#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
INFOGRAFIS
Era Spurs di Bawah Pochettino Terancam Berakhir
04 October 2019 16:21 WIB
LONDON - Sekitar empat bulan lalu, Tottenham Hotspur membuat sejarah klub dengan menembus final Liga Champions untuk kali pertama. Ironisnya, kini Spurs jatuh hingga ke titik terendah. Tidak hanya takluk 2-7 dari FC Bayern Muenchen di depan pendukung sendiri, Stadion Tottenham Hotspur. Kekalahan memalukan ini menegaskan krisis yang tengah dialami The Lilywhites musim ini.

Sepekan sebelumnya mereka disingkirkan klub kasta keempat liga di Inggris, Colchester United, lewat adu penalti pada putaran ketiga Piala Liga. Ini menutup satu peluang Spurs meraih gelar pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Rentetan hasil negatif ini memunculkan asumsi bahwa siklus sukses Tottenham yang dibangun pelatih Mauricio Pochettino sejak 2014/15 kini telah berakhir. Pelatih asal Argentina itu sendiri ikut bertanggung jawab atas keterpurukan Spurs musim ini. Ia terkesan tidak fokus lagi pada pekerjaannya.


Baca Juga :
- Konsisten dengan Pilihan Pemain dan Taktik Jadi Rahasia Sukses Sheffield
- Utang Setan Merah Kian Menumpuk

Pochettino dikenal sebagai pelatih yang dekat dengan pemain. Tapi, dia seperti menjaga jarak dengan skuat Tottenham sejak kembali dari liburan musim panas. Pria 47 tahun ini dikabarkan mulai jarang memimpin latihan dan lebih memilih menonton dari pinggir lapangan saat para asistennya sibuk menangani para pemain.

Salah satu penyebabnya adalah kekecewaan Pochettino atas kebijakan transfer Spurs. Keinginannya mendapatkan bintang-bintang musim panas lalu tak dipenuhi Presiden Daniel Levy yang terkenal hemat dalam berbelanja. Gelandang Tanguy Ndombele yang dibeli dengan rekor transfer termahal 65 juta paun (sekira Rp1,14 triliun) dinilai belum cukup.

Pochettino telah membuktikan potensi besarnya sebagai pelatih dengan membawa Tottenham ke final Liga Champions musim lalu. Karenanya, kini dia merasa sudah saatnya untuk mulai meraih gelar dan ambisi tersebut hanya bisa diwujudkan dengan bantuan para pemain kelas dunia. Tapi, Levy tidak memberikan itu.

Terlepas dari keterpurukan Tottenham musim ini, sangat kecil kemungkinan Levy memecat Pochettino. Pasalnya, mantan pelatih RCD Espanyol ini masih terikat kontrak hingga 2023 dan Spurs harus membayar kompensasi 32 juta paun jika melakukan PHK di tengah jalan.

Kendati demikian, Levy mungkin tidak keberatan melepas Pochettino jika ada klub yang menawarnya. Jika itu terjadi, Tottenham yang justru bakal mendapatkan kompensasi. Manchester United (MU) dan Real Madrid CF adalah dua klub yang disebut-sebut meminati mantan bek tengah Paris Saint Germain (PSG) tersebut.

Keluhan Pochettino soal materi skuat Tottenham juga melukai para pemainnya. Sebab, secara tidak langsung dia mengatakan personel yang ada saat ini tidak bisa diandalkan untuk meraih gelar. Pochettino mungkin benar, tapi ucapannya bisa diintrepretasikan sebagai pengkhianatan oleh para pemain yang selama ini telah membantunya membangun reputasi sebagai salah satu pelatih terbaik di Eropa.

Pada saat yang sama sejumlah pemain yang jadi kunci sukses Tottenham musim lalu juga ingin hengkang. Selain karena ambisi meraih trofi, keinginan mereka juga dipicu harapan akan gaji yang lebih besar. Maklum, kebanyakan bintang Spurs saat ini dibayar terlalu rendah.

Gelandang serang Christian Eriksen adalah yang paling santer diisukan ingin pergi musim panas lalu. Tapi, keinginan itu tidak terwujud lantaran Levy memasang banderol terlalu mahal bahkan cenderung konyol, 225 juta paun.

Bukan hanya Eriksen yang ingin pergi, tapi juga sejumlah pilar Spurs lain seperti Alderweireld, Jan Vertonghen, dan Danny Rose. Nafsu Levy untuk meraup keuntungan besar membuat para pemain itu urung pergi. Dengan begitu, dia telah mempertahankan pemain yang tidak lagi ingin membela Tottenham. Ini tergambar lewat performa buruk mereka di lapangan.

Mantan striker Tottenham Dimitar Berbatov berharap eks klubnya bisa segera menemukan jalan untuk keluar dari krisis ini. “Ini situasi yang sulit diprediksi. Jika pelatih atau pemain kecewa, mereka bisa bicara kepada presiden klub dan mencari solusinya,” kata Berbatov. “Anda tidak akan mau punya pemain atau pelatih yang tidak mau bertahan.”


Baca Juga :
- Striker Muda MU Ini Kembali Tajam
- Pasukan Klopp Berpotensi Masuk Kelompok Elite Liga Primer

Berbatov berharap Tottenham bisa langsung bangkit saat dijamu Brighton & Hove Albion pada pekan kedelapan Liga Primer di Stadion The American Express Community, Sabtu (5/10). “Mereka harus menunjukkan reaksi karena sangat berat secara mental untuk mempersiapkan diri setelah kalah 2-7,” katanya.*RIJAL ALFURQON DARI BERBAGAI SUMBER

 

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA