#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
INFOGRAFIS
Bos Inter Vs Juventus, Siapa Lebih Kaya dan Populer?
07 October 2019 14:25 WIB
MILAN – Ketika Suning mendarat di Italia, Juni 2016, langsung terlihat tim mana yang akan jadi penantang terkuat Juventus FC. Bukan SSC Napoli, AS Roma atau AC Milan, melainkan FC Internazionale. Kedua klub papan atas Seri A itu sama-sama bertujuan memperkenalkan brand mereka secara global.

Untuk mencapai target itu, tentu saja dibutuhkan pendanaan yang kuat. Setelah era Erick Thohir tamat, datang ‘pemain baru’ di dunia sepak bola. Keluarga Zhang berusaha menggoyang kedudukan Juve dengan mendatangkan pemain hebat serta merekrut dua figur yang berjasa besar mengangkat prestasi I Bianconeri: Antonio Conte dan Giuseppe Marotta.

Ambisi besar kedua klub tak lepas dari profil pemimpin yang masih muda. Andrea Agnelli, 43 tahun, mengambil alih I Bianconeri yang  mengalami kemunduran pada 2010. Dia berhasil membalikkan keadaan bahkan menyulap jadi sebuah ‘perusahaan’ berpendapatan setengah miliar euro (sekira Rp7,8 triliun) dengan 900 karyawan.


Baca Juga :
- Dibekukan Maurizio Sarri, Pemain Ini Tuntut Perubahan di Juventus
- Selama di Bergamo, Gasperini Sering Beruntung lawan Juve

Tak puas sampai di situ, pengusaha tersebut melebarkan kekuasaannya dengan menjadi Presiden Asosiasi Klub Eropa (ECA) dan berada di jajaran petinggi UEFA.

Sementara itu, di kubu I Nerazzurri, ada Steven Zhang. Pria 28 tahun itu duduk di kursinya sejak 2018 karena campur tangan sang ayah, Zhang Jindong. Walaupun begitu, dia tidak mau menjadi boneka yang tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu, presiden klub Seri A termuda tersebut berusaha keras mempelajari semua dari nol. Maklum saja, sebelum keluarganya memiliki klub sepak bola, dia tidak suka dengan olahraga tersebut.

Untung saja dia memiliki pengetahuan soal manajemen yang sangat membantu dalam mengelola Inter. Dalam prosesnya, Zhang Jr. menemukan kesenangan dan tantangan. Dia pun terpilih dalam dewan direksi ECA. Kedua orang nomor satu tersebut memiliki segudang ide untuk masa depan sepak bola sehingga dapat menarik lebih banyak penggemar di era digital ini.

Selain masih muda, kesamaan lain dari kedua pemimpin klub itu adalah didukung perusahaan keluarga. Sebanyak 63,77 persen saham Juve dimiliki Exor, perusahaan milik keluarga Agnelli dengan pendapatan 143 miliar euro hasil dari investasi di banyak sektor: otomotif (Fiat-Chrysler, Ferrari), perusahaan asuransi hingga publikasi (Economist).

Suning Holdings, yang mengontrol 68,55 persen saham Inter, merupakan pemain lama di bidang penjualan daring. Mereka meraup pemasukan hingga 77 miliar euro, yang berasal dari perdagangan perangkat rumah tangga, real estate, aktivitas keuangan dan entertainment (TV berbayar).

Perusahaan asal Cina itu telah menyuntikkan 500 juta euro dengan cara menambah modal dan pinjaman. Mereka meraup 100 juta euro pertahun dari sponsor, di mana beberapa datang dari Suning sendiri dengan partner-nya di Asia.

Setelah modal meningkat jadi 120 juta euro pada 2011, Exor kembali mendukung si Nyonya Besar dengan rekapitalisasi 300 juta euro sesuai rancangan perkembangan musim 2019/24.

Tak bisa dipungkiri, saat ini masih ada gap antara olahraga dan bisnis, yang menggambarkan beda ukuran dalam ekonomi. Inter dan Juve sedang berkembang, memasuki dimensi baru dengan Cristiano Ronaldo.

Media Sosial


Baca Juga :
- Demi Pertahankan Tahith Chong, Manchester United Ajak Sang Pemain Bicara Empat Mata
- Kabar Terkini dari Inter, Alexis Sanchez Bisa Kembali Lebih Cepat dari Jadwal

Antara Inter dan Juve terdapat selisih 100 juta euro dari sisi pendapatan (494 Juve, 375 Inter, pendapatan modal bersih). Media sosial kini juga bisa jadi salah satu tolok ukur popularitas klub. Dari 60 juta pengikut di media sosial: Juve 84,2 miliar, sedangkan Inter baru 23,7 miliar.

Juve telah memperbarui kontrak dengan Adidas (23-51 juta euro). Sedangkan Inter diikat oleh Nike hingga 2024.*

loading...

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA