, sebuah sentuhan ringan (tap-in) Werner tidak sempurna. Lalu, 12 menit berselang, Werner melewati dua pemain Lyon dan tinggal berhadapan dengan kiper Anthony Lopes. Tapi, tembakannya masih melebar.

Melawan Lyon, Nagelsmann memang menurunkan skuat muda dengan rata-rata usia 22,7 tahun. Usia Upamecano dan Konate pun masing-masing baru 20 tahun sedangkan Mukiele 21 tahun. Adapun Werner baru 23 tahun.

Kendati begitu, Nagelsmann membantah efektivitas atau permainan yang efisien permainan dipengaruhi usia atau pengalaman. “Di duel Bayern Muenchen versus Tottenham, banyak pemain tua juga melakukan kesalahan. Efektivitas bukan masalah di sini. Efisiensi lebih penting,” ucap pelatih 32 tahun itu.

Sekali lagi, pengalaman terbukti vital di kompetisi seketat dan seberat liga Champions. Lyon, klub Ligue1 (Prancis), tercatat 16 musim turun di Liga Champions, termasuk kali ini, dalam hampir dua dekade terakhir (sejak 2000/01). Bandingkan dengan Leipzig yang baru dua kali turun di Liga Champions.


Baca Juga :
- Gol ke Gawang Olympiacos Memiliki Arti bagi Lewandowski
- Update Klasemen Liga Champions, Kamis Dini Hari WIB, Banyak Tim Sudah Lolos

Leipzig baru didirikan pada Mei 2009, atau setahun sebelum Lyon menorehkan pencapaian tertinggi di Liga Champions, semifinalis pada 2009/10. Tapi, mereka langsung menggebrak Bundesliga dengan finis kedua pada musim debut di kompetisi tertinggi Jerman tersebut, 2016/17.

Ungkapan Nagelsmann soal timnya tidak salah. Tapi, di kompetisi seperti Liga Champions, teknik dan pengalaman menjadi faktor signifikan untuk sukses.*TRI CAHYO NUGROHO DARI BERBAGAI SUMBER  

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA